20/11/2014
Harga BBM naik pasti berdampak pada kenaikan berbagai kebtuhan termasuk terutama kebutuhan 9 bahan pokok yang merupakan kebutuhan rutine tiap orang.
Persoalannya, kenaikan harga bahan kebutuhan pokok seperti beras, ikan, ayam, telor, daging, cabe, bawang, kelapa, gula dan sebagainya itu tidak serta merta ikut menaikkan harga di tingkat petani, nelayan,atau peternak.
Tani dan nelayan kerapkali justru yang paling menanggung beban atas kenaikan harga. Tani dan nelayan justru kerap menelan kerugian pada saat harga hasil tani dan nelayan melambung naik di pasar konsumen.
Kenaikan harga barang di pasar dikarenakan oleh naiknya biaya angkut.
Selama ini menyatakan bahwa jika harga BBM naik 10 persen maka harga barang di pasar konsumen naik 20 persen atau lebih; maka jika harga BBM naik 30 persen maka hampir bisa dipastikan harga barang di pasar konsumen mengalami kenaikan 60 persen atau lebih.
Pemerintah,sejak dulu selalu menyatakan bahwa mereka akan melakukan pengawasan dan pengendalian kenaikan barang,akan tetapi kenyataannya nggak pernah bisa mengendalikan kenaikan harga barang.
Mengapa tani dan nelayan justru menanggung beban kerugian? para pedagang atau lebih tepatnya para tengkulak yang biasa membeli hasil tani dan nelayan untuk kemudian menjualnya ke pasar konsumen,pada saat harga BBM naik,mereka justru membeli dari tani dan nelayan pada harga yang lebih rendah dari sebelumnya, alasannya "karena biaya angkut naik, kalau membeli pada harga yang normal para tengkulak akan merugi"
Alasan yang seperti itu sebenarnya tidak masuk akal karena beban kenaikan biaya angkut nyatanya dibebankan kepada pembeli berikutnya yaitu pasar konsumen atau para bakul/pedagang di pasar konsumen, dan meski alasan itu tidak masuk akal akan tetapi itulah fakta yang mau tidak mau "diamini" oleh tani dan nelayan.
Dengan begitu, pada saat harga di pasar konsumen naik oleh sebab kenaikan harga BBM justru akan merugikan tani dan nelayan.
Kerugian tani dan nelayan akan berlipat ganda ketika tani dan nelayan melakukan proses produksi pasca kenaikan harga BBM.
Untuk petani: harga bibit, pupuk, obat2an, pakan ternak dan lain-lain pasti mengalami kenaikan harga; bagi nelayan: harga solar naik, belum lagi ongkos untuk memperoleh solar yang juga pasti naik (nelayan dalam memperoleh solar membayar lebih mahal dibanding harga solar karena lokasi SPBU yang jauh dari sentra nelayan dan untuk itu memerlukan ongkos angkut)
Asumsi pemerintah menaikkan harga BBM adalah sebagai upaya mengalihkan subsidi dari hal yang bersifat konsumtif kepada hal-hal yang produktif rasanya tidak tepat.
Apakah rakyat ketika membeli BBM itu bersifat konsumtif? siapa yang berani mengatakan bahwa puluhan juta motor di indonesia meramaikan jalan-jalan itu hanya sekedar foya-foya? bukankah mereka menggunakan motornya untuk keperluan bekerja mencari uang? Apakah orang yang bekerja untuk mendapatkan uang adalah konsumtif? Puluhan juta orang yang tiap hari mengendarai motornya dalah orang-orang yang produktif, adalah orang-orang yang tidak pernah putus asa...!
Begitu juga halnya dengan jutaan angkutan umum seperti bus kota, angkutan perkotaan, angkutan perdesaan dan lain-lain, apakah mereka hilir mudik mengangkut orang-orang yang plesiran? Mereka mondar-mandir bersama para penumpang yang sehari-harinya melakukan pekerjaan untuk mendapatkan uang...!apakah itu disebut konsumtif?
Begitu p**a mobil-mobil pribadi yang memadati jalan-jalan, di dalam mobil-mobil pribadi itu adalah orang-orang yang kebanyakan bekerja untuk mendapatkan uang. Apakah yang mereka lakukan itu konsumtif?
Ada p**a pejabat negara yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya ada subsidi solar buat nelayan karena nyatanya yang menikmati bukan nelayan tetapi pengusaha nakal yang menjual solar bersubsidi ke industri-industri sehingga pengusaha itulah yang mengeruk keuntungan besar. Koq jadi aneh pernyataan itu,ya?
Kalau memang nelayan tidak menikmati solar bersubsidi karena ulah pengusaha nakal, mengapa bukan tangkap dan penjarakan pengusaha nakal itu dan bukan meniadakan solar bersubsidi bagi nelayan? Aneh,memang,negri ini..!
Pemerintah kalau serius ingin membangun ruang produktif dan mengurangi ruang konsumtif sebenarnya tidak terlalu sulit:
Berikan kredit lunak kepada tani, nelayan dan rakyat miskin tanpa membebani persyaratan yang sulit dipenuhi oleh mereka baik perorangan, kelompok, dan atau terutama koperasi. Jangan ada syarat harus menyerahkan agunan,dan atau harus sudah ada usaha, dan atau harus punya rekening bank, dan atau harus punya rumah sendiri,dan atau lain2 yang sulit dipenuhi.
Paralel dengan pemberian kredit itu, pemerintah harus mau sedikit "ribet" dengan urusan membina, membimbing, mengawasi,dan mengembangkan sektor-sektor produktif yang dibiayai oleh kredit tersebut.
Jika jumlah orang miskin di Indonesia, termasuk di dalamnya para tani dan nelayan, sebanyak katakanlah 50 juta KK, maka jika per KK memperoleh kredit rp.5.000.000,- ,maka total anggaran untuk itu hanya 250.000.000.000.000,-
Guna mendukung pelaksanaan pemberian kredit lunak, pemerintah dapat mengeluarkan peraturan agar perbankan terutama bank-bank milik negara mengurangi alokasi kredit konsumtif untuk dialihkan kepada kredit lunak bagi rakyat miskin untuk tujuan2 produktif,misal ernak, tanam, kerajinan, budidaya, olahan, warung, usaha rumahan dan sebagainya.
Untuk membangun infrastruktur perdesaan guna mendukung sektor produksi, pemerintah sudah saatnya mengurangi alokasi anggaran pembangunan perkotaan untuk dialihkan ke perdesaan. Pemerintah pusat juga bsa "memaksa" propinsi "kaya" untuk mengalokasikan sebagian APBDnya guna membantu perdesaan melalui pemerintah pusat.
Rasanya tidak berlebihan jika masyarakat perkotaan mengikhlaskan sebagian haknya menikmati hasil-hasil pembangunan untuk dialihkan kepada masyarakat perdesaan karena masyarakat perkotaan sebagian kebutuhannya dipenuhi oleh kegiatan masyarakat perdesaan, beras misalnya..
Demikian halnya propinsi kaya, harusnya tidak perlu dipaksa untuk menyumbangkan sebagian APBDnya kepada pemerintah pusat untuk keperluan membangun perdesaan.
mudah2an kenaikan harga bbm kali ini tidak menginspirasi munculnya lagu plesetan berikut ini:
"naik..naik..,bbm naik..,tinggi..tinggi sekali.... kiri..kanan..lihatlah saja,banyak orang yang bingung..(pa-nik).. kiri..kanan..lihatlah saja,banyak orang yang "bengong"...!
Mari berjuang bersama-sama untuk merebut kembali kedaulatan rakyat melalui kedaulatan pangan karena kedaulatan pangan merupakan pilar utama bagi kedaulatan berbangsa dan bernegara.
semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan rahmatNya kepada kita semua.
Salam Pergerakan!
Terima kasih,
ASATAHARANI
Soelistyono Raden / Ketua Umum