Penyuluh secanggang

Penyuluh secanggang penyuluh agama islam kecamatan secanggang adalah perpanjangan tangan dari kementrian agama kab.langk

05/04/2023

Ini dia wanita yang terbaik dikatakan Rasulullah...
Semoga para wanita yang melihat ini, termasuk didalamnya

Berbuatlah apa yang bisa diperbuat selama itu baik untuk mu dan oranglain,“Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kali...
24/12/2022

Berbuatlah apa yang bisa diperbuat selama itu baik untuk mu dan oranglain,
“Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no. 6035). Sebaik-baik manusia dalam hadis ini adalah tergantung akhlaknya kepada orang lain. Akhlak yang baik menjadi barometer untuk menjadi sebaik-baik manusia.

Penyuluh agama Islam kecamatan Secanggang ustadz Muhammad abidinsyahS. Sy, memberikan bimbingan penyuluhan terhadap remaja mesjid Se-Desa s...

Tidak ada salahnya membaca
16/09/2021

Tidak ada salahnya membaca

24/06/2021

Rosululloh senantiasa menjaga wudhu
Banyak hadits yang sangat menganjurkan untuk tetap menjaga wudhu meskipun tidak dalam waktu shalat. Berdasarkan sunnah tsb, mulai generasi sahabat hingga orang-orang shaleh, senantiasa mereka MENJAGA WUDHU DALAM SEGALA AKTIFITAS, baik dalam perjalanan, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dalam bekerja, ketika hendak tidur, termasuk sebelum & sesudah berhubungan suami-istri.

BERWUDHU BUKAN HANYA DISAAT MENGHADAP ALLAH SWT dalam shalat, tapi juga ketika akan tidur – BERADA DALAM KESUCIAN.

ALLAH SWT berfirman :

”Sungguh, ALLAH menyukai orang-orang yg bertobat dan mereka yang MENYUCIKAN DIRI” (QS. Al-Baqarah : 222).
SUNGGUH berbahagia orang yang selalu mendawamkan wudhu dalam hari-harinya. Dia senantiasa ada dalam keadaan suci dalam menjalani hari, baik siang maupun malamnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai sekalian orang yang beriman! Jikalau engkau semua berdiri hendak bersembahyang, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku dan sap**ah kepala dan basuhlah kakimu sampai ke matakaki … Allah tidak menghendaki untuk membuat kesempitan (kesukaran) atasmu semua, tetapi hendak menyucikan engkau semua dan menyempurnakan karunianya kepadamu semua, supaya engkau semua bersyukur.” (QS. al-Maidah: 6)
Bagi para ahli wudhu, mereka berwudhu bukan hanya untuk melakukan ritual ibadah, akan tetapi semua aktivitas dan kegiatannya selalu dibarengi dalam keadaan memiliki wudhu (suci). Mereka yang ahli wudhu akan tampak dari parasnya yang bercahaya. Bukan make up yang membuat mereka memesona, melainkan basuhan air wudhu yang memberikan aura keshalehan dalam dirinya.

Abu Hurairah meriwayatkan RASULULLAH SAW, bersabda :

”Pada hari kiamat, karena bekas wudhunya (yang bercahaya). Siapa ingin memanjangkan ghurram-nya silakan lakukan” (HR. Bukhari).
Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata:

“Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya ummatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya dari sebab bekas-bekasnya berwudhu’. Maka dari itu, barangsiapa yang dapat di antara engkau semua hendak memperpanjang (menambahkan) bercahayanya, maka baiklah ia melakukannya dengan menyempurnakan berwudhu’ itu sesempurna mungkin.” (Muttafaq ‘alaih).
Dalam Riwayat lain

”Siapa yang BERWUDHU (untuk mendapatkan) KESUCIAN, maka ALLAH akan MENETAPKAN BAGINYA DENGAN SEPULUH KEBAIKAN” (HR. Abu Daud)
di riwayat lainnya Rasulullah SAW bersabda ;

”Seseorang senantiasa DIANGGAP SEPERTI DALAM KEADAAN SHALAT, asal dia tidak berhadas (= buang angin)” (HR. Bukhari)
Wudhu memiliki keajaiban yang luar biasa. Pahala bagi orang yang mendawamkan salah satu ibadah bersuci ini digambarkan dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah Ra., ia berkata:

“Saya mendengar kekasihku Rasulullah Saw. bersabda:

“Perhiasan-perhiasan di syurga itu sampai dari tubuh seseorang mu’min, sesuai dengan anggota yang dicapai oleh wudhu yakni sampai di mana air itu menyentuh tubuhnya, sampai di situ p**a perhiasan yang akan diperolehnya di syurga.” (HR. Muslim).
Wudhu dapat merontokkan kesalahan-kesalahan seorang muslim. Dari Usman bin Affan Ra., dia berkata:

“Rasulullah Saw. bersabda: ‘barangsiapa yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya (menyempurnakan sesempurna mungkin), maka keluarlah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarnya itu sampai dari bawah kuku-kukunya.’” (HR. Muslim).
Dalam hadis lain dikatakan, dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:

“Apabila seseorang hamba yang Muslim atau mu’min itu berwudhu, lalu ia membasuh mukanya, maka keluarlah dari mukanya itu semua kesalahan yang disebabkan ia melihat padanya dengan kedua matanya dan keluarnya ialah beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya itu semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir. Selanjutnya apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua kesalahan yang dijalankan oleh kedua kakinya beserta air atau beserta tetesan air yang terakhir, sehingga akhirnya keluarlah ia dalam keadaan suci dari semua dosa.” (HR. Muslim).
Dalam sebuah redaksi hadis yang panjang, beliau bersabda:

“… Sesungguhnya ummatku yang akan datang itu ialah dalam keadaan bercahaya wajahnya serta putih bersih tubuhnya dari sebab berwudhu dan saya adalah yang terlebih dulu dari mereka itu untuk datang ke telaga (haudh).” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:

“Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengannya dapat p**a menaikkan beberapa derajat?” Para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau Saw. lalu bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi (seperti terlampau dingin dan sebagainya) banyaknya melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah melakukan shalat. Itulah yang disebut ribath. Itulah yang disebut ribath (perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyak ketaatan pada Tuhan).” (HR. Muslim)
Para ahli wudhu akan selalu berusaha menyempurnakan wudhunya. Mereka berusaha menghayati filosofi dari aktivitas wudhu yang dilakukannya. Wudhu mereka melampaui batasan fikih wudhu. Wudhu mereka sudah mencapai ke aspek kejiwaan dan hikmah tertinggi dari aktivitas membasuh sejumlah anggota wudhu. Dengan membasuh muka, mereka berharap wajah mereka terlindungi dari dosa yang dilakukan mata. Ketika membasuh tangan mereka berharap tangan mereka terjaga dari dosa yang belum dilakukan dan dibersihkan dari kekhilafan yang dilakukan di masa lalu. Saat mengusap kepala, mereka berharap agar pikiran mereka terlindungi dari pikiran-pikiran yang tidak syar’i. ketika membasuh telinga, semoga hal itu dapat menghapuskan dosa yang dilakukan oleh telinga. Dan ketika membasuh kaki, mereka berdoa agar Allah senantiasa membimbing mereka agar tetap berada di jalan yang lurus (Islam).

Begitulah keajaiban wudhu yang ritualnya hanya ada di dalam ajaran Islam. Semoga kita senantiasa menjadi ahli

17/06/2021

Mari kita renungkan sejenak

Info penting, alasan kebijakan pembatalan keberangkatan jamaah haji1442H/2021M
15/06/2021

Info penting, alasan kebijakan pembatalan keberangkatan jamaah haji1442H/2021M

12/06/2021

Apakah mengatakan apakah jenazah ini baik jawab baik adakah dalilnya??

۞ Kesaksian Untuk Jenazah ۞

Persaksian terhadap jenazah yang biasa kita lihat, dengan pertanyaan: “Apakah jenazah ini baik?”. Lalu dijawab: “Baik”. Apakah ada dalilnya?
Jawaban:
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:

ثمَُّ - - - - . » وَجَبَتْ « أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رضى الله عنه يَقُولُ مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأثَْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا ، فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ - - « فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضى الله عنه مَا وَجَبَتْ قَالَ . » وَجَبَتْ « مَرُّوا بِأخُْ رَى فَأثَْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ . » خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ ، أنَْتُمْ شُهَدَاءُ اللََِّّ فِى الأرَْضِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Mereka melewati jenazah, lalu mereka memuji kebaikan jenazah itu. Rasulullah Saw bersabda: “Wajib”. Kemudian mereka melewati jenazah lain, mereka mencela, Rasulullah Saw bersabda: “Wajib”.
Umar bin al-Khaththab berkata: “Apa yang wajib?”.
Rasulullah Saw menjawab: “Jenazah yang kamu puji baik, ia wajib masuk surga. Jenazah yang kamu cela, ia wajib masuk neraka. Kamu adalah para saksi Allah di atas bumi”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Akan tetapi pujian dalam hadits ini murni dari orang yang ingin memberikan persaksian, bukan direkayasa dengan ditanya: “Apakah jenazah ini baik?”. Pertanyaan seperti ini akan membuat orang berbohong, karena tidak ada yang akan menjawab : “Tidak baik”.
Bahkan jika kesaksian itu palsu, tergolong dalam dosa besar, yaitu dosa memberikan kesaksian palsu. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللََُّّ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ ب الِلَِّّ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّعْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ

Dari Anas ra, ia berkata, “Rasulullah Saw ditanya tentang dosa-dosa besar”. Rasulullah Saw menjawab, “Mempersekutukan Allah Swt, membunuh jiwa dan kesaksian palsu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

09/06/2021
24/05/2021
Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jama’ahOrang yang Meninggal Dunia Mampu MendengarOrang yang Meninggal Dunia Mampu Mendengar...
19/04/2021

Kitab Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah

Orang yang Meninggal Dunia Mampu Mendengar

Orang yang Meninggal Dunia Mampu Mendengar, Berbi-cara, & Mengetahui Orang yang Memandikan, Mengkaf-ani, & Memakamkan Jenazahnya, & Tentang Kembalinya Ruh Kedalam Jasad Setelah Mati

Tentang jenazah yang mempu mendengar, Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas dari Nabi s.a.w. sebagai berikut : Apabila seorang mayat telah diletakkan dalam kubur, dan orang-orang telah meninggalkannya, maka dua malaikat mendatanginya dan bertanya : bagaimana pendapatmu mengenai Muhammad ? ia menjawab, aku bersaksi ia adalah hamba Allah dan Rasulnya. Maka malaikat berkata, lihatlah tempatmu di neraka telah diganti dengan surge. Maka orang itupun bisa melihat surga dan neraka. Adapun orang kafir dan munafik, maka dia akan menjawab, “aku tidak tahu.” Dulu aku berpendapat sebagaimana pendapat orang-orang. Maka dikatakan kepadanya, “kamu tidak tahu dan tidak mau mengikuti orang-orang yang tahu.”
Kemudian dipukullah dia dengan palu dan menjerit yang bisa didengar oleh penghuni kubur di sekitarnya.

Ketika jenazah mau diantarkan kekubur, jika ia seorang yang shaleh akan berkata : Segera bawa aku ke pemakaman. Dan jika ia bukan orang shaleh, ia akan berkata : Celakalah aku, mau kau bawa ke mana diriku. Suara tersebut bisa didengar oleh semua makhluk kecuali manusia, dan jika manusia mendengarnya maka akan pingsan.
(HR. Bukhari)

Thabrani dalam “al-Ausath” meriwa-yatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi s.a.w. bersabda :

Sesungguhnya mayit mengetahui siapa yang memandikannya, mengkafaninya, membopongnya, dan yang memasukkannya ke liang lahat.

Sa’id bin Zubair berkata : “Sesungguhnya orang yang telah meninggal dunia tahu atas kondisi keluarganya yang masih hidup, jika kerabatnya baik, dia akan merasa bahagia, jika mereka buruk, maka akan merasa sedih.”

Ibnu Munabbih berkata : “Sesungguhnya Allah membangun istana di langit ketujuh bernama istana Baidha’ untuk mengumpulkan ruh orang-orang mukmin. Jika ada penduduk bumi yang meninggal dunia, maka dia akan disambut para ruh dan ditanya tentang berita penduduk bumi, sebagaimana pertanyaan untuk keluarga yang baru datang dari bepergian.”

Adapun tentang kembalinya ruh ke dalam jasad orang yang meninggal, terdapat riwayat dari Bara’ bin ‘Azib: “Kami keluar bersama Nabi s.a.w. lalu kami duduk dengan tenang seolah-olah di kepala kami terdapat burung yang hinggap, lalu Nabi mengangkat pandangannya dan kemudian menunduk. Kemudia bersabda, “sesungguhnya jika seorang mukmin berada dalam kubur, maka dia dihampiri malaikat dengan duduk di dekat kepalanya sembari berkata, ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenang menuju ampunan dan ridha Allah.’ Maka ruh orang itu keluar mengalir bagaikan air hujan, dan para malaikat turun dari surga dengan wajah berseri dan membawa kain kafan dan ramuan pengawet dari surga. Mereka duduk di sekitar mayat itu secara berderet sejauh mata memandang, jika malaikat mencabut ruh tersebut, maka dia tidak akan membiarkanruh itu berada di tangannya walau hanya sekejap. Itulah yang dimaksud dengan ayat, “dia diwafatkan oleh malaikatku dan aku tidak melalaikan kewajibannya.”(QS. al-An’am : 61).

Rasulullah bersabda: “Ruh orang mukmin keluar dengan aroma paling harum yang pernah dijumpai, dan para malaikat akan naik ke langit dengan membawa ruh tersebut melewati ruh para umat terdahulu, mereka bertanya, ‘ruh siapakah itu ?’ dijawab, ‘ini adalah ruh si polan.’ Sampai akhirnya para malaikat sampai di pintu langit dunia, lalu dibukakan pintu untuk mereka. Dan mereka digiring oleh malaikat Muqarrabin yang berada di tiap-tiap lapis langit sampai berhenti di langit ketujuh. Maka Allah berfirman, ‘Tulislah orang ini dalam “Iliyyin.” Apakah Iliyyin itu? Yaitu buku yang diberi tulisan yang disaksikan oleh Al-Muqarrabun (para malaikat yang dekat dengan Allah).

Setelah itu dikatakan pada Malaikat, ‘Kembalikan lagi dia ke bumi, karena sesungguh-nya aku telah berjanji kepada mereka bahwa aku telah menciptakan dari unsur bumi, aku akan mengembalikan mereka padanya, dan akan membangkitkan mereka darinya.’ Akhirnya malaikat mengembalikan ruh tersebut ke bumi untuk di tempatkan ke dalam jasadnya, lalu ada dua malaikat yang menghampirinya. Keduanya sangat galak. Mereka menghardik dan menyuruhnya untuk duduk. Lalu keduanya bertanya, “Siapakah Tuhanmu dan apa agamamu ?.” Ruh itu menjawab, “Allah Tuhanku dan Islam agamaku.” Lalu ditanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diiutus untuk kalian ?” dia menjawab “Dia adalah utusan Allah.” Ditanya lagi: “Apa yang membuatmu mengetahui hal itu ?” Dia menjawab, “Telah datang kepada kami berbagai bukti dari Tuhan kami maka kamipun mengimani dan membenarkannya.

” Kemudian Rasul s.a.w. bersabda: “Itulah yang dimaksud dengan firman Allah s.w.t.

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.”
(QS. Ibrahim : 27)

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Lalu ada penyeru dari langit, ‘Sungguh hambaku telah berkata benar.’ Maka Malaikat memberinya pakaian dan menggelarkan permadani dari surga. Diapun bisa melihat tempatnya di surga. Amal kebaikannya menjelma menjadi seorang laki-laki tampan nan wangi dan berkata, ‘Berbahagialah kamu atas apa yang telah disiapkan Allah s.w.t. berbahagialah kamu karena mendapatkan ridha Allah s.w.t. dan tempat tinggal yang kekal. Lalu ruh itu bertanya: “Semoga Allah juga membuatmu bahagia, Siapakah dirimu sebenarnya? karena wajahmu merupakan wajah yang menyambut kami dengan baik, lelaki itu menjawab, “Inilah hari dan sesuatu yang telah lama dijanjikan untukmu. Aku adalah amal shalehmu. Demi Allah aku telah menyaksikanmu sangat cepat melakukan ketaatan kepada Allah dan enggan melakukan kemaksiatan, oleh karena itulah Allah memberikan balasan yang baik untukmu. Kemudian ruh itu berdoa, “Ya Allah segerakanlah kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”

Namun jika ia orang yang durhaka, maka malaikat akan berkata: “Keluarlah wahai jiwa yang buruk, hadapilah murka dan siksa Allah. Lalu ada malaikat yang turun dengan muka seram sambil membawa kain kafan. Rasulullah bersabda : “Maka ruh orang itu dipisahkan dari jasadnya sampai terputus urat nadinya seperti besi bercabang yang ditarik dari kump**an bulu yang basah. Ruh itu diambil oleh para malaikat dengan bau yang sangat busuk, dia akan melewati gerombolan arwah yang berada antara langit dan bumi. Para malaikat berkata, “Ruh siapa yang sangat busuk ini ?” Maka dijawab, “ Ini adalah ruh fulan.” Sampai akhirnya berhenti di langit dunia dan tidak dibukakan pintu oleh malaikat penjaganya. Lalu Allah berfirman, “Kembalikanlah dia ke bumi sesungguhnya aku telah berjanji bahwa mereka telah aku ciptakan dari unsur bumi dan akan aku bangkitkan darinya.” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Maka ruh itu kemudian dilempar dari atas langit.”

Kemudian, lanjut Al-Barra' Rasulullah beliau membaca ayat berikut ini :

Artinya : Dan Barang siapa mempersekutukan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit.
(QS. al-Haj : 31).

Lalu si mayit itupun akhirnya dikembalikan ke bumi dan ruhnya dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat yang sangat bengis dan mneyuruhnya untuk duduk, lalu bertanya, “Siapakah Tuhanmu, dan apakah agamamu ?” orang tersebut akan menjawab, “Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan hal tersebut.” Lalu malaikat berkata, “Kamu memang tidak mengetahuinya.” Lalu dia dihimpit liang kuburnya sampai tulang rusuknya berantakan, lalu amalnya menjelma menjadi laki-laki yang buruk rupa, berbau busuk dan berpakaian jelek, dan berkata, ‘Terimalah adzab dari Allah.’ Orang tersebut lalu bertanya, “Siapakah engkau ?” wajahmu seperti wajah orang yang membawa keburukan.” Laki-laki tersebut menjawab, ‘Aku adalah amal burukmu, demi Allah aku telah menyaksikan dirimu sangat malas melakukan ketaatan kepada Allah dan gemar melakukan maksiat.

Lalu Allah mendatangkan malaikat yang bisu lagi tuli dengan membawa besi yang mampu membuat gunung menjadi debu, lantas orang tersebut dipukuli hingga menjerit-jerit sampai bisa didengar oleh makhluk kecuali jin dan manusia, kemudian ruh orang tersebut dikembalikan ke dalam jasadnya untuk menerima pukulan berikutnya.

Berkata Imam Haramain dan al-Faqih Ibnu al-‘Arabi dan Imam Saifuddin al-Amidi:
Telah bersepakat ulama salaf, sebelum munculnya perbedaan pendapat, bahwa orang yang meninggal dunia akan kembali dihidupkan di dalam kuburmya, juga tentang pertanyaan dua orang malaikat, dan siksa kubur bagi orang-orang yang berbuat dosa.

Sedangkan firman Allah s.w.t:
“dan engkau telah menghidupkan kami dua kali.”
(al-Ghafir : 11)

maksudnya adalah, kehidupan di alam kubur dan kehidupan di alam Mahsyar.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya hadits tentang Malaikat Maut, dan derajat di akhirat, adalah perkara yang bersifat mutasyabihat yang tidak ada analisis rasional di dalamnya. Manusia benar-benar diuji untuk mempercayainya.

Telah sepakat kelompok Ahlussunah bahwa orang yang meninggal dunia bisa mendapatkan manfaat dari apa yang diupayakan oleh orang yang masih hidup (amalan). Hal ini setidak-tidaknya dalam dua hal : pertama, Shadaqah Jariyah, dan kedua, Doa orang-orang muslim, dan lain-lain. Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai bentuk ibadah fisik. Seperti puasa, shalat, bacaan al-Qur’an, dan alunan dzikir.

Mayoritas para ulama’ berpendapat, bahwa pahala dari semua hal-hal di atas bisa sampai kepada mayit. Sedangkan para ahli bid’ah mengatakan, bahwa pahala tersebut tidak bisa sampai kepada mayit.

Pendapat yang terakhir ini mendasarkan pada al-Qur’an dan Sunah sebagai berikut : Artinya : Dan sesungguhnya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.
(QS. al-Najm : 39)

Namun demikian ayat di atas tidak menafikan kemungkinan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain. Yang dinafikan oleh Allah dalam ayat itu adalah kemungkinan untuk memiliki sesuatu yang tidak dia upayakan. Karena seseorang (dalam ibadah) dapat menghadiahkana pahalanya untuk dirinya atau untuk orang lain.

Karena Allah s.w.t. tidak berfirman dengan "sesungguhnya seseorang tidak bisa mengambil manfaat kecuali apa yang telah dia usahakan.

Address

Secanggang
20855

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penyuluh secanggang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category