SKM BUSER Koorwil Jateng/Biro Pati

SKM BUSER Koorwil Jateng/Biro Pati Berani Demi Tegaknya Hukum dan Keadilan

25/11/2014

Tak Capai Target, Retribusi Parkir Disorot Pemkab

Retribusi pelayanan parkir tepi jalan umum menjadi sorotan Bupati Pati Haryanto saat Rapat Evaluasi Pendapatan Asli Daerah, baru-baru ini, di Ruang Pertemuan Pragolo Setda Kabupaten Pati. Hal itu dikarenakan hingga akhir Oktober 2014, Dishubkominfo hanya mampu mencapai 56,81 persen atau sekitar Rp 164, 6 juta. Padahal, Pemkab Pati hanya menargetkan Rp 289, 8 juta untuk tahun 2014. “Padahal dengan kasat mata saja kita bisa lihat potensi parkir yang besar, bahkan di pusat-pusat keramaian, parkirnya selalu meluber. Untuk bisa mencapai target itu kan sebenarnya bukan hal yang sulit, lantas apa kendalanya?”, tanya Bupati pada salah satu pejabat struktural Dishubkominfo yang hadir dalam rapat.
Menanggapi pertanyaan Bupati tersebut, pejabat yang enggan disebut namanya itu hanya mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha maksimal untuk menarik retribusi tersebut dari para petugas parkir. “kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menarik retribusi parkir tempat umum dan pusat-pusat keramaian, akan tetapi hasilnya masih kurang dari target. Untuk kedepannya, kita akan berusaha lebih baik lagi supaya target kita terpenuhi”, jelas pejabat di akhir rapat.
Selain retribusi pelayanan parkir tepi jalan umum, retribusi lain yang dikelola Dishubkominfo namun tak dapat mencapai target adalah retribusi tempat khusus parkir yang capaiannya hanya 43,8 persen, kemudian retribusi terminal yang capaiannya 70%, serta retribusi ijin trayek yang capaian pendapatannya baru 41,3 persen.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga membahas tentang SKPD lain yang retribusinya masih belum mencapai target seperti Dislautkan dengan retribusi Tempat Pelelangan Ikannya yang capaiannya baru 35,66 persen, dan juga pajak reklame yang capaiannya baru 79,64 persen. Menanggapi hal itu, Suwarto, Kabid Pendapatan pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Pati, mengatakan bahwa hal itu dikarenakan sejumlah pengiklan rokok yang batal memasang papan reklame karena adanya ketentuan dari pusat untuk menampilkan gambar-gambar mengerikan di kemasan rokok yang dipromosikan.
Selain memberi catatan pada SKPD-SKPD yang belum mampu mencapai target pendapatan, Bupati juga mengapresiasi sejumlah camat yang telah berhasil lunas 100 % Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).
Secara keseluruhan Anggaran Pendapatan Asli Daerah yang nilainya Rp 238,3 Milyar hingga akhir Oktober dapat terealisasi 91,51 persennya atau setara dengan Rp 218, 1 Milyar.

25/11/2014

Perlunya Terobosan Baru Demi Tingkatkan Hasil Pertanian

Para petani di Desa Kertomulyo Kecamatan Trangkil yang menanam padi Varietas Inpari 20 dan 30 patut lega, pasalnya pada musim panen kali ini mereka mampu memanen 7,5 ton per hektar. “Ini patut disyukuri, namun demikian semestinya produktifitasnya bisa lebih ditingkatkan dengan pengelolaan tanaman yang terpadu”, ujar Bupati Pati Haryanto usai memanen padi di acara Temu Lapang Pemasyarakatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi pada Kawasan 1000 ha Varietas Unggul Baru Inpari 20 dan Inpari 30 di Desa Kertomulyo Kecamaatan Trangkil, baru-baru ini.
Dalam acara yang dihadiri Dinas Pertanian Provinsi Jateng, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Mantri tani, Koordinator Penyuluh, KTNA se-Kabupaten Pati, dan para petani sekitar Trangkil ini Bupati menekankan pentingnya penanaman padi secara terpadu dan serentak guna mengurangi gangguan hama.
Bupati kemudian mencontohkan Desa Babalan Kecamatan Gabus yang telah berhasil mengembangkan penangkaran burung hantu sebagai pemangsa alami hama tikus yang menyerang padi. “Di sana sudah mulai terlihat hasilnya dan banyak daerah lain yang sekarang ke Babalan untuk mengadopsi penangkarannya”, lanjut Haryanto.
Selain hama, Bupati juga meminta para petani untuk mengadopsi berbagai langkah baru terkait metode penanaman padi. “Sistem tanam dengan jajar legowo memang sangat membantu produktifitas, sekarang pengembangannya sudah pada mesin jajar legowo”, tutur Bupati.
Terkait dengan hal itu, salah seorang perwakilan dari kelompok tani kemudian menyampaikan kegundahannya karena saat ini pihaknya mulai kesulitan mencari tenaga untuk menanam padi. “Sudah langka sekarang, mereka banyak yang pergi merantau. Anak-anak muda mana ada yang mau nanam padi, lebih baik saya dibantu dibelikan mesin jajar legowo saja Pak Bupati biar mesinnya yang nangani”, pinta petani yang tidak mau menyebut namanya tersebut.
Moh. Ismail Wahab, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng kemudian menimpali bahwa memang Pemkab perlu mulai memikirkan agar para petani tersebut di tahun-tahun mendatang bisa mendapatkan bantuan mesin terbaru yang harganya mencapai Rp 60 juta per unit tersebut.
Versi manual dari sistem jajar legowo sebenarnya dapat dilihat dari areal sawah yang dipanen secara simbolis oleh Bupati. Di situ merupakan demplot Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi di bawah pembinaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Pati yang menerapkan sistem tanam jajar legowo 2:1. Untuk pelaksanaannya, dilakukan oleh kelompok tani “Tani Mulyo I” di areal seluas 5 ha, dengan menggunakan VUB padi varietas Inpari-20 dan 30 yang telah ditanam pada tanggal 17-29 Agustus 2014, dengan tanam benih muda ≥20 hari.
Dukungan Pemkab Pati terhadap peningkatan produktifitas tanaman pangan di Kabupaten Pati sebenarnya telah terlihat sejak normalisasi sungai Juwana, dimana kini para petani mulai kreatif dengan memanfaatkan bantaran sungai Juwana sebagai lahan pertanian dengan mengandalkan aliran sungai Juwana sebagai pengairan. “Sekarang Sungai Tus pun menyusul sungai-sungai lain yang memang akan dinormalisasi guna mencegah banjir sekaligus meningkatkan produktifitas lahan-lahan untuk pertanian”, terang Hariyanto.
Disamping itu, lanjut Bupati Pati, masalah pupuk juga perlu mendapat perhatian. “Jika pupuk sulit, Pemkab pasti ikut mencari solusi, tapi tolong jika pupuk berlebih di pasaran, tolong juga bijaksana dalam menggunakan, semua harus proporsional”, pungkasnya.

Pahlawanku, IdolakuMenyambut Hari Pahlawan tahun 2014 yang juga bertepatan dengan bulan Muharram sebagai momentum hijrah...
25/11/2014

Pahlawanku, Idolaku

Menyambut Hari Pahlawan tahun 2014 yang juga bertepatan dengan bulan Muharram sebagai momentum hijrah Rasulullah, Bupati Pati Haryanto mengajak masyarakat untuk bersama-sama berhijrah meninggalkan sikap anti hero menjadi superhero di lingkungannya masing-masing. “Tindakan antihero ini banyak sekali. Mulai dari mengabaikan atau menolak mereka yang minta pertolongan langsung kepada kita, sampai membuang-buang apa yang orang lain lebih butuhkan”, tutur Haryanto, di sela-sela upacara peringatan Hari Pahlawan yang digelar di kompleks Makam Pahlawan Pati.
Contoh lain yang dikemukakan Haryanto adalah bahwa masyarakat saat ini lebih disibukkan mencari pembenaran untuk suatu tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan hukum atau melanggar norma, itu disadari namun tetap dilakukan oleh diri sendiri atau kelompok mereka sendiri.
Keprihatinan yang disampaikan Haryanto itu rupanya sejalan dengan tema nasional yang diusung untuk Hari Pahlawan tahun ini. Dijelaskan, dalam surat edaran bernomor 1005/M.Sesneg/D-1/DK.00.01/11/2014, peringatan Hari Pahlawan kali ini digelar secara nasional dengan tema "Pahlawanku Idolaku".
Tema tersebut dimaksudkan untuk menggugah semangat superhero sekaligus semangat kebangsaan kepahlawanan sebagai ukuran nilai, baik sebagai "panutan" maupun figur idola pencarian jati diri. Demikian salah satu bunyi amanat tertulis Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, M. A., yang dibacakan Bupati Pati Haryanto, saat bertindak sebagai Irup pada upacara memperingati Hari Pahlawan yang dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan Pati.
Upacara peringatan Hari Pahlawan yang dihadiri para pelajar ini di jadikan momentum bagi penerus bangsa untuk selalu mengenang dan melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur dimasa penjajahan waktu itu. Perjuangan itu tidak harus melalui pertempuran, akan tetapi melanjutkan cita-cita para pahlawan untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang kuat, sejahtera, dan terlepas dari penindasan.
Karena itu, lanjut Haryanto, tema Pahlawanku Idolaku diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus, bahwa semangat superhero atau semangat juang para pahlawan akan selalu terpatri di “dada” setiap insan Indonesia dan menjadi kebanggaan atau idola sepanjang masa.
Usai menjadi Irup, Bupati Pati bersama para Muspida Plus, Kepala SKPD dan Pasukan Gabungan dari TNI dan POLRI, serta peserta upacara lainnya melakukan tabur bunga di atas makam para pahlawan.
Di Taman Makam Pahlawan Giri Dharma ini terdapat beberapa makam tanpa identitas yang jelas. Tidak sama dengan makam lainnya yang nampak tertera nama, pangkat dan asalnya. Mereka telah dengan rela mengorbankan jiwa dan raganya demi keutuhan negara ini dari tangan penjajah.
Sejalan dengan semangat tabur bunga tersebut, Bupati berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran penting atas segala pengorbanan para pahlawan, dalam upaya mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Himbauan Bupati pun diamini oleh Dandim 0718/Pati Letkol ( Inf. ) Hery Setiono. Ia mengatakan yang terpenting bukanlah peringatannya namun lebih dari itu, generasi penerus harus dapat menghayati dan meneladani jasa para pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih untuk Negara. “Dulu pahlawan bersatu mengusir penjajah, sekarang warga harus bersatu untuk mengisi kemerdekaan”, pungkasnya.

25/11/2014

OPERASI GABUNGAN POLRES PATI, AMANKAN 70 KUBIK KAYU ILEGAL
Pembalakan kayu dan illegal loging yang terjadi di Kabupaten Pati akhirnya berhasil terungkap dalam Operasi gabungan antara Polres, Perhutani dan Kodim 0718 Pati baru-baru ini.
Target operasi gabungan berada di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati dan berhasil mengamankan sekitar 70 kubik kayu illegal. Namun, dalam operasi ini petugas belum berhasil menangkap para pelaku illegal loging tersebut. Di duga operasi yang dilancarkan bocor terlebih dahulu, sehingga para pelaku sudah melarikan diri saat operasi digelar.
Berdasarkan keterangan Wakil ADM Perhutani KPH Pati, Agus Ridwan mengatakan bahwa selama ini Desa Ronggo dikenal sebagai pusat jual beli kayu ilegal. “Dari informasi yang kami dapatkan, Deso Ronggo merupakan pusat dan segitiga emas penjualan kayu illegal yang cukup besar skalanya di Jawa Tengah. Dari berbagai informasi, di Desa Ronggo terdapat banyak pengepul kayu illegal dan transaksi jual beli kayu tanpa dokumen resmi.” Ujar Agus Ridwan.
Terkait hal ini, Agus menambahkan bahwa Desa Ronggo sangat strategis untuk jual beli kayu ilegal karena termasuk daerah pedalaman dan segita emas yang terhubung antara Kabupaten Blora, Rembang, dan Pati. “Meski lokasinya di daerah pedalaman, namun daerah itu cukup strategis. Baik sebagai penyuplai maupun sebagai penyedia. Dari pantauan dan informasi yang kami dapat, kayu dari desa ini disalurkan ke beberapa Kabupaten, diantaranya adalah Kabupaten Blora, Rembang dan Pati sendiri.” Tambahnya.
Kapolres Pati, AKBP Budi Haryanto melalui Kasatreskrim, AKP Agung Setyo Budi membenarkan apa yang dikatakan oleh Wakil ADM Perhutani KPH Pati, Agus Ridwan, bahwa dalam kasus pembalakan kayu dan illegal loging di Desa Ronggo terdapat sindikat kayu jati illegal yang bermain. Pasalnya, di daerah tersebut telah terdapat pemetik, pengolah, dan pengepulnya. ”Permainan mereka terbilang cukup rapi. Di daerah itu sendiri sudah ada delapan pengepul yang menjadi target operandi kami,”ungkap AKP Agung Setyo Budi kepada wartawan SKM BUSER Biro Pati.
Sebagai tindak lanjut penggerebekan kemarin, pihaknya mengaku telah berencana melakukan pemanggilan kepada dua orang, yakni CT dan ST. Kedua orang itu akan diperiksa terkait dugaan kepemilikan kayu illegal tersebut. ”Kedepan kami tetap akan melakukan operasi serupa. Hal itu sebagai salah satu langkah kami dalam membongkar kasus illegal logging di Kabupaten Pati.” Jelas AKP Agung Setyo Budi.

25/11/2014

DIDUGA, JUAL RASKIN UNTUK BANGUN MASJID

Dugaan penyelewengan beras untuk rakyat miskin (raskin) kembali terjadi di Kabupaten Pati. Lebih tepatnya di Dukuh Biteng, Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus. Sedikitnya 975 kg atau 65 karung jatah raskin dari bulan mei 2014 sampai September 2014 tidak disalurkan kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS) dan diduga dijual olh oknum pengurus Dukuh Biteng Desa Banjarsari.
Temuan kasus tersebut bermula dari keluhan warga yang tidak mendapat jatah raskin pada rentang bulan Mei sampai September 2014. Jumlah RTS di desa tersebut sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) dengan kuota raskin 975 kg per bulan.
“Semenjak habis banjir hingga sekarang tidak pernah ada kiriman lagi pak, kurang lebih sekitar lima bulanan”, ungkap salah satu warga Dukuh Biteng, Desa Banjarsari. Bukan hanya itu, warga juga mengaku bahwa tidak semua warga menyetujui penjualan beras tersebut. Pasalnya, saat musibah banjir melanda, hasil panen gagal total dan beras simpanan tahun sebelumnya terendam banjir. Salah satu warga yang menolak penjulan beras tersebut adalah Ny. Lasno. “ saya sebetulnya tidak setuju kalau beras itu dijual keseluruhan, masalahnya saya sudah tidak punya apa-apa. Untuk makan sehari-hari saya harus minta pada siapa, kalau beras itu dijual?”, keluh Ny. Lasno.
Sesuai data investigasi yang dihimpun dari beberapa warga menyebutkan bahwa jatah raskin tidak dibagi karena dijual untuk biaya pembangunan masjid Dukuh Biteng. Hal ini dibenarkan oleh Kadus Biteng, Marjuki, saat dikonfirmasi di kediaman salah satu Perangkat Desa Banjarsari. Lebih jauh beliau mengatakan “Soal pembangunan masjid memang terkendala kekurangan dana, maka warga mengambil inisiatif untuk menjual jatah raskin”, ungkap Marjuki kepada wartawan SKM BUSER Biro Pati. Namun sayangnya, setelah ditanya lebih jauh mengenai nilai jualnya, Kadus Marjuki mengaku tidak tahu dan tidak mau tahu. “ saya tidak tahu beras itu dijual berapa dan kepada siapa. Yang penting beras itu saya serahkan ke RT masing-masing. Entah itu dimakan sendiri ataukah dijual itu urusan mereka. Pokoknya saya tidak tahu dan tidak mau tahu”, lanjut Marjuki.
Yang lebih mengejutkan, kepala desa setempat saat dimintai konfirmasi perihal raskin ini mengaku sudah mendengar dari beberapa warga selang beberapa waktu setelah penjualan raskin tersebut. Akan tetapi, kepala desa hanya bisa pasrah apabila hal ini diketahui pemerintah, dan terkesan menghindar saat dimintai informasi lebih jauh. “Saya tahu tentang penjualan itu, warga sudah banyak yang cerita. Tapi apa boleh buat, itu sudah terjadi. Saya tahu kalau saya salah, karena saya adalah kepala desa. Saya hanya bisa pasrah kalaupun pemerintah daerah dan pusat mengetahui hal ini”. Ungkap Kepala Desa Banjarsari.
Bukan hanya itu, dugaan penyelewengan juga terjadi di harga beli warga. Menurut Marjuki, raskin per kg harus ditebus warga dengan harga Rp. 1.600 ,-, dan warga mendapat jatah beras sebanyak 3 kg. “ Untuk harga beras yang harus ditebus warga itu Rp. 1.600 ,-, kalau warga dapat 3 kg maka mereka harus menebus beras itu sebesar Rp. 4.800 ,-“, jelas Marjuki.
Akan tetapi, harga yang didapat warga sangat jauh berbeda dengan apa yang telah diungkapkan oleh Marjuki. Warga mengaku membeli beras itu seharga Rp. 10.500 ,- untuk 3 kg. Hal ini diungkapkan oleh beberapa warga yang sedang berkumpul dihalaman rumah. “kalau beras datang, kita diberitahu kapan dan dimana tempat mengambilnya serta berapa harga tebusnya. Selama ini kami membeli beras itu Rp. 10.500 untuk 3 kg”, tegas warga yang tidak mau menyebutkan namanya.
Di tempat terpisah, camat gabus mengaku tidak mengetahui apapun perihal raskin tersebut. Dan beliau akan segera menghubungi kepala desa setempat untuk meminta info lebih lanjut mengenai raskin ini. “saya tidak tahu apa-apa, selama ini tidak ada laporan ke saya mengenai penjualan raskin ini. Coba nanti saya telpon kades nya, benar atau tidak nya. Biar kades nya nanti menjelaskan secara detail ceritanya”, ungkap Camat Gabus saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya.

Bupati Pati Rencanakan Kenaikan Besaran Bantuan untuk Kesejahteraan Guru AgamaBupati Pati Haryanto berencana akan menaik...
25/11/2014

Bupati Pati Rencanakan Kenaikan Besaran Bantuan untuk Kesejahteraan Guru Agama
Bupati Pati Haryanto berencana akan menaikkan besaran bantuan kesejahteraan bagi guru agama Kristen, Katholik, Budha, serta guru TPQ dan Madrasah Diniyah pada tahun anggaran mendatang. Hal itu dikemukakannya saat menghadiri acara penyerahan bantuan kesejahteraan bagi guru Madin, TPQ, Sekolah Minggu Kristen dan Katholik, serta guru Agama Budha se-Eks Kawedanan Kayen di Masjid Al-Istianah Kayen, baru-baru ini.
Berdasarkan Perda No. 12 Tahun 2013 tentang APBD Kabupaten Pati Tahun 2014 dan Perbup Nomor 66 Tahun 2013 tentang Penjabaran APBD Kabupaten Pati Tahun 2013, besaran bantuan per guru untuk tiap tahunnya adalah Rp 250 ribu. “Yang sedikit ini akan terus kami perjuangkan agar paling tidak tiap tahunnya ada kenaikan. Jika tahun ini Rp 250 ribu maka tahun depan kita usahakan bisa naik menjadi Rp 300 ribu”, terang Haryanto.
Bupati menyadari besaran bantuan yang diberikan memang tak sebanding dengan perjuangan mereka dalam memajukan pendidikan di Kabupaten Pati. “Guru yang PNS saja jumlahnya sekitar 9 ribuan, sedangkan jumlah guru agama keseluruhan mencapai hampir 12 ribu. Kami tidak mungkin menganaktirikan, jadi bantuannya harus rata meski besaran yang diterima tidak seberapa”, jelas Bupati Pati.
Menurut Haryanto, program bantuan ini pada periode kepemimpinan Bupati sebelumnya memang telah ada, namun bantuannya belum dapat menjangkau semua guru. “Nah, mulai periode kami, semuanya kami data, walaupun besarannya kecil yang penting rata dan tiap tahunnya terus meningkat nominalnya”, terang Bupati.
Lebih lanjut Haryanto juga meminta agar para guru tetap mensyukuri bantuan ini. “Insya Allah jika yang sedikit ini disyukuri, untuk ke depannya nikmat-nikmat yang kita terima akan berlipat”, tambah Bupati.
Secara keseluruhan, menurut Sarpan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, bantuan yang masuk dalam program manajemen Pelayanan Pendidikan pada kegiatan Fasilitasi Penyelenggaraan Pendidikan ini telah menyedot total dana Rp 2,983 Milyar. Dana itu diperuntukkan bagi 833 guru Agama Kristen, 200 guru Agama Katholik, 100 guru Agama Budha, 8.427 Guru TPQ, dan 2.372 Guru Madrasah Diniyah yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pati. “Pelaksanaan pembagian bantuan ini memang dilakukan per kawedanan”. Ungkap Sarpan, dalam laporannya.
Menurut Sarpan, ini adalah jadwal pembagian untuk eks-Kawedanan Kayen dengan jumlah penerima sebanyak 2.398 orang senilai total Rp 599.500.000,- (lima ratus sembilan puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah-red).
Dana sejumlah itu, lanjutnya, kemudian dibagi untuk guru TPQ dan Madrasah Diniyah di empat kecamatan yang terdiri atas Kecamaatan Kayen, Sukolilo, Tambakromo, dan Gabus. Kayen dengan 68 TPQ-nya mendapat bantuan Rp 134,5 juta yang akan dibagi rata untuk 538 guru TPQ. Sedangkan 27 Madin di Kayen mendapatkan bantuan Rp 51.250.000,- yang akan dibagi untuk 205 guru Madin.

Sementara itu, Sukolilo dengan 58 TPQ-nya mendapat bantuan Rp 144,5 juta yang akan dibagi rata untuk 578 guru TPQ. Sedangkan 25 Madin di Sukolilo mendapatkan bantuan Rp 48.750.000,- yang akan dibagi untuk 195 guru Madin.
Selanjutnya, Tambakromo dengan 52 TPQ-nya mendapat bantuan Rp 94.250.000,- yang akan dibagi rata untuk 377 guru TPQ. Sedangkan 12 Madin di Tambakromo mendapatkan bantuan Rp 25.750.000,- yang akan dibagi untuk 103 guru Madin.
Terakhir, kecamatan Gabus dengan 36 TPQ-nya mendapat bantuan Rp 75 juta yang akan dibagi rata untuk 300 guru TPQ. Sedangkan 12 Madin di Gabus mendapatkan bantuan Rp 25,5 juta yang akan dibagi untuk 102 guru Madin.
“Kami berharap perhatian yang diberikan oleh Pemkab dalam bentuk bantuan ini, akan memotivasi para guru untuk lebih bersemangat dalam membimbing anak didiknya”, pungkas Bupati Pati.
Di tempat terpisah, salah satu guru madrasah dari Kecamatan Gabus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Bupati karena telah memperjuangkan kesejahteraan guru agama di Kecamatan Gabus secara khususnya dan guru agama di Kabupaten Pati secara umumnya.”saya sangat berterima kasih atas perhatian Bapak Bupati kepada kami, walaupun jumlahnya sedikit tapi sangat berharga bagi kami”, ungkap salah satu guru madrasah saat akhir acara.

16/09/2014
KEMERIAHAN PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN PATI KE-691, BUDAYAKAN TRADISI LELUHURPeringatan Hari Jadi Kabupaten Pati ke-6...
25/08/2014

KEMERIAHAN PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN PATI KE-691, BUDAYAKAN TRADISI LELUHUR

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati ke-691 menjadi momen istimewa bagi masyarakat Bumi Mina Tani. Rangkaian kegiatan terlaksana dengan meriah tanpa melupakan tradisi Kabupaten Pati, salah satunya Kirab Prosesi Boyongan Kabupaten Pati yang merupakan tradisi lima tahunan.
Prosesi boyongan ini merupakan visualisasi dari proses pemindahan pusat pemerintahan dari Pendopo Kemiri di Desa Sarirejo, Kecamatan Pati ke Pendopo Kaborongan, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Pati ( Pendopo Kabupaten Pati saat ini ).
Bupati Kabupaten Pati melalui Sekda Pemkab. Pati, Desmon Hastiono menyatakan, prosesi boyongan akan dimulai dari Pendopo Kemiri yang diikuti Bupati Haryanto, Wabup Budiyono, Forkompinda, Kepala SKPD, Camat dan Kepala Desa/ Lurah se-Kabupaten Pati.
Sebelum dilaksanakannya tradisi boyongan ini, terlebih dahulu diadakan selamatan atau bancakan di Pendopo Kemiri. Selanjutnya, ziarah ke makam Tombronegoro ( Bupati Pati pertama ) di Jalan Panglima Sudirman." Biasanya ziarah dilakukan setelah dilaksanakan upacara peringatan hari Jadi. Untuk tahun ini ziarah dilakukan sebagai pengawal rangkaian kegiatan hari Jadi, " tambah Sekda Kabupaten Pati kepada awak media.
Bupati Pati menghimbau kepada masyarakat untuk ikut mangayubagyo peringatan hari jadi dengan ikut serta menyaksikan kirab prosesi boyongan di sepanjang jalan yang dilalui oleh rombongan. Kirab dimulai dari Pendopo Kemiri ke arah Tugu Tani menuju Jalan Pemuda dan Alun -Alun serta berakhir di Pendopo Kabupaten Pati.
Di tempat terpisah, selain agenda utama prosesi boyongan, DPRD Kabupaten Pati akan menggelar rapat paripurna istimewa dalam rangka Hari Jadi Pati. Selanjutnya dirangkai dengan tasyakuruan serta pagelaran ketoprak dengan cerita " Sejarah Pati" di Pendopo Kemiri.
Bukan hanya itu, masyarakat juga dimanjakan dengan berbagai hiburan, salah satunya adalah event Batik Night Carnival. Dengan acara ini, masyarakat bisa menikmati keindahan karya seni batik khas Kabupaten Pati. Dan sekaligus mengangkat potensi daerah berupa Batik Bakaran.
Acara ini terselenggara atas dasar dukungan dari masyarakat Kabupaten Pati yang senantiasa ikut mewujudkan terciptanya keindahan kota Pati di berbagai aspek. Peserta event ini sendiri melibatkan para pelajar dan komunitas kesenian serta masyarakat yang mempunyai bakat dibidang masing-masing untuk memperlihatkan hasil karya seni guna memajukan keindahan dan keasrian kota Pati.
Kegiatan ini akan memberi kesan bahwa batik bukan untuk acara formal saja, tetapi juga bisa ke non formal, ungkap Kepala Disbudparpora Kabupaten Pati. "kalangan pelajar dan komunitas kesenian kami libatkan dalam karnaval ini. Berbagai karya busana batik akan ditampilkan untuk lebih mengangkat citra batik dari kesan formal ke bahan yang fashionable, " tegas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora ) Pati , Sigit Hartoko disela-sela berlangsungnya kegiatan.
Nanang/Nafi’- Pati

25/08/2014

GURU SEKOLAH DASAR BERINISIAL “J” DIDUGA SELINGKUHI PEDAGANG JAJANAN RINGAN

Dugaan Perselingkuhan PNS kembali gemparkan masyarakat Pati Selatan. Kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang harus memberikan contoh sebagai pegawai disiplin dan menjadi suri tauladan yang baik kepada masyarakat justru mencoreng-moreng etika moral agama. Terlebih PNS tersebut adalah seorang tenaga pengajar yang seharusnya memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.
Oknum PNS beriinisial “J” yang merupakan salah satu guru Sekolah Dasar Negeri di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati diguna menjalin asmara dengan wanita berinisial “NA” yang merupakan pedagang jajanan ringan di SD tersebut sekaligus tetangganya sendiri.
Para pemuda mengatakan bahwa, Fenomena perselingkuhan ini bermula dari penangkapan yang dilakukan pemuda kampung saat oknum PNS tersebut diduga ingin masuk kerumah “NA”. Hal ini terjadi saat oknum pns berusaha masuk rumah “NA” melalui pintu belakang di waktu tengah malam dengan cara berjalan mengendap-endap seolah-olah akan membuka pintu. Karena terasa aneh, salah satu pemuda yang melihat aksi oknum tersebut langsung menghampiri dan berusaha menegur. “saya melihat dia mengendap-endap mau membuka pintu rumah. Saat kutanya, mau ngapain pak? Eh dianya malah lari. Langsung saja kita kejar dan tangkap dia.” Ungkap salah satu pemuda yang mengaku mengetahui kejadian itu.
Di tempat terpisah, oknum PNS yang diduga melakukan perselingkuhan ini membantah kalau dirinya hanya sekedar lewat pulang dari sawah. “saya ini hanya lewat belakang rumahnya, bukannya pengen masuk.” Kata PNS tersebut saat ditemui wartawan SKM BUSER di rumah nya.
Pengakuan PNS guru Sekolah Dasar ini sangat bertolak belakang dengan pengakuan “NA”. “NA” mengakui kalau dirinya sering disambangi “J” beberapa waktu ini. “Dia sudah datang kesini 4X (empat kali) mas, kalau masuk rumah ya lewat pintu belakang.” terang “NA” saat dikonfirmasi di rumahnya. “Kalau saya tidak menerimanya, dia mengancam akan berbuat nekat kepada saya dan keluarga mas. Kalau dia mengelak, saya punya bukti berupa kain lap dan sms (pesan singkat) dari dia. Saya juga berani disumpah mas, saya ini korban mas.” Tambah “NA” sambil menunjukkan kain lap dan beberapa bukti sms dari “J”.
Menurut sumber yang dihimpun SKM BUSER dari beberapa warga, PNS berinisial “J” sempat mengakui hubungannya dengan “NA” sebanyak 1X (satu kali) sehingga “NA” merasa malu, terhina dan kaget sehingga tidak lagi berjualan di SD tersebut. Padahal, dari dagangan itulah “NA” memenuhi kebutuhan hidupnya selama ini setelah ditinggal merantau sang suami di Sumatra.
Dengan kejadian ini, rumah tangga “NA” terasa mau runtuh setelah sang suami mengetahui dari tanah perantauan. Oleh karena itu, sang suami berharap oknum PNS tersebut dipecat karena telah merusak rumah tangganya dan melanggar kode etik pegawai negeri. Hal ini dibenarkan oleh salah satu anggota aktivis Lembaga Penyelenggara Negara Indonesia tingkat Provinsi Jawa tengah bernama Bisri. “Ini sudah tidak benar, PNS Guru harus memberikan contoh yang baik kepada anak didik dan warga sekitar. Bukannya berselingkuh sana sini. Hukuman yang pantas untuknya adalah pemecatan.” Kata Bisri kepada watawan.
Nanang/Zudi-Pati

Sedekah Bumi Desa Sendangasri, Lestarikan Budaya DaerahUntuk kesekian kalinya, masyarakat Jawa di Kabupaten Rembang meng...
13/06/2014

Sedekah Bumi Desa Sendangasri, Lestarikan Budaya Daerah

Untuk kesekian kalinya, masyarakat Jawa di Kabupaten Rembang menggelar acara tahunan sedekah bumi. Acara ini digelar di Desa Sendangasri Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, dan dibuka langsung oleh Kepala Desa Sendangasri yang di wakili oleh Kadus I, Sucipto. Menurutnya, sedekah bumi merupakan satu di antara budaya lokal yang harus dijaga kelestariannya. Hal ini penting karena bangsa Indonesia kini mendapat invasi serius dari kebudayaan barat. Selain itu, sedekah bumi juga dapat membangun karakter budaya daerah yang bermartabat.
Dalam acara sedekah bumi ini, ribuan warga ikut memeriahkan acara yang berlangsung selama 2 (dua) hari. Acara ini sendiri terselenggara atas rasa syukur warga desa setempat atas hasil bumi yang melimpah ruah. Salah satu penonton dan juga perangkat desa Sendangasri, Jahid menyebutkan, sedekah bumi merupakan wujud pelestarian kebudayaan desa dan nasional yang mulai terkikis. Salah satu contoh kebudayaan Desa Sendangasri dan merupakan kebudayaan nasioal yang mulai tertutup kebudayaan luar adalah Karawitan. “kita punya kebudayaan karawitan yang tidak tersentuh perhatian pemerintah karena tertutup oleh kebudayaan dari luar. Dari sedekah bumi ini, karawitan kita hidupkan kembali agar mendapat perhatian dari pemerintah.” Ungkap Jahid di sela-sela keramaian pesta rakyat tersebut.
Di tempat terpisah, Kepala Desa Sendangasri, Bapak Amin membenarkan adanya kebudayaan desa yang seharusnya bisa menjadi jati diri bangsa terabaikan karena masuknya budaya asing. “Memang benar mas, budaya karawitan kita seharusnya lebih bagus dari budaya asing. Karena kurangnya perhatian, budaya kita hilang terkikis oleh berputarnya waktu.” Tambah Kepala Desa Sendangasri saat ditemui wartawan SKM BUSER di rumahnya.
Acara yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat terlaksana dengan hiburan kebudayaan daerah. Di samping itu, berbagai masakan khas daerah setempat menjadi suguhan para penonton yang ingin melihat keindahan seni budaya asli Indonesia. Bukan hanya itu, berbagai perlombaan juga diadakan dalam pesta rakyat tersebut. Hal ini di harapkan bisa memupuk rasa nasionalisme para pemuda generasi bangsa. “Berbagai lomba kita adakan untuk kalangan para pelajar. Dari lomba ini diharapkan pemuda penerus bangsa bisa memupuk rasa nasionalisme.” Tambah Kepala Desa Sendangasri.
Nanang/Jahid-Pati

PIALA ADIPURA KENCANA, BUKTI KERJA KERAS WARGA KABUPATEN PATIMasyarakat Kota Pati menyambut kedatangan piala Adipura Ken...
13/06/2014

PIALA ADIPURA KENCANA, BUKTI KERJA KERAS WARGA KABUPATEN PATI

Masyarakat Kota Pati menyambut kedatangan piala Adipura Kencana 2014 yang baru tiba dari Jakarta dengan antusias. Penghargaan tersebut dalam kategori kota kecil terbersih dan teduh. Dalam menyambut dan memeriahkan kirap ini, wargapun memadati sepanjang jalan yang dilalui kirab Piala Adipura Kencana bersamaan dengan kedatangan Bupati Pati, Haryanto. Hal ini dilakukan warga untuk melihat secara langsung penghargaan pengelolaan kebersihan tingkat nasional yang diraih Kabupaten Pati.
Kirab Adipura Kencana dimulai sejak pukul 14.00 dengan rute Workshop DPU Margorejo-Jalan Tunggul Wulung- Jalan Kolonel Sunandar-Jalan A. Yani-Jalan Sunan Kalijaga-Jalan DR Susanto-Jalan Dipenegoro-Jalan Kembangjoyo-Jalan Pemuda-Jalan MH Thamrin-Jalan Rogowongso-Jalan DR Sutomo-Alun-alun Pati-Halaman Kantor Bupati Pati dan Piala Adipura Kencana dibawa oleh Kangmas dan Mbakyu Pati yang berada di mobil hias terdepan untuk di kirab keliling kota Pati.
Bupati Pati, Haryanto sangat mengapresiasi antusiasme warga Pati yang ikut menyaksikan kedatangan Piala Adipura Kencana. "Menjadi kewajiban seluruh masyarakat Pati untuk menjaga kebersihan dan keindahan kota dimulai dari lingkungan sendiri. Selain itu, menjaga kebersihan juga hendaknya menjadi budaya yang digalakkan bersama," harap Bupati Pati. Menurutnya, adipura kencana mustahil didapatkan bila masyarakat pati tidak bergotong royong utuk membersihkan dan menjaga lingkungan demi mewujudkan kota yang bersih, asri, dan indah. “Diraihnya Piala Adipura Kencana ini menjadi penyemangat bagi seluruh masyarakat Pati untuk mempertahankan kebersihan dan keindahan kota,” tambah beliau saat diwawancarai wartawan SKM BUSER.
Turut meramaikan kirap piala Adipura Kencana, deretan mobil hias yang dinaiki oleh siswa siswi SMA maupun SMK se - Kab. Pati, dengan menggunakan pakaian daur ulang dari hasil kreasi mereka. Bupati Pati, bersama Forkompinda Pati mengiringi dengan menggunakan mobil jeep terbuka diikuti iringan mobil SKPD, komunitas motor gede (moge), komunitar motor klasik, komunitas motor lainnya dan komunitas jeep, serta lembaga perbankan di kab. Pati.


Piala Adipura Kencana yang dibawa oleh Bupati Pati dan peserta kirap

Address

Jalan Kolonel Sunandar III No. 8 Winong Pati
Pati
59112

Telephone

0295-5522941

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SKM BUSER Koorwil Jateng/Biro Pati posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to SKM BUSER Koorwil Jateng/Biro Pati:

Share