07/09/2021
PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter merupakan wujud dari konsep dasar manusia; fitrah. Karena karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus diasuh dan dilatih secara serius, kontinyu dan professional maka dari itu kami berupaya secara sistemik dan programming menaruh nilai-nilai pendidikan karakter sebagai bekal anak di kemudian hari untuk mengimbangi bahkan sebagai rem dari kemungkinan-kemungkinan penyimpangan nalar.
Pada peemuan kali ini kita mengadakan berbagai giat Section pertama kegiatan seperti biasa di awali dengan membaca bersama; anak-anak dibebaskan untuk memilih buku-buku yang sesuai dengan kesukaan mereka dan telah di sediakan oleh kaka-kaka volunter, ini merupakan section wajib di setiap pertemuan, sesuai dengan salah satu teori Eggen dan Kouchak (2004) mengatakan prinsip prinsip perkembangan adalah : Experience enchaces development Pengalaman dapat memperkuat perkembangan, misalnya anak-anak yang mempunyai kaka yang mempunyai kebiasaan membaca dan berdiskusi dengan anak-anak akan memberi manfaat pada anak ketika belajar di sekolah. Setelah itu masih dalam section yang sama anak-anak diajak untuk mengenal fauna dengan metodologi visual.
Hal ini bertujuan diantaranya membuat suatu giat yang dilakukan secara continyu untuk membuat kesan peristiwa yang akan menjadi prinsip perilaku yang melekat dalam keseharian dalam orientasi jauhnya adalah mengajak kepada anak untuk setiap hari membaca dengan kesadaran dirinya sendiri karna membaca merupakan kunci kemapanan peradaban.
Lanjut kepada section kedua yaitu LIWETAN dan MAKAN BERSAMA. Giat diawali dengan membagi tugas ada yang bertugas mengolah liwet dan lauknya, mengurus perapian, mencari kayu bakar, dan membakar ikan dan ayam. Meskipun dilakukan dengan sederhana dan lauk pauk seadanya. Mengutip dari hasil penlitian jurnal Ervina Midya Saputri Prodi BK, FIP, UNESA “Semakin anak mampu berinteraksi sosial dengan baik, maka akan semakin rendah perilaku agresifnya. Sebaliknya semakin remaja tidak mampu berinteraksi sosial dengan baik, maka akan semakin tinggi perilaku agresif yang dilakukan oleh anak.
Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa anak tidak mampu beradaptasi tehadap lingkungan sosial maka anak tersebut melakukan mekanisme pelarian diri yang berwujud: kebiasaan maladaptif,agresi, dan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan hukum (Kartono,2003)”
Maka kami sebagai volunter mencoba langkah preventif terhadap maladaptif yang telah terdeskripsi di paragraf sebelumnya dengan metodologi LIWETAN yang dilaksanakan secara gotong royong antara anak dengan kaka-kakak volunter.
Taman Baca Lebani
*gambar baru sebagian