19/06/2026
MENGENANG BASRI MARZUKI
“FOTOGRAFER GERAKAN DEMOKRATIK”
Oleh Edmond Leonardo Siahaan
Basri Marzuki, kawan-kawannya memanggilnya dengan singkatan nama lengkapnya: BMZ yang juga menjadi akun Bmzimages.
Singkatan namanya itu p**a yang menjadi tanda dalam semua foto hasil jepretannya.
Saya kerap menikmati hasil karya fotografinya di album Facebook (FB) miliknya—serasa berselancar di pantai berpasir putih dan sejuk.
Foto-fotonya menggambarkan kemanusiaan, hubungan sesama manusia atau solidaritas—yang belakangan ini menjadi barang langka di dunia yang semakin materialistik dan individualis ini.
Belakangan ini BMZ lebih sering melihat postingan fotonya menikmati waktu dengan keluarga tercintanya, camping di gunung, pantai dan berbagai tempat lainnya.
Untuk menikmati momen-momen kebersamaan BMZ dan anaknya yang paling bontot, saya sering melihatnya di postingan istrinya, kerap disertai dengan keterangan atau momen lucu antara ayah dan anak.
Perawakannya yang kurus, berambut gondrong—tidak berubah sampai dengan hari berp**angnya, menjadi ciri khasnya. Mudah mengenali sosoknya, bahkan dalam keadaan demonstrasi yang chaos sekalipun.
Gayanya pun tak berubah sejak saya mengenalnya sejak awal tahun 2000-an: kaos, celana jeans dan sepatu outdoor yang biasa dipakai untuk berpetualang di alam bebas. Mirip demonstran sejati.
Awal tahun 2000-an saya mengenal BMZ, pasca tumbangnya Orde Baru (Orba)—ketika demonstrasi mahasiswa dan Organisasi Non Pemerintah (Ornop) masih kencang-kencangnya melawan sisa-sisa Orba.
Tahun 2003 ketika saya didapuk menjadi Koordinator (Adhoc) Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sulawesi, kami semakin intens bertemu.
BMZ selalu meliput demontrasi yang digelar oleh KontraS Sulawesi—nyaris tak pernah absen. Seperti ketika saya masih di Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Tengah (ED WALHI Sulteng).
Soal nyali, BMZ seakan-akan tidak punya urat takut. Dalam berbagai demonstrasi yang berujung chaos, saya tidak pernah menyaksikan dirinya lari dari area demonstrasi. Dengan pembawaannya yang tenang—dia tetap mengambil foto-foto chaos.
BMZ menjadi satu-satunya kawan yang saya percaya untuk memberikan informasi penting tentang demonstrasi yang digelar.
Biasanya dia berbisik kepada saya: Mond, ada chaos kah?. Ujarnya dengan berbisik.
Saya pun memberikan kode tertentu—dan dia paham arti kode itu. Sehingga dia bisa mempersiapkan diri dengan syal untuk menghadapi gas air mata, baterai kamera yang lebih banyak dan berbagai persiapan lainnya.
Karena seringnya meliput demonstrasi sejak awal tahun 2000-an, BMZ mengenal semua aktivis Mahasiswa dan NGO’s, bahkan menjadi kawan akrabnya sampai akhir hayatnya. Dia paham gaya orasi dan gaya demonstrasi dari masing-masing Aktivis itu.
Tahun 2018, saya yang memprovokasinya untuk membangun mobil offroad yang akan menunjang hobbynya mengeskplor alam bebas.
Akhirnya BMZ memiliki mobil berpenggerak 4X4, Suzuki Vitara berwarna Coklat Gurun. Dia menjadi anggota club mobil Suzuki Vitara Sulteng.
Beberapa tahun lalu, saya mendapat kabar dari istrinya, Yani Lapasere kalau mobilnya terbalik saat mengikuti event offroad di Kota Palu.
Selain sebagai fotografer, BAMZ kerap hadir sebagai demonstran, kami beberapa kali berdemonstrasi bersama-sama, BMZ sebagai massa demonstrasi—bukan sebagai fotografer. Demonstrasi yang gelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu yang berkaitan dengan kekerasan yang menimpa Jurnalis di Kota Palu, seperti yang menimpa salah seorang Jurnalis ANTARA, Naruto beberapa tahun lalu—atau demonstrasi solidaritas untuk berbagai daerah lainnya yang digalang oleh berbagai organisasi.
Saya pun ba gara (Dialek Palu: mencandai) BMZ, “Wah kalau ngana iko, siapa yang akan mengabadikan momen ini?”. Ujar saya.
Dia pun menjawab: “Ada banyak kawan yang meliput, kita ba iko demonstrasi jo, so rindu juga chaos.” Ujarnya memprovokasi saya.
“Baiklah kalau begitu, kita ba lempar duluan biar chaos, jangan ngana kase tinggal kita.” Timpal saya.
“Tidak juga begitu,” Ujarnya sambil tertawa.
Kecintaannya pada fotografi, tetap dijalaninya sampai akhir hayatnya. Saya menikmati foto-foto dalam perjalanannya: anak pantai di daerah nelayan yang terpinggirkan, nelayan tradisional, bahkan megalitikum yang harus terus dilestarikan.
Kawan-kawan Pewarta Foto pun menghormati sosoknya yang tidak sungkan-sungkan berbagi ilmu fotografi. Dia sosok yang murah berbagi ilmu dan pengalaman.
Saya mengenal BMZ yang memiliki idealisme yang tinggi—karya fotografi yang berpihak pada kaum yang terpinggirkan dan tertindas, petani yang terpinggirkan, para korban bencana Palu tahun 2018 lalu—bahkan aksi unjuk rasa para Aktivis 98 di Kota Palu belasan tahun lalu.
Hasil fotografi BMZ tidak akan menggambarkan kemewahan, atau puja-puji terhadap kapitalisme—sebaliknya, dia menggambarkan ketimpangan ekonomi-politik, seperti awal karirnya sebagai Jurnalis Desk Ekonomi di Mercusuar yang belakangan berubah menjadi Radar Sulteng.
BMZ yang saya kenal adalah Jurnalis yang profesional, memiliki idealisme tinggi, tidak latah menceburkan diri dalam gegap-gempita politik praktis.
Selain sebagai Fotografer hebat, BAMZ juga tercatat sebagai Ahli Dewan Pers Sulteng di akhir hayatnya.
BMZ berp**ang pada hari Jumat, 19 Juni 2026 pukul 00.30 WITA di RS Anutapura Palu.
BMZ meninggalkan banyak kenangan tentang kebaikan, idealisme dan kepedulian sosial.
Gerakan Demokratik berterima kasih atas kontribusinya dalam mengabadikan Gerakan-gerakan demokratik dari awal tahun 2000-an sampai hari ini.
Selamat jalan sobat, beristirahatlah dalam damai, Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan tempatNya yang terindah di sisiNya dan kuatkan rumpun keluarga yang berduka. (***)
Jumat, 19 Juni 2026
***********
Foto milik Bang Rio Ismail momen Almarhum BMZ memotret orator pada demonstrasi Akvitis 98 di Kota Palu sekitar tahun 2009.