Eko Kurniawan, S.H & Rekan

Eko Kurniawan, S.H & Rekan Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Eko Kurniawan, S.H & Rekan, Lawyer & Law Firm, Jalan Alai Timur No 25, Padang.

01/01/2025

Mencari keadilan untuk tahun 2025
Oleh Eko Kurniawan SH

Banyak yang bertanya apa bantuan hukum secara cuma cuma tanpa embel-embel atau hanya sebatas gratis. Pertanyaan timbul di saat kita secara tercepat jika bicara pos bantuan hukum.
Neh masalah klasik ditemukan dalam perjalanan pendamping hukum baik itu dalam konteks litigasi dan non litigasi. Cuman tidak melulu gratis 100 persen. Butuh adanya keterlibatan keluarga klien bahwa kerja lawyer, pengacara itu juga selevel dengan penegak hukum lainnya.Bedanya lawyer tidak ada gaji dari negara. Ini jadi poin yang kadang masih sulit diterima masyarakat pencari keadilan.

Supaya tidak melebar ke hal hal konteks syarat utama,memang bantuan hukum secara umum di Indonesia ibarat pepatah Hidup segan mati tak mau atau hidup segan mati enggan adalah peribahasa Indonesia berupa sindiran untuk menggambarkan seseorang yang tidak berbuat apa-apa karena tak memiliki tujuan hidup.
Ini jadi pelajaran bahwa bantuan hukum itu ada proses dan prosedur yang berlaku. Jika mampu sisi materi maka ini bukan hambatan,tapi jika berat diongkos,ya timbul lagi pro kontra. Maka pencari keadilan itu tak bisa ditawar tawar. Carilah lembaga bantuan hukum sesuai keadaan dapur.karena bumbu dan citra rasa menentukan. Salam bantuan hukum

Untuk keadilan untuk semua
03/06/2022

Untuk keadilan untuk semua

01/10/2019
01/10/2019

[30/9 17:40] +62 852-5910-7728: Gontor – PKI – Hizbullah

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Otomatis, Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Kyai di Pondok Takeran Magetan sudah dihabisi oleh PKI. Sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup. Kemudian PKI geser ke Ponorogo. Dengan sasaran Pondok Modern Darussalam Gontor.
KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), pun berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

“Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dkenali PKI aku iki. (Sudah Pak Sahal, Anda saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya Anda. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini,” kata Pak Zar.

Pak Sahal pun menjawab: “Ora, dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati“.

(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati”.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan pondok Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, “Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sakyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pondok Gontor.

Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Senjata ditembakkan. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok Gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari gedeg bambu dirusak. Buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sarana peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.
Akhirnya, PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, (putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari). Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Membiarkan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam keadaan porak poranda.

Semoga sejarah ini menjadi pengingat dan pelajaran berharga untuk perjuangan mempertahankan Islam, Pesantren, Bangsa dan Negara.

Ditulis oleh:
Ahmad Ghozali Fadli
Pelayan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang
Wasekjen Forum Muballigh Alumni (FMA) Gontor
[30/9 19:13] +62 812-3375-3789: *INILAH SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH.Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yg semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :*
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :*
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

Tahun 1951 :
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :*
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :*
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :*
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :*
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

Tahun 1963 :
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH.Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH.Isa Anshari, KH.Mukhtar Ghazali, KH.EZ. Muttaqien, KH.Soleh Iskandar, KH.Ghazali Sahlan dan KH.Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :* Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

Awal Tahun 1965 :
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :*
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :*
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :*
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :*
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT.Haryono, Letjen S.Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr.J.Leimena yang bersebelahan dgn Rumah Jenderal AH.Nasution.
PKI juga menembak Putri B**gsu Jenderal AH.Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain : Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief. Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi. Angkatan Udara : Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono. Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :*
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.
B
*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI.
*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
B**g Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

*Tgl 5 Juli 1966 :*
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH.Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

Bulan Desember 1966 :
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

Tahun 1967 :
Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI. Dari tahun 1968 s/d 1998 Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yg dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yg masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yg sangat panjang, dan jgn biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Tuhan YME senantiasa melindungi kita semua

*BAGIKAN SEJARAH INI.*
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG* sejarah bangsa.Memperingati Hari kesaktian Pancasila 1 oktober 2019

Karakter Datang dengan Proses PembelajaranOleh: Eko KurniawanPendidikan bukan sekadar bagaimana kita bersekolah, lalu de...
27/09/2019

Karakter Datang dengan Proses Pembelajaran
Oleh: Eko Kurniawan

Pendidikan bukan sekadar bagaimana kita bersekolah, lalu dengan ijazah kita mencari lapangan kerja. Maka sulit mencari bagaimana seharusnya pendidikan yang patut kita hadapi. Ya karakter sekarang ini memang sulit bagi kita sebagai warga negara Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter. Maka perlu adanya suatu ilmu filosofis yang kuat untuk membuktikan bahwa inilah karakter pendidikan yang masih banyak usaha untuk mencapainya.

Filosofis
Berbicara filosofis, rasanya terlalu ‘’berat’’ dikunyang-kunyang dalam buku dan tulisan pendidikan kali ini. Ibarat pepatah ada semut ada gula. Inilah sebuah kata-kata yang lebih menjelaskan bahwa sebuah kegiatan lembaga pendidikan tentu ada efek positif yang dirasakan para penghuninya. Yaitu idealisme dan karakter ‘’kebal’’ (kemauan belajar) membentuk daya kuat dalam menghadapi tantangan.

Pembentukan karakter akan terjadi secara alami. Bukan dibuat-buat seperti sandiwara. Sandiwara jika dimainkan maka efeknya mendatangkan masalah kemudian hari. Maka di sini dituntut sebuah proses. Tak kenal dengan sekolah sebagai pendidikan pemerintah maka tak pernah merasakan nikmatnya menu-menu ‘’lezat’’ bengkel membaca, diskusi serta menulis.

Lembaga pendidikan sesungguhnya berada dalam tengah kehidupan masyarakat. Banyak ha dapat kita lihat bagaimana anak didik tak terjebak dalam sebuah karakter. Pendidikan karakter itu butuh proses. Maka diperlukan sekali bagaimana sikap seorang guru melahirkan sebuah karakter khas dalam kota tempat institusi pendidikan. Kota Padang belum mencerminkan sebagai karakter kota pendidikan.

Cita-cita mulia itu ibarat mencapai langit ketujuh. Ketika Para astronot menggapai bima sakti dengan teknologi NASA dengan super hebatnya, itulah karakter bangsa kuat contoh Amerika Serikat. Pendidikan Kota Padang juga tak memandang kekuatan itu harus dengan mantra-mantra yang bin ajaib. Bukan itu subtansinya. Subtansinya harus kita lihat bahwa kearifan lokal perlu melihat budaya Minangkabau.

Budaya Minangkabau menginginkan mantra-mantra ‘’cinta’’. Cinta bagi manusia adalah rasa yang lahir dari anugerah. Tapi cinta Minangkabau mengedepankan kecintaan terhadap budaya lokal bukan soal hubungan mesra dua insan menjalin kasih. Cinta adalah spirit bagaimana kita tahu akan potensi diri, karakter diri dan sikap membangun masa depan dengan mimpi-mimpi misal dalam film ‘’Laskar Pelangi’’ dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Membayangkan masa depan tak cukup dengan mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi itu hanya lezat di dalam, belum tentu kenyang di luar. Maksudnya, mencari keakraban dengan lembaga atau organisasi tak boleh dipaksakan. Itu semua panggilan jiwa.

Indentitas kita sebagai umat beragama terletak dari sikap patuh menjalankan ibadah. Indentitas kita sebagai warga negara salah satunya kita wajib membayar pajak. Tapi, indentitas kita sebagai bagian mahasiswa tergabung dalam sikap mau membagi kesempatan ilmu yang kita sandang. Ilmu itu dicari bukan saja di bangku kuliah, sama-sama kita lakoni. Lakoni dari karakter diri ingin tahu.

Ilmu dalam berorganisasi itu luas. Ibarat padang pasir yang tandus dan gersang, oase di tengah gurun pelepas dahaga bagi para musafir dalam perjalanan. Jika musafir itu mati kehausan, tentu suatu kerugian besar bagi orang-orang yang mencintainya (Ibunya). Ketika ini dibawa dalam situasi dan kondisi ke sebuah lembaga, maka musafir itu lahir dari rahim Ibu yang hidup dari kalangan sederhana. Sederhana maksudnya adalah musafir itu siap berjuang dengan cita-citanya menuju ke rumah Ibunya.

Kata B**g Karno, jangan pernah melupakan sejarah (jas merah). Masyarakat kita dan budayanya memiliki sejarah yang panjang. Lahir dari ha yang mendepankan usaha untuk lebih mendekatkan diri dengan sistem agama Islam, negara dan adat. Pada pendiri memiliki cita-cita dan mimpi-mimpi ingin mengubah pandangan mahasiswa Kota Padang yang hanya jago bicara saja, menulis ‘’miskin’’ tak ada nyali. Maka lahirnya pendidikan komunitas berkarakter dari rahim kampus merah adalah mimpi-mimpi yang menghiasi dinamika kampus.

Sejarah, tak akan berguna di mata mahasiswa jika ia sendiri lupa akan kapan ia dilahirkan ke dunia ini. Jika itu sudah ia lupakan maka jangan harap ia akan menjadi sosok pengubah waktu. Pernah menonton Doraemon, yang memiliki kantong ajaib. Maka, kantong ajaib bagi masyarakat Jepang mengingat masa lalu adalah kunci menentukan putusan hari ini.

Bayangkan jika bangsa ini lupa akan hari kemerdekaannya, tak akan pernah B**g Karno dan Hatta ditulis dalam pelajaran sejarah bangsa ini. Jika para penghuni Gema Justisia lupa akan akar sejarahnya, jangan harap mimpi-mimpi ingin ke langit ketujuh jadi kenyataan. Pasti bohong melekat pada terorika ia gemborkan (retorika itu seni bicara yang maha hebat layaknya orang orasi). Tapi jika hanya digunakan merayu untuk kepentingan sepihak, retorika yang dibangun tak akan berhasil.

Visi dan misi tak hanya slogan semata. Makna tersirat dalam visi dan misi adalah mimpi melawan ketidakadilan. Hukum dekat dengan keadilan. Tapi keadilan belum tentu dekat dengan orang-orang marginal (terpinggirkan). Berjuang dengan kuli tinta adalah media untuk melawan ketidakadilan itu. Banyak orang mengaku sudah hebat, tapi sesungguhnya keteladanan masih belum dapat ia raih. Bayangkan jika kawan-kawan oke dalam prestasi akademik, tapi ketika ujian berbuat curang. Apakah ini ketidakadilan? Coba deh kawan-kawan tanya dulu dengan hati nurani.

Rupen Murdoch. Siapa yang tak kenal dengan sosok ini. Ia adalah raja perusahaan media raksasa yang menguasai lebih sepertiga media pengaruh di dunia. Grup News Corporation sekarang jadi bintang di jagad media dunia.Ia jadi orang terkaya ke 117 di dunia pada Maret 2011. Rahasianya ia hebat adalah kerja keras. Kerja keras melahirkan kekuatan spirit tanpa kenal menyerah sebelum bertanding.
Siapa yang tak kenal B**g Candra. Ia salah satu motivator yang milyader di usia 24 tahun. Apa katanya tentang sukses. ‘’Sukses itu kalau kita bisa lebih baik dari kemarin. Setiap peningkatan kualitas hidup, ya itulah sukses. Tidak penting siapa Anda sekarang, tetapi ingin seperti apa anda besok,’’ ungkapnya (majalah Elshinta, edisi November 2011).

Buya Ahmad Syafii Maarif. Siapa tak kenal dengan Beliau. Asli Sumpur Kudus Minang, menjadi bagian dari deretan tokoh nasional berpengaruh di jagad republik ini. Apa katanya? ‘’Saya tidak menyesal menjadi orang Indonesia, bahkan dengan penuh kebanggaan perasaan syukur tetap menyertai kehidupan saya yang sekarang berusia 76 tahun. Namun,mengapa jiwa saya tetap saja berontak mengamati perkembangan Tanah Air, yang teramat jauh dari cita-cita kemerdekaan,’’ kata Buya dalam tulisannya ‘’Indonesia 2050 seperti Apa?’’(Kompas, Senin 17 Oktober 2011).

Muhammad Fatih, Sang Penakluk, Pecinta Ilmu. Hidup di era abad 17, yang jadi kebangaan kota Konstatinopel, Turki. Tokoh ini bisa jadi inspirasi kawan-kawan dalam menghadapi ‘’keringnya ilmu pengetahuan keadilan’’. Ia memihak dengan kebenaran. Sehingga ia menghukum orang dengan kebijakan yng telah ditetapkan. Baginya keadilan adalah segala-galanya.

Puisi untuk spirit ilmu
Buku itu cahaya
Buku adalah guru
Tempat kita bertanya
Yang sangatlah sabarnya
Cara menjawabnya
Buku lautan ilmu
Mudah dibawa-bawa
Baca di mana saja
Bila dan kapan saja
Buku itu cahaya
Menerangi akal kita
Menerangi hati kita
Menerangi alam raya
Ketika kita membaca buku
Kita mendapatkn pencerahan
Kegembiraan, pengetahuan
Kesetia-kawanan, kearifan
Kita mengenal alam semesta
Kita kenal manusia akhirnya
Kita kenal sendiri akhirnya
Mengenal Tuhan pada akhirnya.

2006, Taufiq Ismail

Taufiq Ismail, sastrawan nasional orang Bukittinggi. Beliau sudah memiliki rumAh puisi di di depan gunung Singgalang dan Merapi. Tepatnya jalan raya Padang-Bukittinggi. Beliau ingin mewarisi kehidupan ini dengan segenap puisi-puisi yang bermakna luas. Seluas samudera. Inilah beliau yang banyak melahirkan karya hidup di tiga era. Era orde lama, orde baru dan reformasi.

Kampus adalah roh orang-orang yng tahu akan masa depan bangsa, agama, dan perdaban manusia.
Jika roh itu disalahgunakan maka mau jadi apa bangsa neh kedepannya. Roh itu lahir dri niat baik.

Eko Kurniawan, Padang, 25 September 2011, pukul 20.33.15 WIB.

Address

Jalan Alai Timur No 25
Padang
25139

Telephone

+85263296106

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Eko Kurniawan, S.H & Rekan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share