19/04/2015
Pura-pura tidak tahu atau tidak peduli
------------------------------------------------
Bila Anda sebagai pengusaha, jadilah pengusaha yang baik agar Allah bangga melihatnya, jadilah pegawai negeri yang mengayomi rakyat, jadilah petani yang baik, jadilah gembala yang memberikan perlindungan dan yang mampu memberikan tuntunan bagi domba-domba menuju rumput yang hijau dan air yang tenang. Jadilah seorang politikus yang mengerti hari rakyat dan yang merasa berhutang untuk memperjuangkannya. Jadilah hakim, pengacara, polisi, jaksa yang memiliki kebijaksanaan dan keadilan yang membuat Allah tersenyum. Jadilah seorang guru yang berjiwa pendidik dan pemberi contoh moral yang baik. Jadilah seorang dokter yang berjiwa pelayan dan yang memiliki belas kasihan.
Bayangkan bila kita telah memiliki peran masing-masing dan menjalankannya dengan baik, sungguh sangat menyenangkan, dan memberikan kedamaian. Tetapi apakah yang telah terjadi kini?
Seorang politikus hanya mengerti dan mengetahui apa yang ia inginkan, sehingga ia tidak segan-segan meminta belas kasihan orang lain agar ia dipilih. Bukankah seharusnya rakyatlah yang meminta belas kasihan padanya agar ia bersedia menyuarakan hati rakyat, mewakili keinginan rakyat? Maka yang ia harus bangun jauh hari sebelumnya sebenarnya adalah bagaimana ia melakukan kepedulian, aksi dan kegiatan yang memang bermanfaat bagi rakyat. Rakyatlah seharusnya yang lebih berkepentingan untuk diwakili, bukan ambisinya yang lebih besar, yang ia miliki.
Di lain pihak, ada p**a seorang gembala yang hanya memilih-milih domba yang gemuk dan panjang bulu dombanya, bukan untuk dilindungi, dituntun dan dipelihara tetapi untuk dipotong dan dicukur bulunya. Alasannya adalah membangun pelayanan, tetapi telah menjadi gembala yang “ajaib” dan “liar”, sebentar-sebentar ada di Jakarta, sebentar-sebentar ada di Surabaya yang menurutnya adalah suatu kebanggaan, padahal domba-dombanya sendiri tidak dikenal olehnya, bahkan identitasnya, apalagi permasalahannya. Kalaupun ada juga gembala yang agak “jinak”, mereka hanya asyik membangun fisik/gedung gereja, bukan pembangunan sosial, mental dan kerohanian jemaat secara menyeluruh.
Saya tidak akan perpanjang keberadaan kita saat ini , atas yang telah terjadi terhadap profesi lainnya. Hal itu hanya akan menambah kegusaran Anda. Saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak hamba Tuhan, apa pun profesinya, telah pura-pura lupa akan fungsi dan perannya, atau sama sekali tidak peduli.
Artikel ke 8 dari: Ngawan Tarigan