Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan

Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan Menghadirkan syalom Allah dibidang ekonomi dan sebagai pelayan yang lebih jujur, adil, bergotong-royong, disiplin dalam berusaha dan berkarya.

Kata sebagian orang, organisasi kristen hanya ganti baju, orangnya tetap lama,L4 lo lagi lo lagi, paradigma lama. Tidak ...
05/05/2015

Kata sebagian orang, organisasi kristen hanya ganti baju, orangnya tetap lama,L4 lo lagi lo lagi, paradigma lama. Tidak demikian dengan Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan, adalah orang baru...tumbuh dari lokal...kerja nyata...Doakan dan mari perjuangkan bersama.Telah kita presentasekan 24 April 2015 di Grand Aston Hotel Medan.

21/04/2015

Profesional itu…(1)

Anda telah menjadi hamba Tuhan? Anda telah memilih bidang tertentu sebagi profesi Anda? Apakah Anda tahu persis permasalahan di sekitar profesi yang Anda tekuni? Untuk mengetahui setiap permasalahan di bidang yang kita tekuni memerlukan cukup waktu. Ada dasar-dasar keilmuan yang harus kita miliki agar kita dapat mengetahui dan menganalisis setiap persoalan. Bila Anda seorang gembala/pendeta, . tidak cukup hanya ayat-ayat Alkitab sebagai referensi Anda. Diperlukan pengetahuan kelimuan lain untuk menerjemahkan firman Tuhan, apalagi bila jemaat menuntut peran serta secara praksis.

Biasanya untuk mengetahui permasalahan, kita harus mendapatkan data kwantitif atau kwalitatif. Pengump**an data memerlukan teknik dan metode tertentu. Setelah data diperoleh kita harus dapat menganalisnya dengan teori-teori. Tentu sebelumnya kita pun harus mengerti setiap defenisi dan konsep yang membentuk teori. Inilah seharusnya tahapan dalam menemukan suatu permasalahan dan persoalan. Tentu agar sampai pada proses ini adalah memerlukan waktu dan fokus .
Apapun profesi kita agar dapat disebut professional , pertama-tama adalah harus focus. Tanpa focus setiap hasil pekerjaan tidak akan memuaskan, asal jadi. Di dalam bidang apa pun yang kita geluti, kita memerlukan waktu yang panjang untuk melatih diri, mendapatkan ketrampilan dan pengetahuan dan mampu menghasilkan prestasi agar akhirnya memperoleh imbalan yang setimpal. Itulah professional.

Dalam konteks professional sebagai hamba Tuhan adalah bagaimana kita dapat mempersembahkan hasil yang terbaik yang diinginkan Tuhan atas hasil pekerjaan kita. Kita telah diberikan imbalan lebih oleh Tuhan atas bidang pekerjaan yang kita layani. Karena itu tolak ukur keberhasilan suatu pekerjaan adalah juga bagi yang memberikan “order” terhadap pekerjaan itu. Kita dapat disebut professional di mata Tuhan bila kita telah melakukan suatu pekerjaan yang hasilnya seperti yang diinginkan Tuhan.

Apakah saya telah membangun suatu gereja dan system penggembalaan yang diinginkan Tuhan? Apakah saya telah merencanakan suatu usaha yang sesuai dengan keinginan Tuhan? Apakah usaha saya etis, menyalahi hukum, berguna bagi masyarakat, memiliki nilai- nilai pelayanan ? Apakah usaha saya hanya mengejar keuntungan semata, tanpa memperhatikan faktor manusia dan lingkungan. Apakah usaha saya memberikan kedamaian kepada saya ataukah membuat saya “terpenjara”, tersiksa, lupa makan dan istirahat, juga lupa memuji Tuhan ?

Artikel ke 10 dari: Ngawan Tarigan

Hamba yang profesional-------------------------------Asal Anda sudah putuskan akan menjadi hamba Kristus, itu sudah baik...
20/04/2015

Hamba yang profesional
-------------------------------

Asal Anda sudah putuskan akan menjadi hamba Kristus, itu sudah baik. Tetapi akan menjadi akan sangat baik bila anda menjadi hamba yang professional. Waduh… bagaimana p**a yang dimaksud sebagai hamba yang professional? Ya… memang profesionalisme sudah menjadi keharusan dalam jaman modern ini, tidak bisa dihindarkan, apalagi yang telah menyandang hamba-hamba Tuhan.

Pemilik perusahaan dimana Sumarni bekerja pastilah bukan orang bodoh. Ia tahu persis bahwa perusahaan yang akan diwariskannya tidak akan hancur di tangan seorang pembantu rumah tangga. Masak diwariskan kepada orang sembarangan hanya atas dasar emosional. Sumarni ini memiliki pendidikan yang cukup. Meski hanya SMA tetapi ia mengerti tugas dan tanggungjawabnya dengan benar. Lagi p**a apa bedanya lulusan perguruan tinggi dengan tamatan SMA jaman sekarang ini? Kalau pun kita harus mengatakan berbeda, istilah anak muda betis (beda tipis) lah.

Sumarni hanya perlu diberikan bimbingan dan pengarahan. Kalau pekerjaan teknis, manajemen dan ilmu lainnya, ooo… jaman sekarang mudah dimiliki. Namanya saja sudah jaman modern, semua informasi dan teknologi mutahir gampang didapatkan. Yang sulit dicari adalah orang yang memiliki rasa tanggungjawab, yang mengerti tugas dan tanggungjawabnya, dapat mengantisipasi masa depan dan menindaklanjutinya sejak awal. Itulah hamba yang professional. Sumarni adalah pembantu yang professional, bahkan ia mampu mempersiapkan suasana yang diinginkan tuannya. . Tuannya terkejut, Sumarni telah mempersiapkan ulang tahun tuannya, lilin ala kadarnya.

Apakah kita telah menjadi hamba yang professional di mata Tuhan ? Pertanyaan ini pun belum mampu kita menjawabnya sebelum kita menjawab mampu menjawab permasalahan apakah yang terjadi di sekitar kita dan peran apakah yang dapat kita ambil dalam memecahkannya. Adakah seorang dokter yang dapat menyembuhkan seorang pasien bila ia tidak tahu penyakit yang diderita pasiennya? Adakah seorang gembala/pendeta/hamba Tuhan yang dapat berdoa untuk jemaatnya, memberikan masukan, pengarahan dan bimbingan bila ia tidak tahu persis persoalan setiap jemaatnya?

Gembala sekarang sepertinya telah dilanda modernisasi, bukan mengarah kepada profesionalisme. Karena jaman modern, gembala telah gampang pergi ke sana kemari meninggalkan dombanya. Identitas jemaatnya saja sudah tidak dikenal, apalagi setiap permasalahannya. Bagaimana gembala bisa menjadi “penyembuh”, cukupkah dengan doa?

Artikel ke 9 dari: Ngawan Tarigan

19/04/2015

Pura-pura tidak tahu atau tidak peduli
------------------------------------------------


Bila Anda sebagai pengusaha, jadilah pengusaha yang baik agar Allah bangga melihatnya, jadilah pegawai negeri yang mengayomi rakyat, jadilah petani yang baik, jadilah gembala yang memberikan perlindungan dan yang mampu memberikan tuntunan bagi domba-domba menuju rumput yang hijau dan air yang tenang. Jadilah seorang politikus yang mengerti hari rakyat dan yang merasa berhutang untuk memperjuangkannya. Jadilah hakim, pengacara, polisi, jaksa yang memiliki kebijaksanaan dan keadilan yang membuat Allah tersenyum. Jadilah seorang guru yang berjiwa pendidik dan pemberi contoh moral yang baik. Jadilah seorang dokter yang berjiwa pelayan dan yang memiliki belas kasihan.

Bayangkan bila kita telah memiliki peran masing-masing dan menjalankannya dengan baik, sungguh sangat menyenangkan, dan memberikan kedamaian. Tetapi apakah yang telah terjadi kini?

Seorang politikus hanya mengerti dan mengetahui apa yang ia inginkan, sehingga ia tidak segan-segan meminta belas kasihan orang lain agar ia dipilih. Bukankah seharusnya rakyatlah yang meminta belas kasihan padanya agar ia bersedia menyuarakan hati rakyat, mewakili keinginan rakyat? Maka yang ia harus bangun jauh hari sebelumnya sebenarnya adalah bagaimana ia melakukan kepedulian, aksi dan kegiatan yang memang bermanfaat bagi rakyat. Rakyatlah seharusnya yang lebih berkepentingan untuk diwakili, bukan ambisinya yang lebih besar, yang ia miliki.

Di lain pihak, ada p**a seorang gembala yang hanya memilih-milih domba yang gemuk dan panjang bulu dombanya, bukan untuk dilindungi, dituntun dan dipelihara tetapi untuk dipotong dan dicukur bulunya. Alasannya adalah membangun pelayanan, tetapi telah menjadi gembala yang “ajaib” dan “liar”, sebentar-sebentar ada di Jakarta, sebentar-sebentar ada di Surabaya yang menurutnya adalah suatu kebanggaan, padahal domba-dombanya sendiri tidak dikenal olehnya, bahkan identitasnya, apalagi permasalahannya. Kalaupun ada juga gembala yang agak “jinak”, mereka hanya asyik membangun fisik/gedung gereja, bukan pembangunan sosial, mental dan kerohanian jemaat secara menyeluruh.

Saya tidak akan perpanjang keberadaan kita saat ini , atas yang telah terjadi terhadap profesi lainnya. Hal itu hanya akan menambah kegusaran Anda. Saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak hamba Tuhan, apa pun profesinya, telah pura-pura lupa akan fungsi dan perannya, atau sama sekali tidak peduli.

Artikel ke 8 dari: Ngawan Tarigan

18/04/2015

Tidak tahu
--------------

Setiap orang Kristen adalah hamba Allah yang diterima bekerja untuk melayani sesama manusia. Sebagai hamba seharusnya kita mengerti tugas utama kita dan seharusnya mengerjakannya dengan baik. Kita harus bersyukur karena kita telah memiliki pekerjaan masing-masing. Marilah kita bekerja dan menghasilkan karya yang berguna bagi kemanusiaan dan yang menyenangkan hati Tuhan.

O… saya masih pengangguran. Saya masih belum memiliki pekerjaan apa- apa, jaman krisis ini tidak gampang mencari pekerjaan. Diantara Anda, mungkin inilah yang ingin Anda katakan kepada saya. Saya ikut prihatin dengan apa yang anda alami. Mengapa ? Pertama, mungkin karena Anda tidak sadar bahwa Anda telah diterima sebagai karyawan di “perusahaan” dunia Allah. Kedua, meskipun Anda sadar telah diterima tetapi tidak tahu apa yang dapat Anda kerjakan. Saya kasihan kepada Anda karena Anda tergolong seorang manusia yang tidak memiliki inisiatif. Maaf, Anda mungkin seperti kerbau yang ditarik hidungya baru mengerti apa yang harus ia kerjakan.

Apakah diam itu salah? Apakah menganggur itu berdosa? Saya tidak akan memberi jawaban. Mungkin ya, karena kita telah diterima sebagai karyawan tetapi kita tidak bekerja. Bukankah perhitungan gaji Anda telah berjalan sejak Anda diterima sebagai karyawan. Bukankah kehidupan ini adalah “upah” yang telah kita terima? Maha guru kita pun telah pernah mengatakan, siapa yang tidak bekerja tidak layak makan.

O…Anda masih tetap belum bisa menerima. Anda mungkin mengatakan bahwa Allah itu baik. Ia akan menerima setiap orang yang ingin menjadi hambaNYA. Anda benar. Tetapi bila hanya itu yang Anda andalkan, maka Anda tidak akan pernah dapat berkembang, paling tidak Anda tidak akan pernah mengetahui apa yang akan menjadi pekerjaan utama Anda. Anda tidak akan pernah mengatahui Anda sebenarnya sebagai hamba di bidang apa.

Saya menyarankan, kerjakanlah apa saja. Biarkanlah orang lain tersenyum geli atas apa yang Anda kerjakan. Masih ingatkah Anda ketika saya kebingungan dan mengambil inisatif mencuci gelas di perusahaan dimana saya baru diterima bekerja? Paling tidak saya telah membuat tersenyum banyak orang, menimbulkan rasa simpati, membangun komunikasi non-verbal, untung untung ada orang yang mengarahkan saya sesuai dengan kapasitas saya sebagai seorang sarjana. Kerjakanlah apa saja, buatlah Allah tersenyum, Allah pasti memberikan bimbingan sesuai dengan talenta yang telah Anda miliki.

Artikel ke 7 dari: Ngawan Tarigan

17/04/2015

Hamba di bidang apa?
----------------------------

Setiap orang Kristen adalah hamba Allah yang ditugaskan menjadi pelayan bagi sesamanya. Artinya kita harus hanya taat kepada Allah dan bersyukur kepadaNYA. Tetapi kita harus hati –hati, bahwa pelayanan sebagai ucapan syukur manusia kepadaNYA diminta Allah untuk diwujudkan dalam bentuk melayani sesama manusia. Mengapa ? Pertama, manusia itu masih ada di dunia, karena itu bila pun kita layak/diminta memberi pelayan kepadaNYA bagaimana kita dapat melayani Allah yang tidak tampak itu, kecuali ekspresi rasa syukur kita dengan bernyanyi dan berdoa. Kedua, Semua yang ada adalah ciptaan Allah dan dikasihinya karena itu wajib kita memelihara, menjaga dan memberikan keharmonisan kepada semuanya. Maka sewajarnyalah kita menjadi pelayan Allah di bumi bekerja menjaga keutuhan ciptaanNYA. Hanya inilah bentuk nyata ucapan terimakasih kita padaNYA.

Pada saat saya pertama kali diterima bekerja saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Saya belum diberi pengarahan, lagi p**a saya belum memiliki pengalaman kerja. Lalu apa yang saya lakukan ? Saya kan sudah diterima bekerja di sini? Saya harus berbuat sesuatu, bisa-bisa saya dianggap tidak inisiatif dan akhirnya nanti dipecat, tidak melamar dan diterima bekerja di perusahaan besar seperti ini. Saya mencari –cari pekerjaan apa yang mungkin yang saya lakukan. Oh… saya bersyukur, akhirnya saya menemukan pekerjaan itu. Di meja, di ruangan pertemuan berserakan gelas – gelas yang kotor, belum sempat dibersihkan. Saya segera ambil dan mencucinya.

Apa yang saya kerjakan adalah baik, tidak ada yang salah. Tetapi mengapa saya merasa ada yang aneh? Mengapa semua orang melirik saya dengan tersenyum dan menahan tawa? Saya berusaha menguasai keadaan, memanggil segera apa yang namanya kepercayaan diri, sambil mencari apa yang kira kira menimbulkan keadaan dan suasana yang demikian. Besoknya baru saya sadar, bahwa saya kan diterima sebagai account executive, bukan sebagai cleaning service. Kejadian ini menjadi lelucon di kalangan karyawan perusahaan ketika itu. Ya, memang tidak ada ruginya saya melakukan itu, malahan untungnya yang ada, saya segera dikenal oleh banyak teman-teman dengan julukan Mr. Clean.

Tuhan pun mungkin sering tersenyum dengan apa yang kita lakukan. Tuhan bangga dengan kita karena telah diterima sebagai hambaNYA untuk bekerja di dalam “perusahaan” duniaNYA. Apakah kita bermaksud agar Tuhan merasa geli dan tersenyum terus - menerus ?
Tentu tidak. Karena itu cobalah Anda mengetahui sebenarnya Anda hamba di bidang apa dan segera kerjakan pekerjaan utama Anda.

Artikel ke 6 dari: Ngawan Tarigan

Yang pertama dilakukan?--------------------------------Dari renungan – renungan yang telah Anda lalui,  semoga Anda  sam...
16/04/2015

Yang pertama dilakukan?
--------------------------------

Dari renungan – renungan yang telah Anda lalui, semoga Anda sampai kepada kesimp**an bahwa untuk menjadi pewaris Anda harus menjadi hamba . Untuk mendapatkan warisan kerajaan sorga, ya …kita harus menjadi hamba Kristus. Anda sepakat ? Syukurlah. Tetapi mari hati- hati, sebab kita bisa gagal menjadi pewaris karena kita sering menjadikan pertanyaan utama adalah apa yang akan kita dapatkan, bukan apa yang harus kita lakukan sebagai hamba.

Saya percaya Sumarni pada saat mulai berkerja tidak melakukan tawar-menawar tentang gaji dan fasilitas yang akan diperolehnya. Oleh karena itu suami – istri pemilik perusahaan dengan bahagia mewariskannya. Tidak seperti manager lainnya yang sudah melakukan kesepakatan terlebih dahulu tentang imbalan yang didapatkannya. Bila kita telah mengadakan kesepakatan kerja, maka itulah yang hanya menjadi hak dan bagian kita.

Apakah maksud saya kita tidak pantas menanyakan apa yang kita akan peroleh bila kita akan bekerja kepada seseorang? Bukan itulah maksud saya. Yang saya maksudkan adalah bahwa Allah akan lebih memperhatikan hambanya yang pertama-tama mempertanyakan tugas dan kewajibannya dan melakukannya dengan baik dari pada hamba yang selalu menuntut hak-haknya. Sebab bukankah apa yang telah kita peroleh sesungguhnya telah melebihi apa yang menjadi hak kita? Apakah yang menjadi hak kita melebihi kehidupan yang telah diberikan oleh Allah?

Memang perlu untuk mengetahui apa yang akan kita peroleh atau dapatkan bila kita mengerjakan sesuatu. Tetapi sering hal itu mengganggu konsentrasi kita untuk bekerja. Jangan-jangan majikan dimana kita bekerja tidak memenuhi janji-janjinya. Atau sering juga kita bertanya adilkah yang akan kita dapatkan itu dibandingkan dengan pekerjaaan yang kita kerjakan di perusahaan dimana kita bekerja? Jangan-jangan tenaga saya diperas dan akhirnya, kita tidak maksimal bekerja. Bisa jadi kita akhirnya menjadi gagal bekerja. Itulah kenyataannya di dunia. Banyak para pemimpin perusahaan tidak memiliki nilai etis, apalagi memiliki nilai-nilai pelayanan. Masih jauh panggang dari api.

Tetapi bersyukurlah , Anda bukan menjadi hamba manusia tetapi menjadi hamba Kristus. IA maha adil, bahkan melebihi dari itu, IA pemurah dan akan mewariskan kerajaanNYA kepada kita, asal kita benar-benar tidak salah langkah. Apa yang pertama yang akan kita lakukan, yaitu mengetahui apa yang akan kita kerjakan sebagai hamba.

Artikel ke 5 dari: Ngawan Tarigan

Hamba Kristus atau…..?------------------------------Masih  ingat cerita Sumarni ?   Ia   adalah pembantu rumah tangga   ...
13/04/2015

Hamba Kristus atau…..?
------------------------------

Masih ingat cerita Sumarni ? Ia adalah pembantu rumah tangga seorang biasa, tingkat pendidikan SMA, bukan pendidikan tinggi seperti manager yang bekerja pada perusahaan tuannya. Ternyata tingkat pendidikannya yang pas-pasan cukup membawa ia menjadi pemilik perusahaan yang diwariskan tuannya kepadanya. Dimana rahasianya?

Ir. Majdur ( maju mundur, nama samaran) adalah lulusan perguruan tinggi negeri ternama, pernah menduduki posisi puncak pada sebuah perusahaan, cukup dekat dengan pemilik perusahaan. Tetapi kini sudah kembali ke kampung halaman, bertani seperti ayah dan nenek moyangnya dulu. Mengapa terjadi demikian?

Saat pesta adat sebuah pernikahan, saya pun berbincang – bincang tentang pengalaman hidup dengan Ir Majdur, bertukar pengalaman, sekalian nostalgia masa lalu. Saya pun bercerita tentang masa-masa silam yang kelam, keluarga, karir dan semua harapan yang masih tersisa ( saya pun termasuk Mr Majdur) Tibalah saatnya ia menceritakan tentang pengalamannya dulu ketika mencapai posisi puncak sebuah perusahaan.
Posisi ini ternyata telah disalahgunakannya. Pemimpin perusahaan tentu tidak menginginkan agar Ir, Majdur membuat strategi tersendiri, apalagi tanpa persetujuan pemimpin perusahaan, dalam menjalankan misi perusahaan. Tapi kini Ir, Majdur telah membuat strategi lain yang menyimpang dan bahkan telah membuat kebijakan-kebijakan tersendiri yang telah keluar dari misi yang telah ditetapkan oleh pemimpin perusahaan. Alhasil…. ya dipecat, harus mundur, meski telah maju. Ini bukan strategi mundur untuk maju, kenangnya penuh penyesalan.

Bukankah dalam mengikut Kristus inilah yang sering kita lakukan? Kita telah dipercayakan Kristus untuk memegang tanggungjawab dan wewenang tertentu dalam hidup kita. Mungkin kita telah pernah menduduki pendidikan tertentu, telah memiliki keluarga, anak dan pekerjaan tertentu, telah diberikan tugas melayani sebagai umat Kristen. Tetapi mengapa kita tidak memanfaatkan pendidikan, keahlian dan tanggungjawab yang telah kita peroleh.Bukankah apa yang terjadi dalam hidup kita adalah sesunguhnya strategi Allah? Akankah kita terus membuat strategi tersendiri? Jadi hamba siapakah kita ? Hamba Kristus atau hamba……? Untung Kristus tidak pernah memecat kita, sehingga kita sering menghibur diri dengan mengatakan lagi “ ini adalah strategi mundur untuk maju”

Artikel ke 5 dari: Ngawan Tarigan

Mari bergabung dengan Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan...Gerakan yang melahirkan syalom Allah ditengah-tengah kete...
12/04/2015

Mari bergabung dengan Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan...
Gerakan yang melahirkan syalom Allah ditengah-tengah keterpurukan ekonomi dinegeri ini...

Kami mengundang:
1. Pencari Kerja
Mereka yang ingin bekerja sebagai karyawan gudang, adminsitrasi, supir, salesman, pengawas, pelayan toko / rumah makan dan lain –lain.

Syarat: Pria/ Wanita, SMA/SMK, maks. 25 tahun, Teliti, aktif dan bertanggungjawab, Words, Exel, Internet (administrasi) SIM A/C (Koordinator Lapangan / Supir / Salesman).
Bersedia mengikuti training.

2. Management Trainee
Bersedia mengikuti training 3 bulan. Bagi yang lulus akan bertanggungjawab terhadap suatu pekerjaan / program kerja dilingkungan usaha, lembaga, kelompok usaha.

Syarat: Sarjana Semua Jurusan, Pria/wanita, maksimal 30 tahun, mengikuti seminar/ presentase, lulus seleksi/wawancara.

3. Calon Pengusaha/Pengusaha binaan
Mereka yang ingin menerapkan nilai- nilai kristiani dan etika bisnis yang baik dalam berusaha . Atau pengusaha yang telah bosan berusaha dengan cara lama, ingin bergotong royong, ingin mendapatkan pengembangan wawasan dan pembinaan usaha secara rutin. Yang ingin hidup sejahtera dan bahagia.

Syarat: Jujur dan bertanggung-jawab, Lebih diutamakan minimal SMA / SMK , maksimal 40 tahun. Lulus survey, seleksi dan wawancara . Bersedia mengikuti pelatihan

4. Pemodal/Investor
Mereka yang ingin menanamkan modalnya pada usaha- usaha yang aman / resiko rendah, tingkat keuntungan yang baik, objektif, realistis, dapat dipahami, berpihak kepada ekonomi kerakyatan, dan ingin berusaha sambil melayani.

5. PENULIS/PRESENTER/KONSULTAN
Mereka yang ahli di bidangnya yang ingin memberikan partisipasi dan sumbangsihnya kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Admin: 0821 3697 8790

12/04/2015

Hamba atau tidak
-----------------------

Siapa yang ingin menjadi terkemuka
diantara kamu, jadilah hamba.

Seorang pengusaha yang sudah tua, tidak memiliki anak, suatu hari berpikir tentang suatu ide. Ide tersebut adalah memberikan suatu penghargaan kepada seseorang yang dianggap paling pantas menerimanya. Ia tidak menyebutkan kriteria orang yang akan menerimanya. juga tidak mengatakan bagaimana cara menyeleksinya. Ia tugaskan istrinya, yang kebetulan menjabat sebagai manager personalia, untuk mengusulkan siapakah kira- kira orang yang akan mendapat penghargaan tersebut.

Istrinya menjadi bingung mendapat tugas ini. Bagaimana ia dapat menemukan atau memutuskan seseorang sehingga menjadi pantas menerima penghargaan. Ada beberapa manager yang dianggap cukup baik, pintar, cakap dalam bekerja . Para manager tersebut mendapatkan imbalan yang sungguh lumayan, gajinya tinggi, fasilitas lainnya pun telah disediakan. Tetapi ternyata manager tersebut secara sembunyi – sembunyi mempunyai usaha- usaha lainnya, bahkan sering fasilitas kantor digunakan olehnya, telepon, mobil perusahaan dan bahkan waktu kerja pun sering dipergunakan untuk kepentingan pribadinya. Ah… manager demikian tidak pantas menerima penghargaan. Sang istri berpikir.

Hari demi hari telah berlalu, tetapi tidak ada seorang pun dianggap istrinya yang pantas menerima penghargaan tersebut. Padahal waktu yang diberikan sang suami pun telah tiba, yaitu pada saat ulang tahun suaminya yang ke- 65. Hari ini lah saatnya, ketika mereka akan p**ang ke rumah bersama merayakan ulang tahunnya tersebut. Pasti suaminya nanti, pada acara makan malam berdua akan menanyakan siapakah kira- kira yang pantas menerima penghargaan tersebut.

Mereka sangat terkejut, makan malam telah tersedia, suasananya demikian romantis, dipersiapkan pembantunya, Sumarni. Pada saat mereka duduk berdua, mulai menyantap hidangan yang tersedia, sang suami berkata “Lalu siapa yang……” Langsung sang istri menjawab, “ Sumarni…(dalam pikiran si istri bahwa suaminya bertanya siapa yang mempersiapkan segala sesuatunya sehingga mereka dapat menikmati makan bersama) . Wajah suami segera cerah, kemudian berdiri dan memeluk istrinya, “ Engkau istri yang bijak, menemukan seorang yang pantas menerima penghargaan, yaitu seluruh warisan yang akan kita tinggalkan. Mereka berdua berbahagia. Bukankah Sumarni telah menjadi hamba yang baik? Seorang hamba tahu persis pekerjaannya, mengetahui keinginan tuannya dan memiliki loyalitas setiap saat, seorang karyawan belum tentu. Sumarni adalah hamba, yang lainnya adalah karyawan.

Artikel ke 3 dari: Ngawan Tarigan

Dari paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasuldan dikuduskan  untuk memberitakan injil AllahRoma 1 :1  S...
10/04/2015

Dari paulus, hamba Kristus Yesus,
yang dipanggil menjadi rasul
dan dikuduskan untuk memberitakan injil Allah
Roma 1 :1

Saya ini siapa?
Inilah pertanyaan yang paling sulit dijawab, kalau kita ingin menjawabnya dengan benar dan bermakna. Jawaban gampang memang ada, saya bernama Si Anu, marga Tarigan, dari Dairi, agama Kristen atau jawaban yang lain. Tapi bukan itu maksud saya.

Di tengah-tengah persaingan yang sangat ketat, banyak para pengusaha yang mengiklankan diri ( seperti para politikus pada saat pemilu), menampilkan citra, identitas, produk dan perusahaan mereka di media cetak, maupun di media elektronik. Apa tujuan mereka ? Bila yang diiklankan adalah sebuah produk, maka ini adalah upaya agar produk tersebut berada pada suatu posisi tertentu (positioning) . Tujuannya adalah agar dapat menampilkan identitas yang akhirnya menjadi modal utama, melebihi nilai fungsi barang yang ditawarkan.

Secara umum dan faktual fungsi manusia di dalam dunia ini sama. Demikian juga fungsi seorang yang beragama Kristen akan sama dengan penganut agama lainnya. Mengapa sama ? Karena ia tidak berhasil menampilkan identitasnya. Dapatkah anda dengan mudah membedakan seorang pengusaha dengan pengusaha lainnya atau seorang hamba Tuhan dengan hamba Tuhan lainnya? Bila tidak berarti pengusaha atau hamba Tuhan tersebut tidak membuat suatu positioning , dia tidak berusaha membuat suatu fungsi melebihi dari apa adanya.

Seorang Kristen, bila ia ingin menampilkan dirinya melebihi apa fungsi manusia pada umumnya, ia akan mencoba menampilkan dirinya atau identitasnya Itulah sebabnya kita harus menjawab dengan benar dan bermakna, siapa kita, apa yang kita kerjakan, bagaimana kita mengerjakannya, apa tujuan kita ?

Apa artinya bila kita harus menjawab pertanyaan itu sebagai seorang Kristen ? Yang memiliki sebuah usaha atau pekerjaan yang dipercayakan Tuhan, apakah Anda sebagai petani, pengusaha, PNS atau hamba Tuhan? Apakah artinya saya sebagai karyawan yang taat kepada firman Tuhan? Apakah nilai- nilai yang harus saya tanamkan di dalam pekerjaan saya sebagai petani, pengusaha atau lainnya ? Untuk menampilkan identitas yang lebih baik lagi, sehingga fungsi Anda akan jauh melebihi fungsi manusia lain pada umumnya, teruslah perpanjang daftar pertanyaan, tetapi hubungkan dengan Anda sebagai seorang Kristen.

Mencari identitas dengan benar bukanlah persoalan gampang, tetapi menjadi sangat mudah bila Roh Kudus diundang. Sebagai Kristen kita adalah pelayan. Apa pun profesi kita, kita adalah hamba Allah yang dipanggil menjadi utusan dalam setiap profesi kita. Hamba sebagai identitas yang memberi kita fungsi melebihi apa kita adanya.
Saya ini Hamba!!!!

Artikel pertama dari: Ngawan Tarigan

Address

Medan
20155

Telephone

085372651644

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Gerakan Kristiani Peduli Kesejahteraan:

Share