01/08/2022
WANITA DALAM ISLAM
Akibat budaya jahiliah tidak sedikit kaum perempuan yang dipingit, dipasung, dan dibelenggu. Mereka tidak diizinkan menuntut ilmu, menikmati pendidikan tinggi, berrier, bekerja, dan memiliki profesi, melakukan aktivitas kemanusiaan yang bermanfaat serta menggali pengetahuan untuk menolong sesama. Sejarah Islam mencatat bahwa dalam waktu yang relatif singkat perjuangan Rasulullah membuahkan hasil yang signifikan. Kaum perempuan lalu berhak menyuarakan opini dan keyakinan, berhak mengaktualisasikan karya, dan memiliki harta yang memungkinkan mereka diakui manusia dan warga negara penuh. Bahkan, tidak sedikit perempuan diutus menjadi pemimpin di lingkungan sukunya. Masalahnya, tidak semua perempuan memiliki kemerdekaan penuh dan punya pilihan bebas. Sebagian perempuan sungguh-sungguh tidak mengerti akan eksistensi dirinya sebagai manusia utuh yang punya harkat dan martabat; sebagian perempuan tidak bebas menentukan pilihan hi- dupnya, melainkan sangat ditentukan oleh orangtua atau walinya. Menikah pun atas keinginan orangtua agar tetap disebut anak yang berbakti. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hidup dengan pasangan yang bukan pilihan hati, untunglah kalau dia berbudi luhur dan baik hati, tapi kalau dia berakhlak buruk, maka terjadilah kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dan pastilah perempuan dan anak-anak yang akan menderita. Ditemukan p**a sebagian perempuan terpaksa memilih menikah hanya untuk mendapatkan status sebagai istri karena masyarakat masih sulit menerima kehadiran perempuan tanpa pasangan (suami). Demikianlah problematika budaya yang masih melilit perempuan. Kondisi merugikan ini harus segera diakhiri agar perempuan di masa depan dapat memilih dengan cerdas sesuai pesan-pesan moral agamanya, memilih kemaslahatan untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya. Untuk itu, perempuan harus berkualitas, berpengalaman, berwawasan luas, berilmu-pengetahuan cukup, berketerampilan memadai, dan juga berakhlak karimah. Fakta sejarah menunjukkan, tatkala delegasi Anshar membaiat Rasul saw., pada baiat ‘Aqabah kedua, tercatat sejumlah perempuan. Mereka bersumpah membela dan melindungi Islam. Ini menunjukkan adanya kontribusi positif perempuan dalam kegiatan politik. Bahkan, Nabi saw., membolehkan perempuan mewakili kaum muslim, berbicara mewakili mereka dan memberikan jaminan atas nama mereka. Hal itu terlihat nyata dalam kasus Ummu Hani. Nabi telah menerima perlindungan Ummu Hani terhadap seorang kafir pada hari penaklukan kota Makkah. Beliau berkata kepadanya: “Kami melindungi orang yang dilindungi Ummu Hani. ” Betapa konkret partisipasi politik perempuan di masa Nabi dan betapa Nabi secara terbuka mengakui eksistensi kepemimpinan perempuan. Bai’at para perempuan pada masa-masa awal Islam sesungguhnya merupakan bukti kebebasan dan kemandirian perempuan menentukan pandangan politik mereka, mes- kipun terkadang pandangan itu berbeda dengan pandangan suami dan ayah mereka. Ada banyak cerita di mana para perempuan di masa itu harus berjuang melawan kekerasan dari suami, ayah atau anggota keluarga lain karena tidak setuju terhadap pilihan mereka untuk membela Islam. (Kemuliaan perempuan dalam Islam/ Musdah Mulia)
Mengenal 4 Wanita Mulia Yang Dijamin Masuk Surga
Posisi dan peranan wanita sangat penting dalam sebuah rumah tangga. Seorang wanita adalah madrasah pertama atau sekolah pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, sudah seharusnya sebagai seorang wanita muslimah harus banyak belajar untuk mempersiapkan diri menjadi seorang guru untuk anak-anaknya. Islam menganjurkan jadilah wanita yang tidak hanya sibuk mempercantik diri. Muslimah juga harus sibuk belajar untuk mensalehakan diri karena kelak anak-anak kita tidak butuh dengan ibu yang cantik tapi mereka butuh dengan ibu yang cerdas dan pintar dalam mendidik mereka. Karena seorang ibu adalah penentu dari akhlak seorang anak. (Baca juga : Pamer Amal di Medsos? Hati-hati Dengan Riya dan Sum'ah ) Seorang ibu, jika punya anak perempuan, maka sejak dini harus diajarkan kepada anak pentingnya menjaga aurat dalam Islam. Artinya, si ibu harus juga menjaga pakaiannya secara syar'i. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya. Yaitu suatu kaum membawa-bawa cemeti laksana ekor sapi yang digunakan untuk memukuli orang (maksudnya, para kaki tangan penguasa yang Zhalim). Dan kaum wanita yang berpakain tetapi terlihat auratnya, cara dan jalanya melenggang-lenggok, sedangkan kepalanya seperti punuk unta yang miring (karena rambutnya dimodel sedemikiat rupa). Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya surga. Padahal baunya surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian." Nah, siapa saja wanita-wanita mulia yang patut dicontoh oleh muslimah zaman sekarang? Setidaknya, sejarah Islam pernah mencatat wanita-wanita mulia yang Allah jamin masuk surga
SITI KHADIJAH
Siti Khadijah RA menjadi satu dari empat wanita yang menjadi teladan dalam kehidupan muslim. Keempatnya dijanjikan surga sesuai hadist yang dinarasikan Ad-Dzahabi.
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
Artinya: "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah." (HR Muslim).
Kisah teladan Siti Khadijah tidak hanya saat dia mengakui kebenaran wahyu Allah SWT dan mendampingi Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai biografi Siti Khadijah disebutkan karakter unggulnya, yang telah terlihat sebelum dia menerima Islam dan menjadi istri Rasulullah SAW.
1. Lahir dari keluarga revolusioner
Khadijah lahir dari keluarga revolusioner yang sangat dihormati di kalangan Quraisy. Ayahnya, Khuwaylid, tidak melakukan kebiasaan suku tersebut yang dinilai merugikan misal mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Sebagai salah satu pemimpin suku, ayah Khadijah memilih membesarkan dan memberi pendidikan yang baik pada putrinya. Khadijah menjadi seseorang yang pintar, sukses meneruskan usaha perdagangan ayahnya, beretika, dan punya keyakinan kuat.
2. Julukan Khadijah
Dikutip dari Encyclopedia Britannica, Siti Khadijah dikatakan memiliki karakter mulia dan tegas. Karakter tersebut melukiskan besarnya penghormatan kaum Quraisy pada sosok Khadijah seperti ditulis dalam buku Sirah dari Abd al-Malik ibn Hishām.
Keunggulan karakter menjadikan kaum Quraisy memberi julukan At-Taahirah, atau yang suci (the pure) pada sosok Khadijah. Tak heran jika Khadijah diinginkan banyak pemuka Quraisy menjadi istri dari putranya.
3. Tidak menyembah berhala
Dikutip dari AboutIslam, Khadijah diceritakan tidak ikut menyembah berhala Suku Quraisy. Hal ini terungkap saat Khadijah menghadiri festival yang diadakan Quraisy di sekitar Kakbah. Peserta acara yang kebanyakan perempuan menyembah berhala Hubal yang dianggap dewa ramalan. Walau ikut dalam festival, Khadijah tidak ikut menyembah Hubal meski datang ke festival.
Saat di festival itulah, ada orang tua yang menyeru kepada peserta acara. Dalam seruannya dia mengatakan, telah hadir seorang utusan Tuhan di antara Quraisy. Jika mereka punya kesempatan menikahinya, maka lebih baik segera dilakukan. Seruan orang tua ini disambut ejekan, lemparan batu, dan tidakan tak menyenangkan lain dari para peserta.
4. Khadijah mempertimbangkan seruan adanya utusan Tuhan
Khadijah tidak ikut melakukan hal kurang menyenangkan pada orang tua di festival tersebut. Dia justru terlihat tenang, bijak, dan mempertimbangkan tiap kata dari orang tua Yahudi yang identitasnya tak dijelaskan detail tersebut. Momen ini seolah menandai takdir Khadijah selanjutnya menjadi yang pertama meyakini kebenaran wahyu Allah SWT dan memeluk Islam.
Ketika peristiwa ini terjadi, Khadijah telah menjadi pedagang sukses yang kaya dan rendah hati. Dia juga dermawan terhadap hartanya pada orang lain yang membutuhkan. Sosoknya menjadi inspirasi di kalangan Quraisy untuk memiliki karakter jujur, bijak, dan pekerja keras.
5. Melamar Rasulullah SAW
Jika umumnya laki-laki melamar perempuan, maka Khadijah menempuh cara sebaliknya saat menikahi Rasulullah SAW. Khadijah melamar Nabi Muhammad SAW melalui orang ketiga Nafisah binti Munyah, yang merupakan sahabat saudagar wanita tersebut. Nafisah kemudian menyampaikan maksud Khadijah pada Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW.
Peran orang ketiga diperlukan karena tradisi Quraisy tidak mengenal perempuan melamar laki-laki. Selain itu, Khadijah sempat tidak pede meski kaya dan berasal dari keluarga ternama. Krisis pede terjadi karena perbedaan usia yang besar, Khadijah 40 tahun dan Nabi Muhammad SAW 25 tahun.
6. Pendukung utama Nabi Muhammad SAW
Setelah proses lamaran, Ameerat Quraysh atau Puteri Quraisy tersebut akhirnya resmi menjadi istri Rasulullah SAW. Nabi SAW awalnya adalah pegawai Khadijah yang memimpin rombongan dagang menuju Suriah. Pernikahan Khadijah dengan Muhammad bin Abdullah terjadi sebelum turunnya wahyu dari Allah SWT.
Dukungan utama Khadijah terlihat saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Saat itu dia menemani Rasulullah SAW yang ketakutan, seperti diceritakan Aisyah putri Nabi Muhammad SAW.
فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ " زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ". فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ " لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي ". فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
Artinya: "Beliaupun p**ang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: 'wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?'. Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alamai kemudian mengatakan, 'aku amat khawatir terhadap diriku'. Maka Khadijah mengatakan, 'sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran." (HR Bukhari)
7. Membenarkan wahyu dari Allah SWT
Keistimewaan Siti Khadijah juga terlihat saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Khadijah tidak bersikap masa bodoh, namun ikut mencari tahu kebenaran wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.
Saat itu Khadijah mendatangi pamannya Waraqah bin Naufal yang bisa bahasa Ibrani. Waraqah diceritakan sebagai orang tua yang kehilangan penglihatan, namun dipercaya Khadijah. Kisah ini dituliskan dalam hadist seperti diceritakan Siti Aisyah.
فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ ـ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ ـ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَبَرَ مَا رَأَى. فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ ". قَالَ نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا. ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ
Artinya: "Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal, ia adalah saudara dari ayahnya Khadijah. Waraqah telah memeluk agama Nasrani sejak zaman jahiliyah. Ia pandai menulis Al Kitab dalam bahasa Arab. Maka disalinnya Kitab Injil dalam bahasa Arab seberapa yang dikehendaki Allah untuk dapat ditulis. Namun usianya ketika itu telah lanjut dan matanya telah buta.
Khadijah berkata kepada Waraqah, "wahai paman. Dengarkan kabar dari anak saudaramu ini". Waraqah berkata, "Wahai anak saudaraku. Apa yang terjadi atas dirimu?". Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, "(Jibril) ini adalah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu". Nabi bertanya, "Apakah mereka akan mengusir aku?" Waraqah menjawab, "Ya, betul. Tidak ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau kecuali pasti dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya". Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia." (HR Bukhari).
8. Meminta sorban Rasulullah SAW untuk kain kafan
Dalam Kitab Al-Busyro dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Miliki Al-Hasani, Khadijah diceritakan menggunakan seluruh hartanya untuk penyebaran Islam. Khadijah yang awalnya kaya jatuh miskin, hingga tak punya kain kafan untuk membungkus mayatnya jika meninggal.
Saat itu, Khadijah dikisahkan meminta sorban yang biasa digunakan Nabi Muhammad SAW untuk menerima wahyu sebagai kafan. Namun sorban tersebut urung digunakan karena Khadijah menerima sorban yang dikirim Malaikat Jibril. Kelak ada lima orang yang menggunakan kain kafan istimewa tersebut yaitu Siti Khadijah, Nabi Muhammad SAW, Siti Fatimah, Ali bin Abi Thalib, dan Hasan cucu Rasulullah SAW.
9. Kisah sedih Rasulullah dan Khadijah
Kisah sedih pasangan ini terangkum dalam amul huzni (tahun kesedihan) pada kehidupan Rasulullah SAW. Saat itu, Rasulullah SAW kehilangan pamannya Abu Tholib dan Khadijah karena menghadap Allah SWT. Keduanya adalah pendukung utama Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT hingga berp**ang.
Khadijah yang lahir pada 555 AD atau Sebelum Masehi, berp**ang pada 11 Ramadhan tahun ketiga sebelum hijrah. Momen tersebut kira-kira sama dengan 22 November 619 Setelah Masehi. Menjelang wafat, Khadijah kembali menegaskan kesetiaan pada Rasulullah SAW dan kebenaran atas wahyu Allah SWT. Khadijah dikisahkan meninggal di pangkuan Rasulullah SAW.
10. Anak Khadijah dan Rasulullah
Pasangan Khadijah dan Rasulullah SAW diceritakan memiliki dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Namun Qasim dan Abdullah meninggal saat masih berusia anak-anak, selanjutnya pasangan tersebut tak lagi dikarunai anak laki-laki.
Sementara anak perempuan Khadijah dan Rasulullah tumbuh dewasa, ikut dalam penyebaran Islam, dan menjadi contoh untuk para muslim. Mereka adalah Zainab, Fatimah, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.
MARYAM BINTI IMRA
Maryam binti Imran merupakan satu-satunya nama perempuan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an, bahkan namanya diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam kitab suci umat Islam ini. Tak hanya itu saja, silsilah keluarganya, juga lengkap dijelaskan, sehingga ada nama surat Ali Imran (Keluarga Imran).
Sebagai kitab suci Al-Qur'an adalah kitab abadi . Karena itu, jika ada nama seseorang disebutkan di dalamnya, berarti namanya akan dibaca sepanjang masa oleh manusia yang jumlahnya mungkin tak terhitung. Jika kisahnya positif, maka kebaikannya akan dikenang sepanjang masa, serta menjadi profil kebaikan untuk dicontoh seluruh umat manusia.
Di dalam Al-Qur'an sendiri nama Maryam binti Imran disebutkan sebanyak 34 kali, 19 kali ketika menceritanya kisahnya sendiri,dan 15 kali ketika menceritakan putranya, Nabi Isa alaihissalam. Kenapa demikian? Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, karena Maryam binti Imran ini adalah perempuan yang Allah putihkan kehormatannya.
Sebagaimana Allah Ta'ala firmankan : وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
“(Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan Dia termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim:12)
Sedangkan rahasia dibalik penyebutan nama Maryam, Dewan Pembina Konsultasi Syariah itu mengingatkan pada keterangan imam Al-Qurthubi, bahwa Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam binti Imran, karena mengandung hikmah didalamnya. Ini mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama.
”Bahwa para raja dan orang-orang terpandang tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak p**a mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dan lain-lain. Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Tidak Allah sembunyikan dengan sebutan ‘budak Allah’ atau ‘hamba Allah’, yang merupakan sifat asli Maryam. Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat Arab dalam menyebutkan budaknya.” (Tafsir Al-Qurthubi, 6:21)
Az-Zarkasyi menambahkan, “Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Serta memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang Yahudi – semoga Allah melaknat mereka.” (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, 1:163)
Mengapa Maryam dan anaknya Nabi Isa alaihissalam disebutkan begitu banyak dalam Al-Qur'an? Karena Nabi Isa dilahirkan melalui proses yang luar biasa. Nabi Isa adalah putra seorang perempuan perawan. Sehingga namanya dinisbatkan kepada ibunya. Isa bin Maryam. Tidak seperti orang lain, namanya dinisbatkan kepada ayahnya.
Perempuan Terpilih
Seorang ulama menjelaskan sebab Maryam menjadi satu-satunya nama perempuan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, karena peristiwa yang dialaminya adalah hal yang benar-benar unik, hanya akan terjadi sekali dan pada dirinya. Sepanjang sejarah, hanya akan ada satu perempuan, yaitu Maryam, yang melahirkan tanpa peran seorang laki-laki.
Seandainya saja kejadian serupa akan terulang, tentu tidak lagi menjadi hal yang unik, dan tentu tidak akan disebutkan namanya dalam Al-Qur'an. Seperti perempuan-perempuan lainnya, Asiyah, Khadijah, Aisyah, Ummu Jamil, dan sebagainya. Walaupun kejadian yang mereka alami juga luar biasa hebatnya, tapi karena bisa terulang, nama mereka tidak disebutkan.
Maryam sendiri digambarkan sebagai perempuan taat kepada Allah. Ketakwaannya pun tak diragukan lagi. Sehari-hari, aktivitasnya hanya diisi dengan beribadah kepada Allah.
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar tentang surah Ali Imran ayat 42-43 menceritakan tentang pertumbuhan Maryam sejak kecil hingga dewasa dibawah asuhan Zakariya. "Maka, diingatkan Tuhan lah kepadanya bahwa dia telah termasuk orang-orang yang terpilih seperti Adam, Nuh, keluarga Ibrahim serta rasul dan nabi-nabi yang lain," kata Hamka. Bahkan Al-Qurthubi mengatakan, Maryam adalah seorang nabiyah yang sahih. Alasannya, malaikat menyampaikan wahyu kepadanya di mana mengadung perintah Allah, perkabaran dan kabar selamat.
Kisah yang menggambarkan ketakwaan Maryam dan kesabarannya dapat disaksikan dalam proses mengandung Isa alaihissalam. Sebab, dari kehamilannya ini, Maryam harus menerima bacaan hinaan dari kaumnya karena mengandung tanpa seorang ayah.
Sebelum kaumnya mengetahui tentang kehamilannya, Maryam memilih mengasingkan diri. Dia merasa malu karena kehamilannya itu.
Rasa malunya yang besar tertuang dalam surat Maryam ayat 23.
قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
"Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan."
Namun, kabar tak bisa dibendung. Kaumnya mendengar tentang kehamilan Maryam tanpa menikah. Hinaan dan cemooh pun tak dapat dihindari Maryam. Kendati demikian, dia menerima hinaan tersebut dengan perasaan tawakal kepada Allah. Dia memasrahkan permasalahan yang dihadapinya hanya kepada Allah Ta'ala.
FATIMAH BINTI MUHAMMAD SAW
Dia adalah putri yang orang-orang mulia, baik dari pihak ayah atau ibunya. Ayahnya adalah Nabi terakhir, pemimpin dan suri tauladan kaum Muslimin; Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Ibunya, Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin yang bergelar Al-Kubra, sosok yang agung; salah seorang wanita penghulu surga.
Fatimah dilahirkan beberapa saat sebelum Muhammad SAW diutus menjadi seorang Rasul. Ia mendapat gelar Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada
ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlak, adab,
hasab dan nasab. Ia juga mendapatkan julukan Az-Zahra, yang cemerlang.
Fatimah adalah putri bungsu Rasulullah SAW—kakak-kakaknya adalah Ummu Kultsum, Ruqayyah dan Zainab—dan yang paling beliau cintai. Rasulullah pernah berkata tentang putri terkasihnya itu, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." (Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti'aab)
Fatimah dikenal sebagai seorang wanita termulia di dunia pada masanya. Dia seorang wanita yang mempunyai pertalian darah kenabian dan keturunan seorang yang terpilih, anak perempuan manusia yang termulia, Rasulullah SAW. Dia adalah ibu dua anak yang mulia; Hasan dan Husein.
Keluarga Fatimah-lah yang disebut Ahlul Bait oleh Rasulullah SAW. Az-Zubair bin Bukar mengatakan, keturunan Zainab telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti Fatimah dan suaminya serta kedua putranya dengan pakaian seraya berkata, "Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." (Siyar A'laamin Nubala')
Menurut Ibnu Abdil Bar, Ali bin Abi Thalib menikahinya setelah Perang Uhud. Kemudian Fatimah melahirkan Hasan dan Husein, Muhsinan, Ummi Kultsum, dan Zainab.
Ali berkata, "Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari. Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu."
Ketika Rasulullah SAW menikahkan Fatimah, beliau mengirimkan seekor unta, selembar kain, bantal kulit berisi ijuk, dua alat penggiling gandum, sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit) berisi air hingga berbekas di dadanya. Walau merupakan putri manusia termulia, namun Fatimah tak memiliki seorang pelayan. Ia mengerjakan sendiri semua urusan rumah tangganya.
Tatkala Ali mengetahui banyak hamba sahaya telah datang kepada Nabi SAW, ia berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya."
Kemudian Fatimah datang kepada Nabi SAW. Beliau bertanya, "Ada apa, wahai putriku?"
Fatimah menjawab, "Aku datang untuk memberi salam kepadamu." Ia merasa malu untuk meminta kepada ayahandanya, lalu p**ang.
Keesokan harinya, Nabi SAW yang datang ke rumahnya dan bertanya, "Apakah keperluanmu?"
Fatimah diam. Ali lalu berkata, "Aku akan menceritakannya kepadamu, wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepadamu, aku menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan darimu, yang bisa membantunya guna meringankan bebannya."
Kemudian Nabi SAW bersabda, "Demi Allah, aku tidak akan memberikan
pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah
merasa kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku
jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."
Nabi SAW amat menyayangi dan memuliakannya. Keutamaan dan kebaikannya amat banyak, dia adalah seorang yang sabar, taat menjalankan agama, baik, bersikap qana’ah, dan selalu bersyukur kepada Allah.
Pernah suatu ketika Rasulullah SAW marah kepada Ali dan membela Fatimah ketika ada seseorang yang menyampaikan pada beliau bahwa Ali hendak meminang anak perempuan Abu Jahal.
Kemudian Rasul berkata: Demi Allah, jangan kau kumpulkan anak perempuan Nabi Allah dengan anak perempuan musuh Allah, karena Fatimah merupakan bagian dariku. Aku akan merasa ragu apa yang dirasakannya ragu, dan aku akan merasa tersakiti bila dia merasa sakit.
Ali pun meninggalkan niatnya untuk meminang putri Abu Lahab untuk menjaga perasaan Fatimah. Dia tidak jadi menikahinya. Baru setelah Fatimah meninggal dunia, Ali menikah lagi.
Fatimah juga termasuk seorang mujahidah yang turut berjihad di medan perang, termasuk di Uhud. Ketika wanita-wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin, Fatimah pun turut serta. Ketika bertemu Nabi SAW yang terluka, ia memeluk dan mencuci luka-luka ayahnya dengan air, sehingga darah semakin banyak yang keluar. Tatkala melihat hal itu, Fatimah kemudian mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka Rasulullah sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar. (HR Tirmidzi)
Selain itu, Fatimah juga membantu kaum Muslimin yang lain, di antara tikaman tombak dan sabetan pedang, serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin. Ia memberikan pengobatan, menyediakan air minum bagi para prajurit, dan mempersiapkan urusan logistik pasukan Muslimin.
Ummul Mukminin Aisyah mengatakan, suatu saat istri-istri Nabi SAW berkumpul di tempat beliau. Lalu datang Fatimah sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan ayahandanya. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambut Fatimah seraya berkata, "Selamat datang, putriku."
Kemudian beliau mendudukkan Fatimah di sebelahnya, lalu dia berbisik-bisik. Tiba-tiba Fatimah menangis dengan suara keras. Melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum.
Setelah Rasulullah pergi, Aisyah berkata kepada Fatimah, "Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara istri-istrinya, kemudian engkau menangis. Apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu?"
Fatimah menjawab, "Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasulullah SAW."
Ketika Rasulullah SAW telah wafat, Aisyah kembali bertemu Fatimah dan berkata, "Aku mohon kepadamu, demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu waktu itu?"
Fatimah pun menjawab, "Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaan Al-Qur'an Rasulullah sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. 'Maka kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu,' kata Rasulullah. Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, 'Wahai Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita Mukmin atau umat ini? Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat."
Ketika menjelang wafatnya Rasulullah dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata, "Alangkah beratnya, wahai Ayah."
Nabi SAW menjawab, "Tiada kesusahan atas Ayahanda sesudah hari ini."
Pada saat Nabi wafat, Fatimah merasa amat sedih dan menangis sambil berkata, "Wahai ayahku, kepada Jibril kami sampaikan berita duka ini. Wahai ayahku, semoga Allah mengabulkan semua permintaan. Wahai ayahku, hanya surga Firdaus tempat yang layak."
Setelah wafatnya sang ayah, Fatimah berpikir akan mendapatkan harta warisan, sehingga dia datang pada Abu Bakar dan meminta harta warisan Rasulullah. Abu Bakar memberitahukan padanya bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda, "Kami tidak meninggalkan warisan, tidak p**a meninggalkan harta."
Fatimah merasa kesal pada Abu Bakar kemudian berdiam diri di rumahnya. Ketika ia jatuh sakit, Abu Bakar datang minta izin untuk menjenguknya. Ali pun menemui istrinya dan berkata, "Wahai Fatimah, ini Abu Bakar datang meminta izin untuk bisa menjengukmu."
"Apakah kau senang bila aku memberinya izin?" tanya Fatimah.
"Tentu, aku senang," jawab Ali.
Kemudian Fatimah memberikan izin pada Abu Bakar untuk menjenguknya. Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak meninggalkan rumah, harta, keluarga dan kerabat kecuali mencari keridhaan Allah, Rasul-Nya, dan keridhaan kalian, Ahlul Bait."
Fatimah Az-Zahra wafat sekitar 15 bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ia telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam "Shahihain" diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits dari Fatimah juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud.
Ibnul Jauzi berkata, "Kami tidak mengetahui seorang pun di antara putri-putri Rasulullah SAW yang lebih banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah."
ASIYAH BINTI MUZAHIM
Asiyah binti Muzahim adalah satu dari empat perempuan mulia yang menjadi penghuni surga berkat keteguhan imannya. Kisah Asiyah, istri Firaun, raja zalim di zaman Nabi Musa alaihissalam (AS) patut diteladani terutama bagi kaum perempuan.
Kisah Asiyah mempertahankan keimanannya diabadikan Allah Swt dalam Alquran. Allah menceritakan kisahnya dalam Surah Tahrim ayat 11: “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
Dalam Kitab Uqudulijain, Syeikh Muhammad bin Umar An-Nawawi menceritakan kisah Asiyah yang menjadikan tauhid kepada Allah adalah segalanya. Untuk diketahui, Asiyah binti Muzahim adalah perempuan Bani Israil keturunan para nabi.
Ketika Nabi Musa mengalahkan para tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada Allah sebenarnya sudah lama tertanam di hatinya. Asiyah menolak menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan.Dalam Tafsir Muroh Labid disebutkan bahwa benih-benih iman dalam hati Asiyah mulai tampak ketika ingin mengasuh Nabi Musa yang dihanyutkan di sungai. Saat itu Asiyah memohon kepada suaminya Fir’aun untuk tidak membunuh bayi mungil tersebut. Bahkan ia meminta untuk menjadikannya anak angkat.Asiyah berkata ,“Ia bisa menyenangkan hatiku dan hatimu, maka janganlah kau membunuhnya, karena bayi ini berasal dari negeri lain, bukan Bani Israil. Semoga ia bisa bermanfaat bagi kita”. Fir’aun pun mengabulkannya.
Setelah Nabi Musa tumbuh dewasa dan diangkat sebagai Nabi (utusan Allah), para tukang sihir Firaun berhasil dikalahkannya. Setelah mengetahui kekalahan tukang sihir itu, keimanan Asiyah semakin teguh. Asiyah semakin yakin bahwa ada Dzat yang menciptakan dan mengatur urusan manusia. Bukan Firaun suaminya yang mengaku mampu menghidupkan dan mematikan manusia.
Keimanan Asiyah pun akhirnya diketahui oleh Fir’aun. Setelah mengetahui jelas keimanan istrinya, Fir’aun pun menjatuhkan hukuman dan siksa yang berat. Kedua tangan dan kaki Asiyah diikat. Ia ditelentangkan di atas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan ke terik sinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, Malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa.
Tak cukup sampai di situ, Fir’aun kembali memerintahkan para algojonya menjatuhkan sebongkah batu besar ke dada Asiyah. Naudzubillah, sungguh siksa yang amat berat dan sangat tidak manusiawi.
Ketika Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau pun berdoa kepada Allah Swt: ”Robbi Ibnilii ‘Indaka Baitan Fil Jannah. ” Artinya: ”Wahai Allah Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di Surga, (QS At-Tahrim, ayat 11).
Allah Swt pun memperlihatkan sebuah gedung di surga yang terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian barulah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya. Beliau tidak merasakan sakit karena jasadnya sudah tidak mempunyai nyawa.
Ulama asal Yaman, Syeikh Habib Abdullah Al-Haddad mengatakan, seseorang yang sempurna adalah orang yang mempermudah hak-haknya, tetapi tidak mempermudah (meremehkan) hak-hak Allah. Sebaliknya orang yang kurang sempurna adalah orang yang diketahui berlaku sebaliknya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah SAW juga memuji Asiyah dan tiga perempuan mulia lainnya. Beliau bersabda: “Sebaik-baik wanita penghuni Surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam binti ‘Imran.”