29/05/2019
*HIKAYAT MAR VS DOKTOR KUNTET MANGKULANGIT*
*Mohammad Amien Rais* (MAR) adalah intelektual organik dalam perspektif gramscian, seorang intelektual yg tidak nongkrong saja di atas menara gading dan tenggelam dalam dalam tumpukan buku2.
Intelektual organik turun ke jalan dan terlibat langsung dalam gerakan masyarakat menentang ketidakadilan, sedangkan intelektual tradisional sibuk dengan penelitian2 semu dan bangga dengan gelar akademiknya yg berderet2 sampai dua meter.
MAR sudah turun ke jalan pada 1998 menentang kekuasaan otoritarian Soeharto. Dia tak kenal takut, saraf takutnya sudah putus. Melawan Soeharto MAR bertaruh nyawa bukan sekadar jabatan.
Kemudian MAR beraksi lagi ketika dianggapnya presiden Gus Dur melenceng lagi dari rel, MAR tak takut melengserkannya, lagi2 taruhannya nyawa bukan jabatan. Kepedulian dan keterlibatan MAR dalam perjuangan bersama rakyat berada pada level langit, level para dewa.
Sekarang nyali MAR msh tetap tinggi. Usianya sudah 75 tahun sdh terlihat tak selincah 20 tahun silam, tapi semangat perlawanan itu masih tetap ada padanya, tak terlihat surut ia menentang ketidakadilan.
Tak ada yg ditakuti MAR, jangankan gelar akademik, nyawanya pun ia pertaruhkan. Karena itu lucu kalau banyak lawan politik bertepuk tangan ketika UGM mengumumkan bhw gelar akademik MAR sebagai profesor sudah dicabut karena sdh pensiun dan tidak lagi menghasilkan karya ilmiah. Seolah2 MAR sangat terpukul oleh pencabutan gelar itu.
Memang begitulah cara pandang intelektual tradisional yg terkungkung di kampus. Mereka merasa bangga dengan karya2 ilmiah yg hrs disetor tiga kali setahun. Mereka bangga dengan gelar akademiknya meskipun itu berarti mereka menjadi intelektual budak alias kacung yang lupa menjalankan kewajiban organiknya.
Tak jarang untuk mengejar setoran mereka jadi tukang palak, memalak para mahsiswa untuk setor karya ilmiah yg kemudian diakui sebagai karyanya. Mereka bikin sibuk kejar setoran sampai gak sempat mikir nasib bangsa. Pada gilirannya para mahasiswa dibuat sibuk melayani dosennya sampai gak kepikiran lagi keadaan di sekelilingnya.
Dalam bahasa *Ali Syari'ati* MAR adalah *Rausyan Fikr* manusia merdeka yg tercerahkan, dengan intelektualitasnya ia mencapai pencerahan dan kemudian memakainya untuk mencerahkan rakyat melawan ketidakadilan.
Intelektual organik dan rausyan fikr adalah manusia merdeka, sedangkan para intelektual tradisional di kampus itu adalah kacung2 yg menjadi korban berkepanjangan imperialisme intelektual Barat. Mereka menjadi hamba Scopus dan tidak sadar bhw mereka korban penjajahan intelektual Barat. Mental inlander menjadikan mereka bangga bisa bekerja sama dengan ilmuwan barat meskipun mereka hanya menjadi pesuruh.
Ada seorang doktor anyaran yg begitu bangga dengan kampusnya di Inggris dan mengolok2 MAR. Dia lupa MAR lulus dari Chicago University dengan predikat cm laude. Dibanding MAR anak kecil ini peanut.
Dia bangga melakukan riset dengan bule2 dan pamer foto2 dimana2. Badannya kuntet terlihat lucu di antara bule2. Mentalnya kuntet juga karena gak sadar bahwa dia adalah intelektual inlander. Toh dia merasa pinter setinggi langit. Pantaslah dia disebut si Doktor Kuntet Mangkulangit.
Para intelektual doktor dan profesor kuntet mangkulangit jumlahnya ribuan di Indonesia, sedangkan intelektual organik kelas langit ala MAR jumlahnya bijian. Para doktor profesor kuntet mangkulangit sibuk kejar setoran Scopus dan sibuk memalak mahasiswa dengan ngasih tugas2 penelitian sampai2 mahasiswa terbuai lupa gak sadar dan diam saja melihat ketidakadilan di depan matanya.
*Julien Benda* tak ragu menyebut para intelektual kuntet mangkulangit itu sebagai pengkhianat. Dalam *La Trahison des Clercs* Benda mengatakan bahwa para cendekiawan yg mengurung diri di kampus dan tak peduli dengan ketidakadilan adalah cendekiawan pengkhianat.
Sejarah para intelektual besar pekat diwarnai perjuangan melawan hegemoni barat. *Edward Said* adalah intelektual Amerika nasrani blasteran Arab-Amerika, tapi dia adalah penentang utama hegemoni intelektual barat dan berada pada garda terdepan pembela hak2 bangsa palestina.
*Noam Chomsky*, intelektual yahudi-amerika, gak punya takut menjadi pengkritik utama amerika dan israel. Ratusan karya tulisnya superkritis terhadap kebijakan amerika. Ia menjuluki amerika dan israel sebagai teroris terbesar di dunia.
Merekalah lah contoh intelektual organik sejati. Merekalah contoh *Rausyan Fikr* tingkat langit dan level dewa. MAR ada di level langit itu. Sementara para pengritiknya sekarang berada pada level kuntet si mangkulangit. *(dad)*