17/06/2013
datuk penghilang rasa kutuk (Taufik Kiemas)
Datuk Basa Batuah, dewangga negara berpetuah, penyuntingdyah permata yang berkilau dari kota sejarah. Keturunan pejuang yang jarinyaselalu mengangkang.
Kau datuk penghilang rasa kutuk, kepala di atas kepala yangtak pernah tertunduk. Mata keempat dari tiga mata yang belum mengantuk.
Tercipta dari air penderma dan saripati tanah rata jelata. Tulangmuberkerangka 45, iga-iga sang garuda. Urat-uratmu adalah hikayat, dalam tubuh adat yang bentuknya tak pernah berhianat.
Kau lelaki sungai musi yang mengalir dari tanah datar menujupuncak altar. Dengan geloramu kau lawan arus tempat mandi para poli_tikus.
gelora kebangsaan tak kunjung padam, adalah sejarahciptaanmu yang tak akan punya dendam. Sebab kau keturunan pena penderma,pengajar terlantar. Lelaki penghutbah yang dilupakan sejarah
Tapi, perjalanan hidupmu tak sepanjang sungai musi. Saatmatahari belum menyucikan pagi. Tuhan menjemputmu dengan tubuh tanpa peluhsubuh. Sebagian malam menyangsam kelam,menyingsingkan kabut alam asing, cipatakan embun yang keluar dari kelopak.
Di bawah langitNya ia kembali ke tanah membuka satu rahasia,sebab tanya tak dijawab oleh kata..”dari tanah datar kau buat gundukan yangbertuliskan pahlawan”. Meninggalkan tahta raja tanpa mahkota, dan melepaskanpelukan sang peri, hinaan para priyai, yang mengaku nabi di atas kursi.
Selamat jalan dewangga bangsa..! istirahatlah sebentarsebelum perjalanan abadi. Geloramu adalah debar juang jelata. Kami kaki-kakitubuhmu tak akan ikut dalam setengah perjalananmu. Sebab jejakmu harus tetap adadi bumi banteng muda; penaduk rasa kutuk dari para datuk, yang masih menyulap kebebasandisebuah mangkuk.
(Maaf kau tak akan kusebut beliau, sebab kau lebih memilihjadi sahabat rakyat daripada bapak negara).