23/06/2026
TIGA TAHUN MENANGGALKAN TOGA, SEUMUR HIDUP MENJAGA MARWAHNYA
Di sebuah ruang persidangan, dua orang advokat berdiri berdampingan.
Bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah foto.
Namun bagi mereka yang memahami dunia hukum, foto itu menyimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar senyum, toga, dan lensa kamera.
Hari itu, setelah kurang lebih tiga tahun tidak mengenakan toga di ruang sidang, akhirnya kain hitam yang sarat makna itu kembali melekat di pundak.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan sekadar rindu.
Bukan sekadar nostalgia.
Melainkan sebuah kesadaran bahwa panggilan profesi ternyata tidak pernah benar-benar pergi.
Toga advokat bukanlah pakaian kebesaran.
Ia adalah simbol tanggung jawab.
Ia bukan lambang kekuasaan.
Ia adalah lambang pengabdian.
Karena di balik setiap lipatan toga, terdapat sumpah yang pernah diucapkan dengan penuh kesungguhan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Tiga tahun adalah waktu yang cukup panjang.
Waktu yang mampu mengubah banyak hal.
Rambut menjadi lebih beruban.
Wajah menjadi lebih matang.
Pengalaman menjadi lebih kaya.
Namun ada satu hal yang tidak berubah, yakni keyakinan bahwa hukum harus tetap dibela dengan akal sehat, argumentasi, dan keberanian.
Persidangan bukanlah panggung sandiwara.
Ia adalah arena pertarungan logika.
Di sanalah dalil diuji.
Di sanalah bukti diperiksa.
Di sanalah nasib seseorang sering kali ditentukan.
Karena itu, seorang advokat sejati tidak datang untuk mencari tepuk tangan.
Ia datang untuk memastikan bahwa setiap orang memperoleh hak konstitusionalnya untuk dibela.
Hari itu, ketika langkah kembali memasuki ruang sidang, terasa seolah waktu berputar mundur.
Suara palu hakim.
Suasana ruang persidangan.
Tumpukan berkas perkara.
Perdebatan hukum yang tajam.
Semuanya terasa begitu akrab.
Seperti seorang pelaut yang kembali menemukan lautnya setelah lama berada di daratan.
Seperti seekor elang yang kembali membentangkan sayapnya setelah sekian lama berteduh dari badai.
Karena sesungguhnya, jiwa seorang advokat tidak pernah pensiun dari perjuangan.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali berdiri.
Dan ketika waktu itu tiba, pengalaman yang terkumpul selama bertahun-tahun justru menjadikannya lebih bijaksana, lebih tenang, dan lebih matang dalam melihat persoalan hukum.
Hari ini bukan tentang kemenangan.
Bukan p**a tentang kekalahan.
Hari ini adalah tentang kesetiaan terhadap profesi.
Tentang komitmen terhadap sumpah jabatan.
Tentang keyakinan bahwa hukum masih harus diperjuangkan oleh mereka yang berani berdiri di garis depan.
Sebagian orang membangun gedung.
Sebagian orang membangun jalan.
Sebagian orang membangun jembatan.
Tetapi advokat membangun sesuatu yang jauh lebih sulit.
Ia membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.
Dan pekerjaan itu tidak pernah mudah.
Karena sering kali seorang advokat harus tetap berdiri tegak ketika orang lain memilih mundur.
Harus tetap berbicara ketika yang lain memilih diam.
Harus tetap berjuang ketika hasil akhirnya belum tentu sesuai harapan.
Namun justru di situlah kemuliaan profesi ini berada.
Sebab sejarah tidak pernah mencatat berapa kali seseorang merasa lelah.
Sejarah hanya mencatat siapa yang tetap bertahan ketika keadaan tidak mudah.
Maka hari ini, ketika toga kembali dikenakan setelah tiga tahun, biarlah itu menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai.
Masih ada hak yang harus dibela.
Masih ada kebenaran yang harus diperjuangkan.
Masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum.
Dan selama itu masih ada, maka panggilan seorang advokat tidak akan pernah berakhir.
Toga boleh disimpan dalam lemari untuk sementara waktu.
Namun kehormatan profesi tidak pernah boleh disimpan.
Ia harus terus hidup dalam setiap langkah, setiap argumentasi, dan setiap perjuangan demi tegaknya hukum dan keadilan.
Selamat datang kembali di ruang persidangan.
Selamat datang kembali di medan perjuangan.
Karena sesungguhnya, seorang advokat dapat meninggalkan ruang sidang selama bertahun-tahun.
Tetapi ruang sidang tidak pernah benar-benar meninggalkan hati seorang advokat.