15/05/2018
Meski Gentar Tetap Tegar
Tidak satu pun dari kita melewati minggu ini tanpa perasaan gemetar. Juga tidak satu pun dari kita yang sanggup melihat berita di berbagai media tanpa menitikan air mata. Kita terus mengatakannya di dalam setiap doa dan permohonan kepada Allah, bahwa sukacita yang kami terima dari Kristus—selama masih berada di dunia—tidak terpisahkan dari penderitaan. Tidak ada sukacita sejati di dalam dunia ini selain yang kita peroleh dari pribadi Yesus Kristus. Sebagaimana Alkitab menggambarkan sukacita yang dialami oleh hamba Kristus demikian: ”Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita.” (2 Kor. 6:10)
Amarah dan kekesalan memang tidak bisa terhindarkan. Kedamaian dan kerukunan malah semakin jauh dari harapan. Bila kita tidak menyadari bahwa Alkitab memiliki pandangan khusus terhadap dunia, maka tidaklah mengherankan jika dunia dalam keadaan sekarang ini membuat kita putus asa. Melalui Alkitab kita disanggupkan untuk memahami apa yang sedang terjadi dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang berada di dalam rencana Allah. Bermula dari teriakan keputusasaan yang serupa, sejenak kita dapat berefleksi melalui pergumulan Nabi Habakuk.
”Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak , tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ’Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.” (Hab. 1:2-4)
Kitab Habakuk menyatakan prinsip-prinsip Alkitabiah yang bersifat umum sebagai kebenaran yang bisa kita pegang bersama:
1. Sejarah Ada di Bawah Kendali Allah
Alkitab menyatakan bahwa Allah ada di atas segalanya. Dia telah memulai proses sejarah, Dia mengendalikannya, dan Dia juga yang akan mengakhirinya.
2. Sejarah Mengikuti Rencana Allah
Segala sesuatu tidak terjadi begitu saja. Rentetan peristiwa tidak terjadi secara kebetulan, karena ada rencana sejarah yang pasti dan segala sesuatu telah diatur dari mulanya. Allah yang melihat akhir dari segala permulaan. Dan Allah mengetahui segala maksud dan tujuan itu.
3. Sejarah Mengikuti Jadwal Allah
Allah tidak pernah abai di dalam membimbing kehidupan kita. ”Segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya,” demikian yang sering kita doakan. Allah memiliki waktu-Nya sendiri, Dia juga memiliki cara-Nya sendiri. Oleh karena itu Dia bertindak dan berkarya menurut waktu dan cara-Nya.
4. Sejarah Berkaitan dengan Kerajaan Allah
Allah bertahta di dunia dan di sorga. Sebagaimana kisah bangsa-bangsa lain di Perjanjian Lama begitu relevan dengan perjalanan hidup bangsa Israel. Demikian juga dengan masa kini, sejarah dunia juga begitu relevan dengan sejarah gereja. Apa yang Allah izinkan terjadi pada gereja dan dunia sekarang berkaitan dengan tujuan agung-Nya untuk gereja dan kerajaan-Nya.
Kita tidak perlu menjadi bingung dan meragukan kasih dan keadilan Allah. “Ingat, jangan sesekali mencurigai Allah,” demikian pesan dari kakak rohani saya. Jika kita sanggup melihat segala kejadian di dunia ini terjadi di dalam rencana dan kehendak Allah, kita akan dimampukan untuk terus berserah dan mempercayai Allah, bahkan di dalam penderitaan.
Bencana hadir bukan berarti karena Allah mangkir. Allah tetap berkuasa sejak dahulu, kini, dan selamanya. Ia tidak sedang diam, namun terus bekerja melalui hamba-hamba-Nya. Kiranya penderitaan dan bencana tidak menambah daftar nama hamba-hamba-Nya yang hidup dengan dengan rasa kecewa. Tetapi semakin membuat kita tangguh dan teguh berdiri membalut dan menyembuhkan mereka yang sedang terluka. Berduka namun tetap bersukacita, meski gentar tetap tegar!