17/01/2026
"Saya Punya Tiga Gelar Sarjana, dan Saya Calon Guru Besar"
Alkisah di sebuah kerajaan berbasis demokrasi, ada seorang raja yang gagap setelah terpilih menjadi raja. Gagap karena ia mulai terlihat jabatan itu membuatnya bingung harus 'ngapain'.
Ia terpilih karena orang-orang s**a padanya, karena dia ganteng dan tercitrakan baik. Sebuah pilihan yang absurd sebetulnya, sebab ganteng dan baik bukan menjadi faktor bahwa ia bisa menjadi raja.
Kegagapan menjadi raja berujung pada nir-kapabilitas yang mulai terlihat seiring waktu. Kemampuannya dalam mengatur keuangan kerajaan mulai terseok-seok.
Awal mula mencalonkan diri sebagai raja, menjanjikan sistem merit dalam pemilihan punggawa kerajaan dan pamong praja. Namun seiring waktu, uang dan relasi kuasa yang berbicara.
Dua hal itu kemudian berdampak pada pelayanan terhadap warga kerajaan. Protes dimana-mana karena pembangunan wilayah tidak berjalan semestinya.
Di tengah kisruh tersebut, muncul sosok dari belakang layar yang selama ini setia pada sang raja. Ternyata, dialah yang selama ini menjadi otak sang raja. Dia bukan mahapatih, bukan p**a patih, demang, bahkan bukan juga pamong praja. Sebut saja dia stafsus raja.
Dia hanyalah orang yang kebetulan mendapat mandat raja untuk mengatur strategi dan sisasat kerajaan dalam mengatur masyarakat. Sehingga sorotan kemudian beralih dari sang raja ke stafsus raja.
Stafsus raja kemudian dipersalahkan akibat mismanajemen dan nirkompetensi sang raja dalam mengatur wilayah. Namun sosok ini semakin liar dan terang benderang menerjang sistem kerajaan yang telah mapan.
Appeal of Authority
"Saya ini punya tiga gelar kesarjanaan, dan sebentar lagi diangkat jadi guru besar sebuah padepokan," ungkap sang stafsus pada suatu ketika.
Ujaran itu berupaya membantah berbagai tudingan mismanajemen dan nirkompetensi yang selama ini dialamatkan ke kerajaan. Seolah dengan menyebut gelar kesarjanaan, semua masalah beres.
Menurut seorang guru padepokan kerajaan, ujaran stafsus itu merupakan bentuk dari argumentum ad verecundiam atau dikenal juga dengan sebutan appeal of authority.
"Seorang tukang masak yang suatu ketika memasak makanan yang tidak enak, kemudian dia bilang 'saya ini lulusan sekolah koki terkenal' itu merupakan bentuk appeal of authority," ungkap guru tersebut.
Menurutnya, sang stafsus lebih baik fokus pada pekerjaannya dalam membantu raja sesuai dengan keilmuan yang dimiliki. Soal pembangunan yang tersendat, soal sistem merit punggawa kerajaan yang tidak jalan, serta hal-hal lain yang harusnya menjadi tugas sang raja.
Membawa gelar akademik pada sebuah polemik hanya menjadi penanda bahwa gelar tersebut sebetulnya absurd, dan tindakannya selama ini salah.
Demikian, kisah dari sebuah kerajaan yang jauh disana.