15/10/2018
BUBARKAN IMF – BANK DUNIA !
PERHEBAT PERJUANGAN RAKYAT UNTUK MEWUJUDKAN DEMOKRASI SEJATI
-------------------------------------------------------------------
Rilis Aksi Massa Parade Rakyat
Gerakan Rakyat Menentang (GARANG) IMF-Bank Dunia. Senin, 15 Oktober 2018. Malioboro, Kota Yogyakarta
IMF dan Bank Dunia baru saja menggelar pertemuan di Bali. Pertemuan itu diselenggarakan dengan menutup mata selama setengah abad lamanya, yang mana IMF dan Bank Dunia telah nyata menggiring rakyat di berbagai belahan dunia ke jurang krisis yang main akut. Kami dari Gerakan Rakyat Menentang IMF-Bank Dunia merespon dan menentang pertemuan maupun keberadaan IMF dan Bank Dunia tersebut. Adapun alasan kami menentang antara lain :
IMF dan Bank Dunia bukanlah lembaga yang demokratis. Pengambilan keputusan didasarkan pada voting power yang didominasi negara-negara besar saja. Amerika Serikat misalnya, punya suara sebesar 17%, bandingkan dengan Indonesia yang hanya 0,9%. Keputusan yang dihasilkan pun bersifat mendikte rakyat karena apapun keputusan yang dihasilkan di sana tidak pernah berdasarkan sepengetahuan dan persetujuan rakyat. IMF senantiasa memaksakan kebijakan pengetatan anggaran (austerity) yang mengakibatkan dipangkas/dihapuskannya subsidi sosial. Hal ini berdampak pada semakin mahalnya tarif layanan publik seperti biaya pendidikan, tarif listrik, tabung gas, dsb. Pemangkasan subsidi ini juga berdampak pada dihapuskannya beberapa layanan publik seperti beberapa fasilitas BPJS (obat kanker, katarak, dan persalinan).
Utang Indonesia terhadap Bank Dunia telah mencapai 1.804 juta dollar AS atau setara dengan 275,4 triliun rupiah. Utang ini mau tidak mau harus dilunasi dengan uang negara, yang saat ini mayoritas bersumber dari pajak rakyat maupun non-pajak. Inilah kenapa kebijakan pengetatan anggaran dipaksakan, yang tidak lain merupakan upaya dikte IMF dan Bank Dunia kepada rakyat agar melunasi utang-utang yang bahkan terbit tanpa persetujuan rakyat.
Selama setengah abad, IMF dan Bank Dunia tidak pernah dievaluasi. Padahal banyak dari proyek-proyek mereka yang telah dikritik karena gagal dalam mengatasi krisis, bahkan melanggar hak asasi manusia.
IMF-Bank Dunia 2018 menutup ruang demokrasi dengan merepresi gerakan rakyat yang sedang merespon Annual Meeting IMF-Bank Dunia di Bali
Di sektor agraria, ICIJ menungkapkan bahwa proyek-proyek Bank Dunia telah mengakibatkan masifnya penggusuran ruang hidup yang berdampak pada 3,4 juta orang (petani, nelayan, dan masyarakat adat/suku bangsa terasing), yang biasanya dilakukan dengan dalih pembangunan infrastruktur. Bank Dunia juga baru saja mendanai proyek One Map Program sebanyak 200 juta dollar, yang tujuannya untuk menyukseskan program Reforma Agraria “Palsu” Jokowi-JK. Kami katakan palsu karena hakikat dari program ini bukanlah reforma agraria, bukanlah bertujuan untuk menghapus atau mengurangi monopoli dan perampasan tanah. Program ini bermuara pada pembentukkan Bank Tanah yang berfungsi untuk melembagakan praktik-praktik perampasan dan monopoli tanah.
Di sektor ketenagakerjaan, Bank Dunia tidak ada henti-hentinya mendorong skema fleksibilitas pasar tenaga kerja (labour market flexibility). Dalam dokumen World Development Report 2019, Bank Dunia bahkan mendesak dihapuskannya hak-hak pekerja seperti upah minimum, pesangon, dan menuntut hubungan kerja yang lebih fleksibel antara pekerja dan perusahaan (kontrak, outsourcing, dsb).
Di sektor pendidikan, Bank Dunia merupakan yang mendanai lahirnya UU Badan Hukum Pendidikan yang sudah dicabut, yang kini lahir kembali bernama UU Pendidikan Tinggi. Pendanaan UU tersebut dimuat dalam dokumen Indonesia : Managing Higher Education for Relevance and Efficiency, yang tujuannya mendorong adanya otonomi dan kompetisi di dunia perguruan tinggi. Kini, rakyat dapat merasakan semakin mahalnya biaya pendidikan sebagai akibat dari otonomi, yang berkonsekuensi pada dipangkasnya anggaran dari pemerintah untuk pendidikan. Yang kedua dari kompetisi, yang mendorong kampus-kampus meraup dana sebanyak-banyaknya dari mahasiswa dengan dalih “pembangunan kampus” dan “kampus kelas dunia” yang sejatinya menggeser orientasi pendidikan dari yang seharusnya untuk mengabdi pada rakyat, menjadi berorientasi akumulasi profit/keuntungan.
Mengacu pada alasan-alasan di atas, kami dari Gerakan Rakyat Menentang (GARANG) IMF-Bank Dunia menuntut :
1. Tolak seluruh kesepakatan Annual Meeting IMF-Bank Dunia
2. Bubarkan IMF-Bank Dunia
3. Mengecam tindakan represif dan pembiaran atas aksi kekerasan oleh ormas reaksioner terhadap gerakan rakyat yang menentang IMF-Bank Dunia di Bali
4. Batalkan seluruh perjanjian yang menerbitkan utang baru
5. Hentikan segala bentuk represifitas pada rakyat yang sedang berjuang
6. Hentikan perampasan dan monopoli tanah di Indonesia
7. Cabut PP 78/2015 dan hentikan seluruh skema labour market flexibility
8. Hentikan Reforma Agraria Palsu dan Perhutanan Sosial Jokowi-JK
9. Cabut UU Sisdiknas dan UU Dikti, serta hentikan skema liberalisasi pendidikan
10. Tarik TNI/Polri dan seluruh kekuatan militer, baik yang organik maupun non organic dari tanah Papua
11. Hentikan tindakan kekerasan terhadap perempuan
12. Berikan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua
13. Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan
14. Laksanakan reforma agrarian sejati dan bangun industri nasional yang mandiri dan berdaulat
Hidup Rakyat !