Kisah inspiratif islami

Kisah inspiratif islami menjalin uhkwah islamiah dan berbagi sedikid ilmu

Upah Mengajarkan Al-Quran  إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ الله Rasulullah saw bersabda, “Sesunggu...
27/10/2022

Upah Mengajarkan Al-Quran

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ الله
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upahnya adalah Kitabullah.” (HR al-Bukhari no. 5737).



Imam al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami Sidan bin Mudharb Abu Muhammad al-Bahili, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'syir al-Bashri dia Shuduq Yusuf bin Yazid al-Barra', dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin al -Akhnas Abu Malik dari Ibnu Abiy Mulaikah dari Ibnu Abbas ra: bahwa sekelompok sahabat Nabi saw. melewati mata pernah udara. Di tengah mereka ada orang yang disengat binatang berbisa. Salah satu penduduk sumber air itu menawarkan, “Adakah di antara kalian orang yang meruqyah. Di daerah sumber air ada laki-laki yang disengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang dari mereka pergi. Dia lalu membacakan Fatihah al-Kitab dengan seekor seekor domba. Orang itu pun sembuh. Lalu dia membawa seekor domba itu kepada teman-temannya. Mereka tidak s**a hal itu. Mereka berkata, “Engkau upah atas Kitabullah.” Lalu mereka tiba di Madinah. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, dia mengambil upah atas Kitabullah.” Rasulullah saw. berdoa, “ Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah Kitabullah .”

Rasulullah saw. pernah menikahkan sahabat dengan seorang wanita dengan mahar mengajarkan al-Quran. Rasul saw. berdoa kepada sahabat itu:

ا ( لَّكْتُكَهَا) ا القُرْآنِ

Aku telah menikahkan kamu dengan dia dengan (mahar) al-Quran yang ada padamu (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).



Dalam salah satu riwayat Imam Muslim Rasul saw. bersabda kepada dia:

انْطَلِقْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ

Pergilah karena aku telah nikahkan kamu dengan dia. Karena itu ajari dia sebagian dari al-Quran (HR Muslim).



Jumhur ulama berdalil dengan kedua hadis di atas atas kebolehan upah dari mengajarkan al-Quran. Hadis Ibnu Abbas jelas menunjukkan kebolehan kompensasi atas ruqyah dengan membacakan al-Quran. Membaca al-Quran adalah sama saja baik dalam ruqyah atau pengajaran atau taklim. Karena itu hadis ini juga menjadi dalil kebolehan mengambil kompensasi atas pengajaran al-Quran.

Di dalam satu riwayat Abu Sa’id al-Khudzri dinyatakan bahwa sahabat mensyaratkan upah sepotong dari domba sehingga dia me-ruqyah dia. Bahkan Rasul saw. meminta bagian ketika potongan domba itu dibagi. Dari situ, menurut jumhur ulama, hadis ini juga menunjukkan kebolehan ijarah taklim al-Quran dan mengambil ujrah dari mengajarkan al-Quran.

Demikian p**a hadis tentang pernikahan dengan mahar pengajaran al-Quran. Ini menunjukkan kebolehan kompensasi atau upah pengajaran al-Quran. Sebabnya, yang dijadikan upah hakikatnya adalah kompensasi atas pengajaran al-Quran itu. Pengajaran itu bahkan dinyatakan di dalam riwayat Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa’i.

Di sisi lain, ada hadis-hadis yang memberikan pemahaman larangan mengambil upah atas pengajaran al-Quran. Di antaranya hadis dari Abdurrahman bin Syiblin yang menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلَا تَغْلُوا فِيهِ وَلَا تَجْفُوا عَنْه وَلا تَأْكُلُوا بِهِ وَلا تَسْتَكْثِرُوا بِهِ

Bacalah al-Quran. Janganlah berlebihan di dalamnya. Jangan berpaling darinya. Jangan kamu makan dengannya. Jangan p**a berlebihan meminta dengannya (HR Ahmad).



Imran bin Hushain menuturkan bahwa Rasul saw. bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَاسْأَلُوا الله بِهِ، فَإِنَّ مِنْ بَعْدِكُمْ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَسْأَلُونَ بِهِ النَّاسَ رَوَاه أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِي

Bacalah a-Quran dan mintalah kepada Allah dengannya. Sebab akan ada sebelum kalian membaca al-Quran dan meminta kepada manusia dengan al-Quran (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).



Ubadah bin ash-Shamit menuturkan bahwa dia mengajari beberapa sahabat ahlu ash-shufah . Lalu salah seorang menghadiahi dia busur panah. Dia hal itu kepada Rasul saw., lalu Rasul saw mengatakan kepada dirinya:

ا ا ار اقْبَلْهَا

Jika senang dikalungi dengannya kalung dari api (neraka) maka terimalah (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Dawud).



Ketiga hadis ini dan semisalnya, di dalamnya terdapat makna larangan mengambil ketidakseimbangan dari pengajaran al-Quran. Di dalamnya juga ada kesempatan untuk membaca pelajaran dari al-Quran.

Dari kedua kelompok hadis di atas, sekilas tampak adanya kontradiksi. Hanya saja, dengan memperhatikan semuanya, maka kedua kelompok itu bisa dipertemukan.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa larangan yang diambil itu telah di- naskh dengan kebolehan atau sebaliknya, klaim naskh ini tidak bisa diterima karena tidak diketahui mana yang lebih dulu dan yang belakangan.

Hadis-hadis yang bermakna larangan itu, menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Ashqalani, tidak mengandung pernyataan larangan mutlak. Bahkan itu merupakan kejadian-kejadian kondisional yang bisa ditakwilkan agar sesuai dengan hadis-hadis shahih seperti hadis Ibnu Abbas dan Abu Sa'id al-Khudzri tersebut.

Memang hadis-hadis itu mengandung makna larangan, juga hadis Ubadah seolah menunjukkan larangan itu tegas. Namun demikian, adanya hadis shahih yang membolehkan, yakni hadis Ibnu Abbas dan Abu Sa'id, apalagi Rasul sendiri yang dilakukan dalam hadis Ibnu Abbas dan dalam hadis Abu Sa'id, Rasul pun ikut mendapat bagian dari ketidakseimbangan kambing ketika dibagi, menjadikan larangan itu tidak bersifat tegas. Artinya, larangan itu tidak menunjukkan haram, melainkan menunjukkan karahah atau kemakruhan mengambil upah dari pengajaran al-Quran.

Adapun ijarah pengajaran atau taklim al-Quran tetap boleh. Hal itu ditegaskan oleh Ijmak Sahabat. Diriwayatkan dari Wadhiyah bin Atha' bahwa di Madinah ada tiga orang pengajar yang mengajar anak-anak. Umar bin al-Khaththab ra. memberi masing-masing dari Baitul Mal sebanyak 15 (Dinar) setiap bulan. Tentu saja taklim di sini juga mencakup taklim al-Quran. Apalagi itu termasuk hal paling penting yang harus diajarkan kepada anak-anak.

Wasalam abu yus

09/09/2022

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،،

🦚 Amalan Agar Bermimpi Bertemu Dengan Orang Yang Telah Meninggal Dunia 🦚,,,

{ فائدة } روى عن الحسن البصري رحمه الله انه قال من أراد أن يرى في منامه أحدا من الاموات فليصل العشاء وسنتها وأوتر ثم يصلى أربع ركعات يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة الهاكم التكاثر ثم يأخذ مضجعه و يقول اللهم ارني فلانا على الحالة التي هو عليها فانه يراه في تلك الليلة إن شا الله تعالى

Pemaparan-nya, ada satu cerita yang diambilkan dari Imam Hasan Al-basry, beliau berkata : siapa saja yang ingin melihat dalam mimpi salah satu orang yang telah meninggal dunia maka hendaklah dia mengamalkan perkara di bawah ini,
1. Shalat farzu insya.
2. Shalat sunnah ba'diah insya.
3. Shalat sunnah witir, paling kurang 3 raka'at.
4. Shalat sunnah mutlak 4 raka'at (pelaksanaan-nya dengan 2 raka'at 1X salam)
dan pada tiap² raka'at setelah membaca Al-fatihah membaca surah At-Takasur.

Adapun lafazd niat sunnah mutlak ialah sebagai berikut ini,

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِله تَعَالَى

“Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala"

5. Tidur miring dengan lambung kanan beserta membaca do'a,

أَللَّهُمَّ اَرَنِي ......... عَلىَ الْحَالَةِ الَّتِى هُوَ عَلَيْهَا

( pada titik tersebut disebutkan nama orang yang diinginkan supaya bertemu dalam mimpi )

Apabila telah diamalkan semuanya InsyaAllah pada malam tersebut dia akan bermimpi bertemu dengan orang yang dimaksudkan-nya. Wallahu 'alam

Referensi dari kitab,
كتاب المجربات العلامة الشيخ أحمد الديربي ٥٩

💖 Mohon dikoreksi apabila terdapat kekeliruan dan kesalahan 💖

21/02/2022

MANDI JUNUB BISA TIDAK SAH
OLEH .ABU YUS

Mandi junub merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk diketahui, sebab berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu ibadah.

saat mandi junub, tidak boleh ada sabun atau sampo terlebih dahulu sampai mandi junubnya selesai.

Sebab, sampo atau sabun akan berpotensi merubah sifat air, sehingga dapat menyebabkan tidak sah.

"Syaratnya mandi atau wudhu itu jangan ada di tubuh sesuatu yang merubah air, misal sabun, sampo atau yang lainnya,"

"Makanya kayak orang mandi junub itu banyak yang salah, jadi 1 ciduk air lansung pakai sampo,

Karena adanya sabun dan sampo itulah kemudian air berikutnya tidak bisa menghilangkan hadats besar.

"Berarti semua air ini tidak bisa menghilangkan hadats besar, karena posisi air yang ke seluruh tubuh berbau sampo,"

Karena itu, beber untuk mandi junub sebaiknya menggunakan air bersih hingga mandi junubnya selesai, kemudian baru memakai sampo.

"Tapi kalau kamu pakai sampo dulu, kalau rambutnya banyak, maka potensi air yang menyebar sudah menjadi mutagoyyir," jelas

Karena itu,salah satu syarat mandi junub adalah jangan ada sesuatu di tubuh yang disebut yughoyyiru ma (mengubah).

cara mandi junub yang benar agar dapat menghilangkan hadats besar.

"Ketika waktu mandi junub dari kepala, ya sudah kepala itu awwalul gushli. Kalau kamu siram wajah dulu, ya wajah awwalul gushli,"

Begitupun ketika orang mandi dada dulu, disiramkan di dada saat pertama kali, berarti dada itu disebut awwalul gushli.

"Pokoknya yang setiap bersamaan niat, awwalul fardhi, faham ya, jadi bebas, semua bentuknya awal bebas, cuma apapun pilihan Anda, langsung dibersamai niat,"

menegaskan sesuatu yang tidak dibarengi dengan niat, maka hal tersebut tidak dihitung sebagai mulai fardhu.

"Misalnya ada orang junub, terus ada sisa-sisa mani langsung dia mandi junub disiram, kan air yang melewati mani tadi, potensinya menjadi mutaghoyyir (berubah) karena mani tadi," tutur Gus Baha.

Sehingga jika air tersebut menjadi mutaghoyyir, maka air tersebut tidak memiliki kemampuan rof'ul janabah.

"Makanya halangan-halangan ini harus dihilangkan, dan kotoran yang berpotensi merubah air harus kita hilangkan, termasuk adat memakai sampo itu hentikan ya, bahaya itu," tambah

"Jadi misalnya nawaitu raf'al hadtsil akbar terus kamu pakai sampo, resikonya tadi semua proses ini mutaghoyyir, karena berbau sampo," sambung

Kecuali, jika Anda dapat memastikan sampo itu bersih, namun kemungkinan hal itu sangat kecil.

"Ya itu tadi buktinya, barangkali kamu menyangka mandi sudah selesai, begitu pakai handuk masih berbusa, lah masih berbusa kan bukti semua air tadi kita berbau sampo, berarti statusnya mutaghoyyir,"

Karena itu,untuk mandi junub tidak perlu memakai sabun atau sampo terlebih dahulu sampai selesai mandi junub, setelah itu baru bisa memakai sabun atau sampo itu.

"Jadi nanti seumpama tidak bersih-bersih banget, sudah selesai. Ya jadi jangan sampai ada sesuatu yang seperti meniru mutaghoyyir,"

SEKIAN
MOGA ADA MAMFAAT

*PERISTIWA RAMADHAN YANG MEMILUKAN* "Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu." Itulah teriaka...
04/05/2021

*PERISTIWA RAMADHAN YANG MEMILUKAN*

"Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu."

Itulah teriakan pentolan khawarij Abdurrahman bin Muljam Al Muradi ketika menebas tubuh Imam Ali Karamallahu Wajhah pada saat bangkit dari sujud sholat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H itu.

Abdurrahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun yang dahsyat. Racun itu dibelinya seharga 1000 Dinar.

Tubuh Sayyidina Ali mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. 3 hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) nyawa sahabat yang telah dijamin oleh Rasulullah SAW menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa diri paling Islam.

Sayyidina Ali dibunuh setelah dikafirkan.
Sayyidina Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan Sunnah dan hukum Allah.

Sayyidina Ali dibunuh atas nama hukum Allah.
Itulah kebodohan dan kesesatan orang Khawarij yang saat ini masih ngetrend ditiru oleh sebagian umat Muslim yang semangat agamanya tinggi tapi tidak paham substansi dari wahyu Allah yang mereka baca.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya, Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Surat al-Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh khalifah Ali, Ibnu Muljam kemudian dieksekusi mati dengan cara qishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

"Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah."

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya membunuh suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, yang dijamin menjadi penghuni Surga, dan ayah dari Sayyid Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi Jihad fi Sabilillah, membela agama Allah

Seorang ahli surga meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern ini. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat memprovokasikan untuk berjihad di jalan Allah dengan cara memerangi, dan bahkan membunuh nyawa sesama kaum muslimin.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam?

Dia adalah lelaki yang shalih secara zahir, zahid, bertakwa dan mendapat julukan Al-Muqri'.
Sang pencabut nyawa Sayyidina Ali itu seorang hafidz (penghafal Al-Qur'an) dan sekaligus orang yang mendorong sesama muslim untuk menghafalkan kitab suci tersebut.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan 'Amr bin 'Ash untuk mengajarkan hafalan Al-Qur'an kepada penduduk negeri Mesir. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
"Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al-Qur'an yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai 'Amr bin 'Ash" kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al-Qur'an, bertaqwa dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su'ul khotimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya. Afiliasinya kepada sekte Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit. Ibnu Muljam menetapkan klaim terhadap surga Allah dengan sangat tergesa-gesa dan dangkal.

Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah dan Rasulullah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur?. Mereka adalah kalangan shaleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan Kiyai dan Ulama.

Raut wajah mereka memancarkan kesalehan yang bahkan tampak pada bekas sujud di dahi.

Mereka senantiasa membaca Alquran di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi.

Rasulullah dalam sebuah hadits telah memprediksi kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:

"Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya." (Shahih Muslim, hadits No.1068)

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Wahai kaum muslimin, waspadalah pada gerakan generasi Ibnu Muljam ini. Mari kita siapkan generasi muda kita agar tidak diracuni oleh golongan Ibnu Muljam gaya baru.

Islam itu agama Rahmatan Lil Alamin. Islam itu agama keselamatan. Islam itu merangkul, dan bukan memukul. Ihdinashshirathal mustaqim..

Lidah Dan Keistemaannya,Dan Kerugiaannya.Pertama: berdusta. Jagalah lidahmu agar jangan sam­pai berdusta baik dalam kead...
14/03/2021

Lidah Dan Keistemaannya,
Dan Kerugiaannya.

Pertama: berdusta. Jagalah lidahmu agar jangan sam­pai berdusta baik dalam keadaan yang serius maupun bercanda. Jangan kau biasakan dirimu berdusta dalam canda karena hal itu akan mendorongmu untuk ber­dusta dalam hal yang bersifat serius. Berdusta termasuk induk dosa-dosa besar. Kemudian, jika engkau dikenal mempunyai sifat seperti itu (pendusta) maka orang tak akan percaya pada perkataanmu dan untuk selanjutnya engkau akan hina dan dipandang sebelah mata. Apabila engkau ingin mengetahui busuknya perkataan dusta yang ada pada dirimu, maka lihatlah perkataan dusta yang dilakukan orang lain serta bagaimana engkau membenci, meremehkan, dan tidak menyukainya. La­kukanlah hal semacam itu pada semua aib dirimu. Se­sungguhnya engkau tidak mengetahui aibmu lewat diri­mu sendiri tapi lewat orang lain. Apa yang kau benci dari orang lain, pasti juga orang lain membencinya dari­mu. Oleh karenanya, jangan kau biarkan hal itu ada pada dirimu.

Kedua: menyalahi janji. Engkau tak boleh menjanji­kan sesuatu tapi kemudian tidak menepatinya. Hendak­nya engkau berbuat baik kepada manusia dalam bentuk tingkah laku, bukan dalam bentuk perkataan. Jika eng­kau terpaksa harus berjanji, jangan sampai kau ingkari janji tersebut, kecuali jika engkau betul-betul tak ber­daya atau ada halangan darurat. Sebab, menyalahi janji merupakan salah satu dari tanda-tanda nifak dan buruk­nya akhlak. Nabi Saw. bersabda, “Ada tiga hal, yang jika ada di antara kalian yang jatuh ke dalamnya maka ia termasuk munafik, walaupun ia puasa dan salat. Ya­itu, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat.”

Ketiga: gibah (menggunjing). Peliharalah lidahmu dari menggunjing orang. Dalam Islam, orang yang melaku­kan perbuatan tersebut lebih hebat daripada tiga puluh orang pezina. Begitulah yang terdapat dalam riwayat. Makna gibah adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya. Jika hal itu engkau lakukan, maka engkau adalah orang yang telah melakukan gibah dan aniaya, walaupun engkau berkata benar. Hindarilah untuk menggunjing secara halus. Ya­itu, misalnya engkau nyatakan maksudmu secara tidak Iangsung dengan berkata, “Semoga Allah memperbaiki orang itu. Sungguh tindakannya sangat buruk padaku. Kita meminta kepada Allah agar Dia memperbaiki kita dan dia.” Di sini terkumpul dua hal yang buruk, yaitu gibah (karena dari pernyataanya kita bisa memahami hal itu) dan merasa bahwa diri sendiri bersih tidak ber­salah. Tapi, jika engkau benar-benar bermaksud men­doakannya, maka berdoalah secara rahasia jika engkau merasa berduka dengan perbuatannya. Dengan demi­kian, jelaslah bahwa engkau tak ingin membuka rahasia dan aibnya. Kalau engkau menampakkan dukamu ka­rena aibnya, berarti engkau sedang membuka aibnya. Cukuplah firman Allah Swt. ini menghalangimu dari gibah, “Jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian senang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Pasti kalian tidak me­nyukainya” (Q.S. al-Hujurat: 12).

Allah mengibaratkanmu dengan pemakan bangkai manusia. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika engkau menghindari perbuatan tersebut. Jika engkau mau me­renung, engkau tak akan menggunjing sesama muslim. Lihatlah pada dirimu, apakah dirimu itu mempunyai aib, baik yang tampak secara lahiriah maupun yang ter­sembunyi? Apakah engkau sudah meninggalkan mak­siat, baik secara rahasia maupun terang-terangan? Jika engkau menyadari hal itu, ketahuilah bahwa ketidak­berdayaan seseorang untuk menghindari apa yang kau nisbatkan padanya sama seperti ketidakberdayaanmu. Sebagaimana engkau tidak s**a jika kejelekanmu di­sebutkan, ia juga demikian. Apabila engkau mau me­nutupi aibnya, niscaya Allah akan menutupi aibmu. Ta­pi apabila engkau membuka aibnya, Allah akan jadikan lidah-lidah yang tajam mencabik-cabik kehormatanmu di dunia, lalu Allah akan membuka aibmu di akhirat di hadapan para makhluk-Nya pada hari kiamat. Apabila engkau melihat lahir dan batinmu lalu engkau tidak menemukan aib dan kekurangan, baik dari aspek aga­ma maupun dunia, maka ketahuilah bahwa ketidaktahuanmu terhadap aibmu itu merupakan kedunguan yang sangat buruk. Tak ada aib yang lebih hebat daripada kedunguan tersebut. Sebab, jika Allah menginginkan ke­baikan bagimu, niscaya Dia akan memperlihatkan aib-­aibmu. Tapi, apabila engkau melihat dirimu dengan pan­dangan rida, hal itu merupakan puncak kebodohan. Selanjutnya, jika sangkaanmu memang benar, bersyu­kurlah pada Allah Swt. Jangan malah engkau rusak de­ngan mencela dan menghancurkan kehormatan mereka. Sebab, hal itu merupakan aib yang paling besar.

Keempat: mendebat orang. Karena, dengan mende­bat, kita telah menyakiti, menganggap bodoh, dan men­cela orang yang kita debat. Selain itu, kita menjadi ber­bangga diri serta merasa lebih pandai dan berilmu. Ia juga menghancurkan kehidupan. Manakala engkau mendebat orang bodoh, ia akan menyakitimu. Sedang­kan manakala engkau mendebat orang pandai, ia akan membenci dan dengki padamu. Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang meninggalkan perdebatan sedang ia dalam keadaan salah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan siapa yang meninggal­kan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di sur­ga yang paling tinggi.”

Jangan sampai engkau tertipu oleh setan yang ber­kata padamu, “Tampakkan yang benar, jangan bersikap lemah!” Sebab, setan selalu akan menjerumuskan orang dungu kepada keburukan dalam bentuk kebaikan. Jangan sampai engkau menjadi bahan tertawaan setan sehingga dia mengejekmu. Menampakkan kebenaran kepada mereka yang mau menerimanya adalah suatu kebaikan. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan cara memberikan nasihat secara rahasia bukan dengan cara mendebat. Se­buah nasihat memiliki karakter dan bentuk tersendiri. Harus dilakukan dengan cara yang baik. Jika tidak, ia hanya akan mencemarkan aib orang. Sehingga kebu­kannya lebih banyak daripada kebaikan yang ditim­hulkannya. Orang yang sering bergaul dengan para fa­kih zaman ini memiliki karakter s**a berdebat sehingga ia sulit diam. Sebab, para ulama su’ tersebut mengata­kan padanya bahwa berdebat merupakan sesuatu yang mulia dan mampu berdiskusi merupakan satu kebang­gaan. Oleh karena itu, hindarilah mereka sebagaimana engkau menghindar dari singa. Ketahuilah, perdebatan merupakan sebab datangnya murka Allah dan murka makhluk-Nya.

Kelima: mengklaim diri bersih dari dosa. Allah Swt. berfirman, “Jangan kalian merasa suci. Dia yang lebih me­ngetahui siapa yang bertakwa” (Q.S. an-Najm: 32). Seba­gian ahli hikmat ditanya, “Apa itu jujur yang buruk?” Mereka menjawab, “Seseorang yang memuji dirinya sendiri.” Janganlah engkau terbiasa demikian. Ketahui­lah bahwa hal itu akan mengurangi kehormatanmu di mata manusia dan mengakibatkan datangnya murka Allah Swt. Jika engkau ingin membuktikan bahwa membanggakan diri tak membuat manusia bertambah hormat padamu, lihatlah pada para kerabatmu manakala mereka membanggakan kemuliaan, kedudukan, dan har­ta mereka sendiri, bagaimana hatimu membenci mereka dan muak atas tabiat mereka. Lalu engkau mencela me­reka di belakang mereka. Jadi sadarlah bahwa mereka juga bersikap demikian ketika engkau mulai membang­gakan diri. Di dalam hatinya, mereka mencelamu dan hal itu akan mereka ungkapkan ketika mereka tidak ber­ada di hadapanmu.

Keenam: mencela. Jangan sampai engkau mencela ciptaan Allah Swt, baik itu hewan, makanan, ataupun manusia. Janganlah engkau dengan mudah memastikan seseorang yang menghadap kiblat sebagai kafir, atau munafik. Karena, yang mengetahui semua rahasia hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, jangan mencampuri urusan antara hamba dan Allah Swt. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat engkau tak akan ditanya, “Mengapa engkau tidak mencela si fulan? Mengapa engkau men­diamkannya?” Bahkan, walaupun engkau tidak mencela iblis sepanjang hidupmu dan engkau melupakannya, engkau tetap tak akan ditanya tentang hal itu serta tak akan dituntut karenanya pada hari kiamat. Tapi, jika engkau mencela salah satu makhluk Allah Swt. baru engkau akan dituntut. Jangan engkau mencerca sesuatu pun dari makhluk Allah Swt. Nabi Saw. sendiri sama sekali tidak pernah mencela makanan yang tidak enak. Jika beliau berselera dengan sesuatu, beliau memakan­nya. Jika tidak, beliau tinggalkan.

Ketujuh: mendoakan keburukan bagi orang lain. Pe­liharalah lidahmu untuk tidak mendoakan keburukan bagi suatu makhluk Allah Swt. Jika ia telah berbuat aniaya padamu, maka serahkan urusannya pada Allah Swt. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Seorang yang dianiaya mendoakan keburukan bagi yang menganiaya dirinya sehingga menjadi imbang, kemudian yang meng­aniaya masih memiliki satu kelebihan yang bisa ia tuntut kepadanya pada hari kiamat.” Sebagian orang terus mendoakan keburukan bagi Hajjaj sehingga sebagian salaf berkata, “Allah menghukum orang-orang yang te­lah mencela Hajjaj untuknya, sebagaimana Allah meng­hukum Hajjaj untuk orang yang telah ia aniaya.”
Kedelapan: bercanda, mengejek, dan menghina orang. Peliharalah lidahmu baik dalam kondisi serius maupun canda karena ia bisa menjatuhkan kehormatan, menu­runkan wibawa, membuat risau, dan menyakiti hati. Ia juga merupakan pangkal timbulnya murka dan marah serta dapat menanamkan benih-benih kedengkian di da­lam hati. Oleh karena itu, jangan engkau bercanda de­ngan seseorang dan jika ada yang bercanda denganmu,jangan kau balas. Berpalinglah sampai mereka mem­bicarakan hal lain.

18/02/2021

Kisah Sahabat Nabi Abu Dujanah dengan Pohon Kurma

BEGITU banyak jalan dari Allah SWT untuk hambanya yang selalu mematuhi perintah agamanya. Salah satu perintahnya adalah tidak mengambil apapun yang bukan miliknya, karena itu haram hukumnya. Salah satu contohnya adalah mengembalikan barang yang bukan milik kita.

Bagi islam banyak dosa yang akan dia dapat ketika memakan harta haram yang bukan miliknya. Untuk itu sangat penting untuk menjaga diri dan keluarga agar tidak makan dari yang tidak halal. Berikut adalah kisah tentang sahabat nabi Muhammad SAW yang sangat menjaga dirinya dan keluarganya dari barang haram yang bukan miliknya. Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (17/06/2019).

Pada zaman Nabi Muhammad, terdapat seorang bernama Abu Dujanah dan dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Dujanah adalah orang yang sangat taat kepada agama dan Nabinya Muhammad SAW. Dia selalu menjalankan ibadah yang dianjurkan oleh agamanya yaitu islam. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru p**ang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru p**ang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah.

Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan.

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.

“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera p**ang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.

Satu saat, kami pernah agak terlambat p**ang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”

Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memas**an jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak." Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Dia katakan kembali kepada anaknya itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”

Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras.

Nabi Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan itu.Sahabat nabi Muhammad SAW pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik Tanpa basa-basi, Nabi memanggil pemilik pohon kurma tersebut untuk bertemunya. Setelah bertemu dengan pemilik pohon Nabi Muhammad lalu mengatakan, “Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?

Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Nabi Muhammad SAW.

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”

Lalu tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Dujanah.

Nabi Muhammad kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu p**a Abu Dujanah.

Setelah Pohon kurmanya di beli oleh Abu Bakar, Si laki-laki munafik inipun p**ang dan berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi.

“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu (Abu Dujanah) sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Si munafik itupun keheranan. Kisah ini dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H).

Dari Kisah Ini dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan haram yang bukan miliknya. Sesusah apapun hidup jagalah diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak dis**ai oleh Allah SWT. Setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Jika semua tidak di dapatkan sekarang maka akan di dapatkan di Akhirat kelak.

Address

Aceh Utara

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kisah inspiratif islami posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Kisah inspiratif islami:

Share

Category