BPI silahkan teman-teman share apa saja tentang BPI atau tentang konseling di sini

Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) bertujuan menyiapkan ilmuwan dakwah yang bermoral tinggi serta memiliki keterampilan dalam memberikan bimbingan dan Penyuluhan agama Islam baik dalam keluarga maupun masyarakat Muslim secara profesional.

06/09/2012

Bagi yang s**a baca... silahkan nongkrong di Pojok Balong

ℬℯґυṧαн@ ṧεм@кṧ☤ღ@ʟ μüη❡к☤η ʊη☂ʊк μ℮μḟ@﹩☤ℓї⊥α?

05/09/2012

Kesan terhadap kinerja BK di sekolah untuk mengatasi permasalahan yang dialami siswa dalam ranah kehidupan intrapersonal, interpersonal, akademis, dan karir masih belum dirasakan efektif oleh semua pihak. Persepsi bahwa BK menjadi “polisi sekolah”, “ember bocor”, ataupun “mata-mata” masih belum terhapus dalam ingatan siswa. Dikalangan guru, keberadaan BK masih dipandang sebelah mata, karena dianggap tidak jelas pekerjaannya. Fenomena semacam ini banyak terjadi bukan hanya di sekolah negeri tapi juga di sekolah swasta. Ketidakefektifan kinerja BK disekolah sepanjang yang saya cermati tidak lepas dari variabel-variabel yang terjadi berikut ini.

Persepsi bahwa guru BK itu hadir di sekolah hanya untuk siswa perlu diluruskan, karena umumnya para guru tidak menyadari bahwa cara mereka berinteraksi dengan siswa, mendisiplinkan siswa, dan menyelesaikan permasalahan siswa tidak sedikit yang menyakiti, merusak citra diri, mengikis kepercayaan diri, mematahkan kreativitas, bahkan menghilangkan cinta yang ada dalam diri anak didiknya.

Sebutan “siswa bermasalah” yang sering kita dengar di sekolah merupakan contoh nyata dan hal yang biasa, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan psikologi yang dimiliki guru masih tergolong minim dan perlu ditingkatkan. Efek dari tindakan labeling (sebutan siswa bermasalah) adalah siswa akan benar-benar memerankan apa yang dilabelkan pada dirinya.

Lebih bijak jika kita mengatakan “siswa dengan perilaku (bermasalah)” misalnya, perilaku membolos. Hal itu membuat kita lebih fokus pada suatu perilaku tertentu yang tak dapat diterima, bukan pada perilaku seluruhnya. Dengan begitu, kita masih dapat melihat sisi-sisi positif dalam diri siswa dan bersikap lebih objektif. Kenyataan ini berimplikasi terhadap keberadaan BK yang sebaiknya juga dimanfaatkan oleh guru sebagai tempat konsultasi dalam menentukan perilaku apa yang sebaiknya diterapkan saat berinteraksi dengan anak didiknya sesuai standar kesehatan secara psikologis.

Faktor lain adalah fungsi dan peran guru BK belum dipahami secara tepat baik oleh pejabat sekolah maupun guru BK itu sendiri. Di beberapa sekolah, banyak guru BK yang berfungsi ganda dengan memerankan beragam jabatan misalnya, disamping sebagai guru BK dia juga menjabat wali kelas dan atau guru piket harian. Akibatnya, dia terlibat dalam penegakan tata tertib sekolah, pemberian hukuman, dan atau tindakan razia yang merupakan tindakan yang dibenci oleh siswa. Efeknya, kepercayaan siswa terhadap netralitas yang diperankan guru BK menjadi menurun dan tidak sedikit siswa beranggapan bahwa sosok guru BK sama saja dengan guru yang lain serta bukan tempat yang nyaman buat para siswa. Konsekuensinya, siswa menjadi enggan untuk melakukan konseling dengan s**arela, padahal ini merupakan tugas utama yang dipercayakan kepada guru BK di sekolah dan tidak bisa digantikan oleh siapapun. Fungsi dan peran guru BK yang berstandar ganda ini jelas menyalahi kode etika profesi sebagai konselor.

Fenomena lain yang terlihat adalah sekolah tidak menyediakan fasilitas ruang konseling yang memadai. Ruang konseling dianggap sama dengan ruang kerja guru BK sehingga terwujud apa adanya. Padahal ruang konseling itu punya desain interior secara khusus dan tata letak furnitur yang diatur sesuai dengan orientasi teori konseling dan terapi yang diterapkan seorang konselor terhadap kliennya.

Sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah selama ini juga turut mempersulit keefektifan pelayanan konseling yang dijalankan. Aturan yang memberlakukan 1 guru BK menangani 150 siswa itu terkesan menutup mata dari fakta yang ada karena guru BK memerlukan data siswa tidak hanya yang bersifat kuantitatif tapi juga kualitatif yang justeru lebih penting untuk didalami dalam memahami dan memfasilitasi perkembangan siswa, sebab terkait erat dengan tindakan konseling dan terapi yang akan dilakukan bila siswa mengalami suatu permasalahan. Terlebih lagi, pelayanan yang diberikan guru BK sebenarnya bukan hanya untuk siswa yang mempunyai masalah saja tapi juga siswa yang punya potensi lebih, tetapi belum mampu berprestasi secara memadai. Pelayanan BK juga harus merambah siswa berprestasi yang ingin mengembangkan prestasinya lebih baik lagi. Bayangkan saja, jika seorang guru BK ingin melakukan wawancara untuk mengeksplorasi bakat dan minat siswa, tentu ini menjadi sulit dalam penentuan waktu dan tempat pelaksanaannya pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung di sekolah.

Ketidakefektifan kinerja BK yang terjadi selama ini sebetulnya akibat system yang masih belum membumi, juga disebabkan oleh kompetensi personal dan professional seorang guru BK yang belum memadai. Dalam berbagai pertemuan yang dihadiri oleh guru BK kebanyakan masih berkutat membicarakan masalah administrasi, bukan membicarakan hal yang lebih esensial seperti materi pengembangan diri yang diberikan kepada siswa dan bagaimana melakukan sesi konseling yang benar baik secara individu maupun kelompok. Padahal guru BK dituntut melakukan kegiatan tersebut yang merupakan pelayanan khas dan lebih produktif yang hanya bisa diberikan oleh guru BK di sekolah.

Jika kita menginginkan kinerja guru BK menjadi efektif, sudah selayaknya system yang ada saat ini dibenahi segera, agar siswa disekolah dapat mengembangkan beberapa potensi ranah kehidupan intrapersonal seperti: memiliki konsep diri yg positif, mampu mengatur diri, percaya diri, dan independen. Juga, siswa dapat mengembangkan ranah kehidupan interpersonal sehingga mereka memiliki kepedulian sosial, kemampuan menjalin & mempertahankan hubungan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dalam ranah kehidupan akademis, itu pun diharapkan berkembang sehingga siswa punya motivasi yang tinggi dalam belajar, dan dapat berprestasi dalam kesehariannya. Demikian juga dalam ranah kehidupan karir, siswa mampu mengenali & memahami profesi dan pekerjaan yg sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya agar dia mampu menjadi produktif, kreatif, dan inovatif serta memiliki iman dan taqwa dalam pekerjaan dan profesi yang digelutinya kelak

Pengertian Bimbingan dan KonselingMiller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan ...
05/09/2012

Pengertian Bimbingan dan Konseling



Miller (I. Djumhur dan Moh. Surya, 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.

United States Office of Education (Arifin, 2003) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya, misalnya problema kependidikan, jabatan, kesehatan, sosial dan pribadi. Dalam pelaksanaannya, bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa
“Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.

Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.

Dalam pengertian tersebut tersimpul hal-hal pokok sebagai berikut :
- Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan.
- Pelayanan bimbingan dan konseling dilakukan melalui kegiatan secara perorangan dan/atau
kelompok.
- Arah kegiatan bimbingan dan konseling ialah membantu peserta didik untuk dapat
melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara optimal.
- Pelayanan bimbingan dan konseling dikemas ke dalam Pola 17 Plus
- Pelayanan bimbingan dan konseling harus didasarkan pada norma-norma yang berlaku.



AZAS BK

• Kerahasiaan, menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang peserta
didik yang menjadi sasaran layanan.

• Kes**arelaan, menghendaki adanya kes**aan dan kerelaan peserta didik mengikuti /
menjalani layanan atau kegiatan yang diperuntukan baginya. Dalam hal ini Guru Bimbingan
Konseling / Konselor berkewajiban membina dan mengembangkan kes**arelaan tersebut.

• Keterbukaan, menghendaki agar peserta didik yang menjadi sasaran layanan bersikap
terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya
sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi
pengembangan dirinya. Dalam hal ini Guru Bimbingan Konseling / Konselor berkewajiban
mengembangkan keterbukaan peserta didik.

• Kegiatan, menghendaki agar peserta didik yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi
secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan / kegiatan bimbingan. Dalam hal ini Guru
Bimbingan Konseling / Konselor mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap layanan /
kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.

• Kemandirian, menunjuk pada tujuan umum bimbingan konseling, yaitu peserta didik sebagai
sasaran layanan diharapkan menjadi individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan
menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta
mewujudkan diri sendiri sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Guru Bimbingan Konseling /
Konselor hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan yang diselenggarakan bagi
perkembangan peserta didik.

• Kedinamisan, menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan yang sama
hendaknya selalu bergeser maju, tidak monoton dan terus berkembang serta berkelanjutan
sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

• Keterpaduan, menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling,
baik yang dilakukan oleh Guru Bimbingan Konseling / Konselor maupun pihak lain, saling
menunjang, harmonis dan terpadu. Dalam hal ini kerja sama antara Guru Bimbingan
Konseling / Konselor dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan
Bimbingan dan Konseling perlu terus dikembangkan.

• Kenormatifan, menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling
didasarkan pada (dan tidak boleh bertentangan dengan) nilai dan norma-norma yang ada,
yaitu norma-norma agama, hukum dan peratura n, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan
kebiasaan yang berlaku. Layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling harus dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan
norma-norma tersebut.

• Keahlian, menghendaki agar layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling
diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini para pelaksana
hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
Keprofesionalan Guru Bimbingan Konseling / Konselor harus terwujud, baik dalam
penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan Bimbingan dan Konseling maupun dalam
penegakan kode etik Bimbingan dan Konseling.

• Alih tangan, menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan
Bimbingan dan Konseling secara cepat dan tuntas terhadap satu permasalahan peserta didik
segera mengalihtangankan permasalahan tersebut kepada yang lebih ahli (berkompeten).

• Tut wuri handayani, menghendaki agar pelayanan Bimbingan dan Konseling secara
keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman),
mengembangkan keteladanan, memberikan dorongan dan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengoptimalkan potensi diri yang dimilikinya.


Bidang - Bidang Bimbingan Konseling

Kehidupan Pribadi
Meliputi pemahaman diri, mengenali potensi diri, bakat, minat pribadi dan pengembangannya serta penyalurannya melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk perannya di masa mendatang; menemukan nilai-nilai kehidupan bagi diri sendiri maupun bagi diri dan lingkungan; pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; pemantapan dalam perencanaan pertumbuhan jasmaniah dan rohaniah yang sehat, termasuk perencanaan hidup bersama atau berkeluarga.

Kehidupan Sosial
Meliputi penyesuaian diri, berkomunikasi dan berinteraksi, baik secara lisan maupun tulisan secara efektif, efisien dan produktif dengan teman sebaya, lingkungan sekitar, dan dalam kehidupan bersama, pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial dalam hubungan teman sebaya dalam perannya sebagai pria atau wanita

Dengan warga sekolah (guru dan karyawan), masyarakat di lingkungan (tempat tinggal) dan orang tua atau dalam keluarga sebagai upaya memperoleh gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi, serta pencapaian kematangan dalam sistem etika, nilai kehidupan, moral dan agama.

Kehidupan Belajar
Meliputi kemampuan menemukan hambatan atau kesulitan belajar dan pemantapan sikap kebiasaan disiplin belajar dan keterampilan berlatih, yang efektif dan efisien serta produktif dengan berbagai sumber belajar yang diperoleh, baik secara mandiri maupun berkelompok, pemantapan kondisi fisik, sosial dan budaya di lingkungan sekolah dan/atau alam sekitar serta lingkungan masyarakat untuk pengembangan diri.


Kehidupan Karier
Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang hendak dipilih dan dikembangkan, pemantapan orientasi dan informasi karir terhadap kelanjutan studi ke pendidikan tinggi maupun ke dunia kerja, dan pengambilan keputusan karir dalam merencanakan masa depan.

05/09/2012

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN INDIVIDU DALAM RENTANG KEHIDUPAN

by Sulistiyowati

Pernahkah Anda tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang sudah berpisah lima enam tahun dengan Anda? Ada yang berubah.... Itu pasti yang ada dalam benak Anda. Entah penampilan fisik, pembawaan dirinya, atau pola pikirnya. Dalam rentang kehidupan manusia, proses perkembangan terjadi. Perkembangan adalah serangkaian proses progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman (Hurlock, 1993:2). Manusia selalu dinamis dan semenjak pembuahan sampai ajal selalu terjadi perubahan.
Dalam rentang kehidupannya, manusia melewati tahap-tahap perkembangan dimana setiap tahap memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai dan diselesaikan. Sebagian besar dari kita ingin berusaha menguasai dan menyelesaikannya pada waktu yang tepat . Beberapa orang dapat berhasil, sedangkan yang lain kemungkinan tidak berhasil atau terlalu cepat dari tahap yang seharusnya.
Havighurst membagi tugas-tugas perkembangan selama rentang kehidupan manusia sebagai berikut:

Masa bayi dan awal masa kanak-kanak
1. Belajar memakan makanan padat
2. Belajar berjalan
3. Belajar berbicara
4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
5. Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
6. Mempersiapkan diri untuk membaca
7. Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani
Akhir masa kanak-kanak
1. Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
5. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai.
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi
Masa Remaja
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
2. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
5. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya
6. Mempersiapkan karir ekonomi
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku-mengembangkan ideologi
Awal Masa Dewasa
1. Mulai bekrja
2. Memilih pasangan
3. Belajar hidup dengan tunangan
4. Mulai membina keluarga
5. Mengasuh anak
6. Mengelola rumah tangga
7. Mengambil tanggung jawab sebagai waga negara
8. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan
Masa Usia Pertengahan
1. Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara
2. Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang beranggung jawab dan bahagia
3. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
4. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini
6. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
7. Menyesuaikan diri dengan orangtua yang semakin tua
Masa Tua
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan menurunnya penghasilan keluarga
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Dengan mengetahui secara garis besar tugas-tugas perkembangan di atas, kita dapat menyusun program-program pembelajaran non formal untuk membantu mengasah ketrampilan dan bakat individu sehingga tugas-tugas perkembangannya dapat dikuasai dan diselesaikan tepat waktu.
Sejak tahap perkembangan masa bayi, individu dapat diberikan pendidikan non formal sesuai dengan kebutuhannya untuk membantu menguasai tugas-tugas perkembangan.
Penting juga diketahui bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk menguasai dan menyelesaikannya. Faktor-faktor tersebut:
Faktor Penghalang
1. Tingkat Perkembangan yang mundur
2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya
3. Tidak ada motivasi
4. Kesehatan yang buruk
5. Cacat tubuh
6. Tingkat keerdasan yang rendah
Faktor yang membantu
1. Tingkat perkembangan yang normal
2. Kesematan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
3. Motivasi
4. Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
5. Tingkat kecerdasan yang tinggi
6. Kreativitas
Terlepas dari berapa panjang rentang kehidupan seseorang, ukuran kronologis atau usia adalah kriteria pokok untuk menentukan tahap-tahap perkembangan individu. Pembagian ukuran kronologis ini:
1. Periode Pranatal; masa sebelum kelahiran
2. Bayi; kelahiran sampai minggu kedua
3. Masa bayi; akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua
4. Awal masa kanak-kanak; dua sampai enam tahun
5. Akhir masa kanak-kanak; enam sampai sepuluh atau dua belas tahun
6. Masa pubertas; sepuluh atau dua belas sampai tiga belas atau empat belas tahun
7. Masa remaja; tiga belas atau empat belas sampai delapan belas tahun
8. Awal masa dewasa; delapan belas sampai empat puluh tahun
9. Usia pertengahan; empat puluh sampai enam puluh tahun
10. Masa tua atau usia lanjut; enam puluh tahun sampai meninggal
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan non formal dapat diberikan kepada seseorang sepanjang rentang kehidupannya. Banyak yang bisa diberikan kepada individu untuk membantunya menguasai dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan, sesuai dengan kebutuhannya pada suatu tahap perkembangan. Misalnya pada akhir masa kanak-kanak, memberikan ketrampilan dasar untuk mengembangkan peran sosial pria atau wanita dengan tepat dapat kita lakukan dengan memberikan pelatihan kecerdasan emosi untuk mengasah rasa empati atau kepekaan sosial

09/10/2009

BPI adalah Bimbingan Penyuluhan Internasional

Address

Cipoetat
Tangsel
15412

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when BPI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share