Baginda Ali Zubeir Hasibuan

Baginda Ali Zubeir Hasibuan Menguasai Ilmu Hukum

ayah saya bernama Tongku Bosar, Anaknya Baginda Ali, Anaknya Baginda Malim, Anaknya Tongku Rajo, Anaknya SORIPADA (JATTAN BIRONG)
menurut saya Setiap yang terlahir dengan Normal Kedunia ini, tidak ada yang bodoh dan Pintar, yang berbeda hanyalah kemauan mengasah kemampuan dan Potensi masing-masing Individu.

Hukum Perdata Bukan Soal Siapa Paling Keras, Tapi Siapa Paling TertibPerkara perdata tidak mencari siapa yang paling mar...
17/01/2026

Hukum Perdata Bukan Soal Siapa Paling Keras, Tapi Siapa Paling Tertib

Perkara perdata tidak mencari siapa yang paling marah atau paling merasa benar. Ia bekerja dengan keteraturan, konsistensi, dan bukti. Karena itu, persiapan awal bukan soal membalas, melainkan menata ulang peristiwa secara tenang dan rasional.
Menulis kronologi secara jujur sering kali menjadi momen penting: di situlah seseorang mulai menyadari apakah ia benar-benar dirugikan secara hukum, atau sekadar tersinggung secara emosional.

Menghadapi Perkara Perdata: Persiapan Mental dan Nalar Hukum Sebelum Menunjuk PengacaraBanyak orang beranggapan bahwa ke...
17/01/2026

Menghadapi Perkara Perdata: Persiapan Mental dan Nalar Hukum Sebelum Menunjuk Pengacara

Banyak orang beranggapan bahwa ketika masalah hukum muncul, langkah pertama adalah mencari pengacara. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Dalam perkara perdata, kesadaran hukum justru harus dimulai dari diri sendiri, sebelum diserahkan kepada profesional.
Pengacara adalah alat bantu, bukan tongkat sihir. Tanpa kesiapan nalar, data, dan tujuan yang jelas, perkara perdata mudah berubah menjadi konflik panjang yang menguras emosi dan biaya.

Yatiman Pada Jum'at Berkah mencoba Melatih Kesadaran Pribadi untuk Perduli dan mencapai kesadaran tertinggi dalam mengam...
11/01/2026

Yatiman Pada Jum'at Berkah mencoba Melatih Kesadaran Pribadi untuk Perduli dan mencapai kesadaran tertinggi dalam mengamalkan satu ayat
QS. Al-Mā‘ūn (107) Ayat 1
Arab:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
Latin:
Ara’aitalladzī yukadzdzibu bid-dīn
Artinya (Bahasa Indonesia – Kemenag RI):
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”

10/01/2026

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan tidak akan campur tangan terkait kasus yang menimpa eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Sebagai kakak, dia menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berlaku.

“Sebagai kakak tentu secara emosional saya ikut merasakan. Tapi masalah hukum terserah proses hukum. Saya sama sekali tidak ikut campur,” ujar Gus Yahya seperti dilansir dari Antara, Jumat (9/1/2026)

09/01/2026
09/01/2026

Yatiman Jum'at Berkah Melatih Keperdulian dan Kesadaran Pribadi
berat

09/01/2026

“Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis”—bukan untuk meniadakan kritiknya, melainkan menolak kesimpulan nihilistik Anarki bahwa mencintai Indonesia identik dengan masokisme.

Mencintai Indonesia Bukan Masokisme, Melainkan Tanggung Jawab Historis

Ada kelelahan yang jujur dalam tulisan itu—dan kejujuran memang sering lahir dari luka. Namun kelelahan, betapapun sah, bukan landasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa cinta kepada Indonesia adalah tindakan masokis. Sebab masokisme meniscayakan kenikmatan dari penderitaan, sementara cinta pada bangsa ini justru berangkat dari kehendak untuk mengakhiri penderitaan, bukan memeliharanya.
Indonesia bukan kekasih tunggal yang berkehendak satu. Ia bukan tubuh monolitik yang secara sadar menyiksa anak-anaknya. Indonesia adalah arena pertarungan, tempat berbagai kepentingan saling berbenturan: rakyat dan elite, keadilan dan keserakahan, hukum dan manipulasi. Menyamakan Indonesia dengan para perampok yang mengatasnamakan negara adalah kesalahan kategoris—mengaburkan musuh yang sesungguhnya.

Kritik Bukan Bukti Hubungan Abusif, Melainkan Tanda Kepedulian.

Jika mencintai Indonesia adalah masokisme, maka setiap petani yang bertahan di lahannya, setiap guru honorer yang tetap mengajar, setiap buruh yang menuntut upah layak, dan setiap mahasiswa yang turun ke jalan—semuanya adalah pelaku penyimpangan psikologis. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: mereka bertahan karena percaya perubahan mungkin diperjuangkan.

Masokisme menyerah pada rasa sakit. Perlawanan justru lahir dari keyakinan bahwa rasa sakit itu tidak normal dan tidak boleh dinormalisasi.

Negara Boleh Gagal, Tetapi Bangsa Tidak Identik dengan Kegagalan Itu

Tulisan tersebut mencampuradukkan tiga hal: negara, rezim, dan bangsa. Ketika hukum diperdagangkan, ketika aparat menyimpang, ketika elite korup—yang gagal adalah pengelolaan negara oleh manusia, bukan gagasan Indonesia itu sendiri.
Indonesia bukan hanya istana dan parlemen. Indonesia hidup di desa yang mempertahankan tanah adatnya, di komunitas nelayan yang melawan perampasan laut, di ruang-ruang kecil solidaritas yang tidak pernah masuk pidato kenegaraan. Di sanalah Indonesia bekerja diam-diam, jauh dari kamera dan retorika.

Nasionalisme Tidak Sama dengan Tepuk Tangan

Menolak narasi masokisme bukan berarti menutup mata terhadap ketidakadilan. Nasionalisme yang dewasa justru tidak anti-kritik. Ia anti-pembiaran. Ia menolak tunduk, tetapi juga menolak putus asa.
Pergi bukan selalu bentuk keberanian, sebagaimana bertahan bukan selalu tanda kepengecutan. Dalam banyak fase sejarah, bertahan dan melawan dari dalam justru menjadi jalan yang mengubah arah bangsa.
Indonesia Tidak Butuh Cinta yang Menangis, Tetapi Cinta yang Bekerja

Indonesia tidak memerlukan ratapan puitik yang berakhir pada keputusasaan moral. Ia membutuhkan warga yang marah, tetapi tetap rasional; kecewa, tetapi tetap bertindak; lelah, tetapi tidak menyerahkan makna bangsa kepada para pencurinya.
Mencintai Indonesia bukan soal memeluk kaktus. Ia adalah soal mencabut duri satu per satu, meski tangan berdarah. Itu bukan masokisme—itu kerja sejarah.

Indonesia memang belum adil. Tetapi menyimpulkan bahwa mencintainya adalah tindakan masokis sama saja dengan menyerahkan definisi Indonesia kepada mereka yang merusaknya. Dan itu adalah kemenangan paling mudah bagi para bandit berseragam dan oligarki rakus.
Indonesia tidak sedang meminta kita bersujud.
Ia sedang menunggu kita berdiri.

Baru Pindahan Kantor Ruang Mengasah Kemampuan Intelektual dan Profesional.
04/01/2026

Baru Pindahan Kantor

Ruang Mengasah Kemampuan Intelektual dan Profesional.

04/01/2026

Just an hour away from the more famous vacation spot, the island does not have traffic jams, digital nomads or DJ parties. It does have deserted beaches, surfing spots and a low-key charm.

03/01/2026

Komitmen anak Hukum
dalam Membina meningkatkan Produktifitas peternak Dalam mendukung Ketahanan Pangan.

03/01/2026

Yatiman Bareng Abah
untuk membangun kesadaran
saung Pajajaran 5 Daerah Kunciran.

Address

Jalan Baru LUK No. 27D RT. 03 RW 07 Bakti Jaya
Setu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Baginda Ali Zubeir Hasibuan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to Baginda Ali Zubeir Hasibuan:

Share