09/01/2026
“Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis”—bukan untuk meniadakan kritiknya, melainkan menolak kesimpulan nihilistik Anarki bahwa mencintai Indonesia identik dengan masokisme.
Mencintai Indonesia Bukan Masokisme, Melainkan Tanggung Jawab Historis
Ada kelelahan yang jujur dalam tulisan itu—dan kejujuran memang sering lahir dari luka. Namun kelelahan, betapapun sah, bukan landasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa cinta kepada Indonesia adalah tindakan masokis. Sebab masokisme meniscayakan kenikmatan dari penderitaan, sementara cinta pada bangsa ini justru berangkat dari kehendak untuk mengakhiri penderitaan, bukan memeliharanya.
Indonesia bukan kekasih tunggal yang berkehendak satu. Ia bukan tubuh monolitik yang secara sadar menyiksa anak-anaknya. Indonesia adalah arena pertarungan, tempat berbagai kepentingan saling berbenturan: rakyat dan elite, keadilan dan keserakahan, hukum dan manipulasi. Menyamakan Indonesia dengan para perampok yang mengatasnamakan negara adalah kesalahan kategoris—mengaburkan musuh yang sesungguhnya.
Kritik Bukan Bukti Hubungan Abusif, Melainkan Tanda Kepedulian.
Jika mencintai Indonesia adalah masokisme, maka setiap petani yang bertahan di lahannya, setiap guru honorer yang tetap mengajar, setiap buruh yang menuntut upah layak, dan setiap mahasiswa yang turun ke jalan—semuanya adalah pelaku penyimpangan psikologis. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: mereka bertahan karena percaya perubahan mungkin diperjuangkan.
Masokisme menyerah pada rasa sakit. Perlawanan justru lahir dari keyakinan bahwa rasa sakit itu tidak normal dan tidak boleh dinormalisasi.
Negara Boleh Gagal, Tetapi Bangsa Tidak Identik dengan Kegagalan Itu
Tulisan tersebut mencampuradukkan tiga hal: negara, rezim, dan bangsa. Ketika hukum diperdagangkan, ketika aparat menyimpang, ketika elite korup—yang gagal adalah pengelolaan negara oleh manusia, bukan gagasan Indonesia itu sendiri.
Indonesia bukan hanya istana dan parlemen. Indonesia hidup di desa yang mempertahankan tanah adatnya, di komunitas nelayan yang melawan perampasan laut, di ruang-ruang kecil solidaritas yang tidak pernah masuk pidato kenegaraan. Di sanalah Indonesia bekerja diam-diam, jauh dari kamera dan retorika.
Nasionalisme Tidak Sama dengan Tepuk Tangan
Menolak narasi masokisme bukan berarti menutup mata terhadap ketidakadilan. Nasionalisme yang dewasa justru tidak anti-kritik. Ia anti-pembiaran. Ia menolak tunduk, tetapi juga menolak putus asa.
Pergi bukan selalu bentuk keberanian, sebagaimana bertahan bukan selalu tanda kepengecutan. Dalam banyak fase sejarah, bertahan dan melawan dari dalam justru menjadi jalan yang mengubah arah bangsa.
Indonesia Tidak Butuh Cinta yang Menangis, Tetapi Cinta yang Bekerja
Indonesia tidak memerlukan ratapan puitik yang berakhir pada keputusasaan moral. Ia membutuhkan warga yang marah, tetapi tetap rasional; kecewa, tetapi tetap bertindak; lelah, tetapi tidak menyerahkan makna bangsa kepada para pencurinya.
Mencintai Indonesia bukan soal memeluk kaktus. Ia adalah soal mencabut duri satu per satu, meski tangan berdarah. Itu bukan masokisme—itu kerja sejarah.
Indonesia memang belum adil. Tetapi menyimpulkan bahwa mencintainya adalah tindakan masokis sama saja dengan menyerahkan definisi Indonesia kepada mereka yang merusaknya. Dan itu adalah kemenangan paling mudah bagi para bandit berseragam dan oligarki rakus.
Indonesia tidak sedang meminta kita bersujud.
Ia sedang menunggu kita berdiri.