02/02/2026
“Tanggung Jawab Ibadah Ngopi Lalu Mati”
Laki-laki yang bekerja sering kali diajarkan satu liturgi tak tertulis’ bangun pagi, berangkat kerja, menanggung dunia, lalu ngopi dan mati. Di sela kepulan asap rokok dan pahit kopi yang setia, ia menaruh letihnya, seolah meja warung kopi, caffee adalah altar kecil tempat doa-doa pendek dipanjatkan ke langit. Ngopi bukan sekadar kebiasaan’ ia menjelma seumpama ibadah sunyi, jeda untuk merapikan napas sebelum kembali berhadapan dengan kerasnya hari.
Ironi hidup modern justru bersembunyi di sana. Tanggung jawab yang dipikul laki-laki pekerja kerap direduksi menjadi rutinitas mekanis’ kerja,ngopi pulang, diulang hingga ajal.
Seakan hidup ini cukup ditebus dengan setoran waktu dan cangkir kopi. Padahal, tanggung jawab sejati tak berhenti pada bertahan hidup, ia menuntut keberanian untuk memberi makna pada keluarga, pada pekerjaan, pada lingkungannya dan pada dirinya sendiri.
“Bekerja ibada dan Ngopi lalu mati” bukan kutukan, melainkan peringatan. Bahwa bila hidup hanya dijalani sebagai antrean kewajiban tanpa kesadaran, maka kematian datang tanpa pernah benar-benar ditemui kehidupan. Ibadah sejati bukan pada kopinya, melainkan pada kesungguhan bekerja dengan jujur, pulang dengan kasih, dan hidup dengan arah.
Laki-laki yang bekerja seharusnya tak sekadar kuat menahan lelah, tetapi juga berani menolak hidup yang sekadar lewat. Sebab pada akhirnya, yang dihisab bukan berapa cangkir kopi yang dihabiskan, melainkan apakah tanggung jawab dijalani dengan martabat sebelum benar-benar mati.