18/04/2019
Seksisme
Dalam hidup sehari-hari, seorang perempuan seringkali menerima perlakuan seksis, baik di ruang publik maupun ruang privat. Sewaktu berangkat beraktivitas dengan menggunakan kendaraan umum, seorang perempuan yang mengenakan pakaian minim pasti mendapatkan tatapan tajam dari sekitarnya, baik laki-laki ataupun perempuan.
Sewaktu berada di tempat kerja, perilaku atau celotehan yang mengobjektifikasi perempuan juga seringkali muncul. Sewaktu pulang ke rumah larut malam, gunjingan langsung timbul mempertanyakan kepatutan pergaulan si perempuan di luar sana. Atau sewaktu berolahraga, ditegur karena mengenakan pakaian yang dinilai tidak sopan.
Praktek seksisme ini terjadi begitu seringnya di keseharian kita sehingga lama-lama menjadi norma yang hidup di tengah masyarakat. Menjadi hal normal yang sudah seharusnya diterima begitu saja oleh perempuan.
Apa yang bisa kita lakukan untuk melawannya?
Sebelum melawan suatu hal, ada baiknya kita pahami dulu definisi dan asal-muasal hal tersebut.
Jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, seksisme diartikan sebagai “penggunaan kata atau frasa yang berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual.” Kamus Merriam-Webster juga memiliki definisi seksisme yang jika diterjemahkan secara bebas adalah “prasangka atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, khususnya ”. Selain itu, kamus tersebut juga memahami seksisme sebagai “perilaku, kondisi, atau sikap yang peran-peran sosial berdasarkan jenis kelamin.”
Menurut telaah sejarah, kata “Seksisme” mulai menyebar di tengah-tengah Gerakan Perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Pada saat itu, tokoh-tokoh feminisme menyadari bahwa penindasan perempuan bukan hanya disebabkan oleh laki-laki, melainkan oleh seluruh masyarakat, termasuk perempuan. Setelah periode tersebut, “seksisme” semakin sering digunakan dan berkembang bersamaan dengan gerakan-gerakan keadilan sosial lainnya. Namun pada saat yang sama, para pemikir laki-laki pada saat itu juga seringkali berlaku seksis, meskipun mereka memperjuangkan persamaan ras, hak buruh, dan kaum miskin.
Dalam prakteknya, seksisme bisa dikatakan bekerja seperti diskriminasi ras yang berjalan secara sistematis, mengapa? Karena perlakukan opresif atau diskriminasi yang berjalan atas perempuan tersebut berjalan sehari-hari tanpa ada kesadaran penuh dari para pelakunya.
Secara alamiah, masing-masing dari kita menerima adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kita pun dibesarkan dengan nilai-nilai yang mendefinisikan lebih jauh apa arti perbedaan peran tersebut. Nilai-nilai tersebut kemudian terinternalisasi dan membuat kita bersikap lebih reseptif dan bahkan apologetik jika terjadi hal-hal yang mendiskriminasi atau menempatkan salah satu gender di bawah gender lainnya.
Melawan Seksisme tentu tidak mudah, apalagi jika kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang menjunjung patriarki. Hal paling pertama yang harus kita lakukan untuk melawan Seksisme adalah mengidentifikasi praktek itu sendiri. Identifikasi ini susah apalagi jika sudah ada internalisasi nilai-nilai kultural atau religius yang kita yakini. Hal ini tidak bisa disalahkan karena masing-masing individu tumbuh berkembang dengan susunan nilai masing-masing.
Namun sedari awal, kita bisa melawan Seksisme dengan menerima dan meyakini dua hal. laki-laki dan perempuan itu berbeda dan memiliki tugas dan peran masing-masing. perbedaan tugas dan peran tersebut tidak membuat peran salah satunya lebih penting dari peran lainnya. Jika dua hal tersebut sudah terinternalisasi, maka praktek Seksisme bisa kita lawan, baik di rumah, sekolah, lingkungan kerja, maupun di tengah-tengah masyarakat.
Peran laki-laki di sini juga dengan perempuan dalam melawan Seksisme. Karena bagaimanapun juga, perbaikan posisi dan situasi perempuan di masyarakat akan menguntungkan semua elemen masyarakat.
Mungkin masih banyak yang tidak tahu terkait seksisme. Seksisme adalah bentuk perilaku diskriminatif terhadap gender yang tentunya merupakan perilaku yang tidak baik. Terdengar asing, namun tanpa disadari, banyak orang yang pernah melakukannya.
Gak percaya? Berikut contoh sikap seksisme paling awam dilakukan sehari-hari. Kalau kamu pernah melakukannya, sebaiknya jangan diulang deh.
1. “Cewek lebih cocok jadi ibu rumah tangga aja daripada kerja.”
Jadi cewek gak pantas berkarir gitu?
2. “Kamu gak usah melakukan ini, kamu kan cewek. Nanti gak kuat lho.”
Jadi, karena dia cewek, berarti dia lemah gitu? Gagal paham.
3. “Ih cowok kok nangis?!”
Seksisme gak cuma mendiskriminasi perempuan lho, laki-laki juga kerap jadi korban.
4. “Kamu enak jadi cewek. Gak usah ribet cari duit, tinggal cari suami yang mapan aja.”
5. “Jangan s**a pulang malem. Kamu kan perempuan, gak patut.”
6. “Bro, ngapain pake payung? Gak jantan amat.”
Sejak kapan kejantanan diukur dari barang yang digunakan ya?
7. “Ih malu-maluin banget, masa disetirin cewek!”
8. “Jangan s**a ngelawan pacar kamu. Dia kan cowok.”
Rasa hormat kan tidak melihat gender.
9. “Satu Pabrik, cabang dimana-mana” yang ditujukan pada objektifikasi pada perempuan dan istilah serupa itu.
10. Masa cowok kalah sama cewek.”
11. Ngapain sih mba sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ngurus anak.”
Mungkin sudah saatnya kita gak melihat seseorang dari jenis kelaminnya. Karena pada kenyataannya, menilai seseorang secara seksis sangat tidak masuk akal dan diskriminatif.
Setiap orang kan punya derajat yang sama, alhasil mereka juga punya kebebasan yang sama. Kalau jenis kelamin kamu jadikan tolak ukur dalam menilai seseorang, yang ada kamu tidak akan memperlakukan setiap orang secara adil. Manusia berakal akan memperlakukan manusia lain dengan setara,
Perempuan bukan objek! (AVD)