17/02/2019
TUMBUH MENJAMURNYA USTADZ-USTADZ ABAL-ABAL
Oleh: Saiful Huda Ems (SHE).
Semenjak Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 yang lalu telah tumbuh menjamur ustadz-ustadz abal-abal di berbagai tempat, dari mulai DKI Jakarta hingga di pelosok-pelosok daerah. Ada pegawai pizza di Jakarta misalnya, tiba-tiba mengaku-ngaku sebagai pengacara dan jadi ustadz dadakan. Di Surabaya ada mantan penjual obat --bahkan menurut pengakuannya sendiri ia mantan maling-- yang tidak memahami Islam, tiba-tiba jadi ustadz dan minta dipanggil Gus. Celakanya, mereka-mereka ini dipuja oleh banyak orang dan memiliki pengikut-pengikut yang fanatik. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Dari pengamatan saya setidak-tidaknya ada beberapa penyebab yang memunculkan fenomena baru tumbuh menjamurnya ustadz abal-abal ini, dan yang semakin hari semakin terasa meresahkan banyak kalangan, bukan hanya dari kalangan orang-orang di luar Islam, melainkan sangat meresahkan orang-orang Islam itu sendiri. Penyebab dari semua itu jika saya rumuskan antara lain adalah karena di bawah ini:
Pertama, mereka ini bermunculan karena memang sengaja diciptakan oleh politisi-politisi oportunis pragmatis yang ingin menciptakan kegaduhan nasional. Orang-orang ini sangat menyadari, bahwa jika Pilpres dilaksanakan secara jujur, adil dan damai, maka mereka akan kalah telak. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak mempunyai track record politik yang baik, minim prestasi dan tidak memiliki jaringan politik yang luas. Oleh sebab itu mereka ingin menciptakan Pilpres yang abnormal, yang didahului dengan penyebaran hoax serta meradikalisasi massa dengan menerjunkan ustadz-ustadz abal-abalnya untuk memprovokasi massa dari berbagai penjuru mata angin. Isu Agama, Komunisme dan sentimen ras dijadikannya sebagai bahan provokasinya yang tak mengenal waktu. Melalui cara ini, mereka berharap Indonesia akan rusuh, hingga masyarakat digiringnya untuk berharap munculnya presiden baru.
Kedua, fenomena tumbuh menjamurnya ustadz abal-abal juga tidak lepas dari peran media massa khususnya media-media online yang terus menerus mengekspos sepak terjang mereka, serta memberinya predikat pada orang-orang yang bermasalah itu sebagai ustadz padahal sejatinya preman atau provokator-provokator. Ceramah-ceramah ustadz-ustadz abal-abal itu kemudian mereka benturkan dengan ceramah-ceramah dari para alim ulama yang sejatinya lebih memahami ilmu-ilmu Islam. Pada masyarakat yang minim wawasan Islam dan cenderung tidak mengerti peta politik yang sesungguhnya, tentu saja sangat mudah tergiring oleh opini-opini yang provokatif dan menawarkan perubahan-perubahan yang seolah-olah bisa dilakukan dengan sekejap mata. Cermati saja, opini-opini yang dibangun oleh pasangan capres-cawapres kubu Prabowo-Sandi, sedikit-sedikit menebarkan janji perubahan yang sangat instan dan irasional.
3. Diakui atau tidak, banyak tenaga pengajar baik itu guru maupun dosen-dosen di sekolah maupun perguruan tinggi yang belajar Islam tidak melalui pendidikan pesantren yang kerap melakukan kajian-kajian keislaman dengan lebih serius dan membedah kitab-kitab yang sarat nuansa keilmuan tingkat tinggi, yang tercipta dari ulama-ulama salaf tingkat dunia, tetapi mereka belajar Ilmu Islam hanya dari buku-buku tak berbobot, bahkan belajar hanya melalui searching google dan tidak memiliki jam terbang tinggi dalam diskusi lintas agama dan keyakinan, tentu saja membuat pemikiran mereka serba terbatas dan cenderung konservatif. Orang-orang seperti demikian akhirnya sangat gagap dalam mencermati dan merespon dinamika pemikiran Islam. Yang terjadi kemudian mereka gampang menuduh si fulan itu liberal, si fulan itu bid'ah, si fulan itu antek Syiah, si fulan itu munafik, kafir dlsb. Dan karena mereka ini dianggap sebagai orang-orang terdidik, apalagi yang sudah bergelar doktor dan profesor, maka ucapan-ucapan mereka mendapatkan tempat di jagat pemikiran orang-orang awam, hingga turut menumbuh suburkan fantisme buta pada agamanya, dan yang kemudian dari situlah tumbuh subur ustadz-ustadz dadakan alias abal-abal itu.
Dari ketiga hal penyebab munculnya fenomena ustadz-ustadz abal-abal yang saya jelaskan di atas, mudah-mudahan kita semua menjadi lebih mengerti dan faham bagaimana kita menghadapinya. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah kecuali pada penggerak-penggeraknya yang harus dimintai pertanggung jawaban di depan hukum. Sedangkan pada para pengikut butanya, tidak ada cara lain bagi kita untuk menghadapinya kecuali melalui pencerahan demi pencerahan. Bagaimana dengan kalian, siap?!...(SHE).
Jakarta, 17 Februari 2019.
Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.